gop-crypto.vip

Pelaku UMKM di Banyumas berharap BGN memperkuat peran UMKM dalam Program MBG

Pelaku UMKM di Banyumas berharap BGN memperkuat peran UMKM dalam Program MBG

Senin, 27 Juli 2026 15:56 WIB

Image Print

Salah seorang pelaku UMKM di Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Aji Wicaksono menunjukkan pisang yang akan dipasok ke dapur SPPG untuk kebutuhan menu Program MBG. ANTARA/Dokumentasi Pribadi

Banyumas (ANTARA) - Salah seorang pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Karanggintung, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Aji Wicaksono mengharapkan kepemimpinan baru Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat keterlibatan UMKM sebagai pemasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Aji di Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Senin, mengaku mulai memasok roti untuk kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sejak Januari 2026.

Pada awalnya, kata dia, usaha tersebut menyuplai roti ke tujuh dapur SPPG selama sekitar tiga bulan sebelum kebijakan penyediaan roti berubah setelah Lebaran.

"Yang paling intens waktu kami menyuplai roti mulai Januari. Hampir setiap minggu ada pesanan dari sekitar tujuh dapur," katanya.

Ia mengatakan setelah pasokan roti isi untuk menu MBG dihentikan, usahanya beralih memasok pisang dan buah-buahan lainnya.

Saat ini pasokan dilakukan untuk dua dapur SPPG meskipun sebelumnya sempat melayani lima dapur, dengan volume sekitar 950 hingga 1.700 buah pisang per dapur dalam setiap pengiriman.

Ia mengharapkan Kepala BGN Sudaryono menata kembali mekanisme pengadaan di dapur SPPG agar memberikan kesempatan yang lebih luas kepada UMKM sebagai pemasok seperti yang pernah disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Berdasarkan pengalaman selama memasok roti, kata dia, harga yang diminta dapur SPPG dari pelaku UMKM sekitar Rp2.000 per buah atau di bawah harga acuan dalam petunjuk teknis yang sebesar Rp3.000 per buah.

Bahkan, lanjut dia, terdapat dapur yang meminta harga roti yang dipasok pelaku UMKM hanya sekitar Rp1.600 per buah.

Lebih lanjut, dia mengatakan roti isi seperti roti cokelat dan roti pisang kini tidak lagi dipasok oleh UMKM setelah adanya perubahan kebijakan.

Menurut dia, roti tawar dan roti untuk burger masih digunakan dalam Program MBG, namun kebutuhan tersebut lebih banyak dipenuhi oleh produsen berskala besar.

"Harapannya UMKM juga diberi kesempatan memasok roti tawar maupun roti untuk burger, sehingga pelaku usaha kecil yang sudah berinvestasi pada peralatan produksi tetap bisa memperoleh pasar," katanya.

Sebelum kebijakan pasokan roti berubah, kata dia, banyak pelaku UMKM telah berinvestasi membeli peralatan produksi, bahkan sebagian menggunakan pinjaman perbankan karena tingginya permintaan dari Program MBG.

Selain itu, dia juga mengharapkan BGN melakukan pembenahan tata kelola pengadaan di dapur SPPG agar proses kemitraan berjalan lebih transparan dan sesuai ketentuan, sehingga tujuan Program MBG untuk memberdayakan UMKM dapat terwujud secara optimal.

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.