gop-crypto.vip

PDIP: Ibarat Orang Haus Minum Air Laut, Begitulah Jokowi

Rabu, 05 Agustus 2026, 04:20 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kembali melontarkan kritik terhadap aktivitas politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Ia dinilai telah menunjukkan kembali hasrat kekuasaannya usai tak menjabat lagi sebagai presiden dari Indonesia.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Mohamad Guntur Romli menilai mantan kepala negara tersebut masih menikmati berbagai simbol kekuasaan meski telah menyelesaikan masa jabatannya sebagai presiden. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ia masih berupaya mempertahankan simbol-simbol kebesaran politik.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Ngamuk, Cimahi Banjir Penjual Tramadol Padahal Wali Kotanya Pensiunan TNI

"Fenomena ini bukan sekali dua kali. Jokowi masih doyan main raja-rajaan karena nafsu kekuasaannya tidak pernah benar-benar padam," ujar Guntur, dikutip Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, banyak hal yang bisa disoroti, termasuk prosesi pemberian gelar adat yang pernah diterima Jokowi di Lampung. Menurut Guntur, prosesi tersebut menuai sorotan karena memperlihatkan mantan presiden itu menginjak kepala kerbau, sesuatu yang menurutnya tidak sesuai dengan tata cara adat yang berlaku.

"Sebelumnya di Lampung dianugerahi gelar oleh orang-orang yang bermasalah dari sisi hukum, sambil dengan sombong menginjak kepala kerbau," katanya.

Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi adat yang diketahuinya, prosesi tersebut hanya dilakukan dengan menyentuhkan kaki ke kepala kerbau sebagai simbol pemindahan sifat buruk, bukan menginjaknya.

"Padahal kalau di adat aslinya hanya menyentuh kaki ke kepala kerbau untuk mentransfer sifat buruk ke binatang. Bukan seperti gaya dia yang dengan pongah menginjak kepala kerbau. Ibarat orang haus minum air laut, begitulah dahaga dia akan kekuasaan yang tak pernah terpuaskan," ujarnya.

Selain itu, ia menilai berbagai kegiatan safari politik politikus itu ke sejumlah daerah merupakan bagian dari upaya menjaga pengaruh politik pasca tidak lagi menjabat sebagai presiden. Menurutnya, simbol-simbol kehormatan yang diterima dapat dimanfaatkan sebagai modal politik jangka panjang oleh Jokowi.

"Popularitas yang dirawat lewat simbol-simbol kerajaan dan sambutan adat yang dimanipulasi melalui media dan media sosial adalah modal politik pribadi yang disimpan untuk kepentingan jangka panjang Jokowi dan kelompoknya," katanya.

Setelah memperoleh gelar adat di Lampung pada Juni lalu, Presiden ke-5 RI Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan menerima penobatan sebagai "Raja Timur" dari masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebelumnya,  Jokowi menerima gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" di Bandar Lampung. Dalam prosesi tersebut, ia mengikuti sejumlah ritual adat, termasuk menginjak kepala kerbau sebagai bagian dari rangkaian pemberian gelar kehormatan.

Sultan Seghayo Dipuncak Nur, Mawardi Harirama, menjelaskan bahwa gelar tersebut merupakan keputusan para penyimbang adat sebagai bentuk penghargaan kepada politikus itu yang pernah memimpin negara ini selama dua periode.

Baca Juga: Di Balik Ngototnya Dokter Tifa-Roy Suryo Ragukan Ijazah Jokowi Asli, Binsar Gultom: Apa Kerugiannya?

Terbaru, Jokowi dinobatkan sebagai Raja Timur di Karnaval Budaya di Kelurahan Lai-Lai Besi Kopan (LLBK), Kota Kupang, Sabtu (1/8/2026).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar