PBB Peringatkan Lebih dari 650 Ribu Pengungsi di Sudan Selatan Hadapi Krisis Bantuan
Bagikan:
JAKARTA - Lebih dari 650.000 pengungsi dan pencari suaka di Sudan Selatan berisiko kehilangan akses terhadap bantuan pangan, gizi, dan bantuan penting lainnya akibat kekurangan dana yang kritis.
Hal ini membuat keluarga-keluarga yang telah melarikan diri dari perang dan kelaparan tidak memiliki tempat lain untuk mencari pertolongan, demikian peringatan yang disampaikan pada Hari Jumat oleh UNHCR (badan PBB untuk urusan pengungsi) dan Program Pangan Dunia PBB (WFP).
Kedua badan PBB tersebut menyatakan dalam pernyataan bersama bahwa tanpa pendanaan yang segera dan mendesak, bantuan pangan dan gizi terakhir bagi 240.000 pengungsi yang paling rentan di seluruh negeri hanya akan dapat disalurkan pada bulan September.
"Bagi ratusan ribu keluarga pengungsi, dampak terhentinya bantuan penting ini akan terasa seketika dan berdampak jangka panjang, termasuk meningkatnya risiko malnutrisi, eksploitasi, serta kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Hal yang menjadi perhatian khusus UNHCR adalah risiko meningkatnya pergerakan lintas batas saat orang-orang mencari makanan dan bantuan," bunyi pernyataan tersebut, dikutip dari Anadolu (14/8).
Peringatan ini muncul di tengah konflik yang terus berlangsung di kawasan tersebut, yang memaksa penduduk melarikan diri ke negara-negara tetangga demi mencari makanan, tempat berlindung, dan keselamatan.
Di Sudan Selatan, hingga 3.000 pengungsi dan warga yang kembali (returnee) terus berdatangan dari Sudan setiap minggunya, sehingga semakin membebani sumber daya kemanusiaan yang sudah sangat terbatas.
"Kami menyaksikan dampak buruk dari konflik yang memaksa orang meninggalkan rumah mereka, yang kini berbenturan dengan kekurangan sumber daya parah yang semakin memperburuk krisis ini," ujar Wakil Direktur WFP untuk Sudan Selatan Adham Effendi.
"Dukungan mendesak untuk menyelamatkan nyawa dan penghidupan sangatlah penting," tambah Effendi.
Menurut pernyataan tersebut, WFP menghadapi kekurangan dana mendesak sebesar 37 juta dolar AS untuk program penanganan pengungsi dan kekurangan dana keseluruhan sebesar 258 juta dolar AS untuk sisa tahun 2026, yang mengancam keberlangsungan dukungan penting bagi 4,2 juta orang yang mengalami kerawanan pangan di seluruh negeri.
Sementara itu, UNHCR baru memperoleh 28 persen dari dana sebesar 286 juta dolar AS yang dibutuhkan tahun ini untuk mempertahankan perlindungan dan bantuan dasar bagi hampir empat juta pengungsi, orang yang mengungsi di dalam negeri (IDP), warga yang kembali, serta masyarakat setempat yang rentan.
BACA JUGA:
"Setiap minggu, ribuan pengungsi dan orang yang kembali (returnee) terus berdatangan dari Sudan dengan tangan hampa; banyak di antara mereka yang kelelahan, kelaparan, serta sangat membutuhkan perlindungan dan bantuan," ujar Wakil Perwakilan UNHCR di Sudan Selatan Mesfin Degefu.
Diketahui, Sudan Selatan terus mempertahankan kebijakan pintu terbuka bagi para pengungsi meskipun negara itu sendiri menghadapi tantangan kemanusiaan dan pembangunan yang signifikan.
Lebih dari 1,4 juta pengungsi dan orang yang kembali telah memasuki Sudan Selatan sejak perang meletus di Sudan pada tahun 2023.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+