gop-crypto.vip

Pasar Kerja AS Melemah, 23.000 Pekerjaan Hilang pada Juli

Bagikan:

JAKARTA - Pasar tenaga kerja Amerika Serikat melemah pada Juli. Ekonomi negara itu kehilangan 23.000 pekerjaan, padahal pasar memperkirakan penambahan 85.000.

Anadolu Agency dikutip Sabtu, 8 Agustus, melaporkan, berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS atau BLS yang dirilis Jumat, jumlah pekerjaan nonpertanian turun 23.000 pada Juli.

Pekerjaan nonpertanian adalah jumlah pekerjaan di luar sektor pertanian.

Meski jumlah pekerjaan berkurang, tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,1 persen dari 4,2 persen pada Juni. Jumlah penganggur tercatat 6,9 juta orang.

Tingkat partisipasi angkatan kerja relatif tidak berubah di 61,4 persen. Namun, angkanya telah turun 0,7 poin persentase sejak Januari.

Penurunan pekerjaan terbesar terjadi di sektor pendidikan pemerintah daerah yang kehilangan 50.000 pekerjaan.

BACA JUGA:


Sektor perdagangan ritel berkurang 19.000 pekerjaan, sedangkan sektor keuangan kehilangan 14.000.

Sektor kesehatan bergerak sebaliknya dengan menambah 22.000 pekerjaan. Namun, angka itu masih di bawah rata-rata penambahan bulanan sebanyak 36.000 pekerjaan selama setahun sebelumnya.

Dari sisi upah, rata-rata pendapatan per jam naik 2 sen menjadi 37,62 dolar AS. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, upah meningkat 3,2 persen.

Rata-rata jam kerja mingguan tetap 34,3 jam.

Pelemahan pasar kerja juga terlihat dari revisi tajam terhadap data dua bulan sebelumnya.

BLS memangkas angka penambahan pekerjaan pada Mei menjadi 63.000 dari laporan sebelumnya sebanyak 129.000. Data Juni juga direvisi turun menjadi 20.000 dari sebelumnya 57.000.

Dengan revisi tersebut, ekonomi AS ternyata menambah 103.000 pekerjaan lebih sedikit pada Mei dan Juni dibandingkan yang dilaporkan sebelumnya.

Data tenaga kerja itu muncul setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5-3,75 persen pada Juli.

Laporan ketenagakerjaan yang lemah dapat memperkuat alasan bagi The Fed untuk mempertimbangkan suku bunga yang lebih rendah. Bank sentral AS itu mempertimbangkan kondisi pasar tenaga kerja bersama inflasi dalam menentukan kebijakan moneternya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+