gop-crypto.vip

Papua Tengah pastikan guru Mapega aktif mengajar di wilayah 3T - ANTARA News Papua Tengah

Nabire (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Papua Tengah memastikan guru program Majukan Pendidikan Gratis Anak (Mapega) aktif mengajar di sekolah wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui penguatan kapasitas serta evaluasi pelaksanaan tugas.

Kepala Bidang Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Papua Tengah Yulianus Kuayo di Nabire, Sabtu, mengatakan penguatan kapasitas menjadi bagian dari upaya memastikan 500 guru Mapega yang direkrut Pemprov benar-benar menjalankan kewajibannya di sekolah.

“Penguatan kapasitas guru Mapega dilakukan di tujuh kabupaten secara bertahap, penguatan ini agar setelah diterjunkan ke daerah 3T mereka bisa terus aktif mengajar,” katanya.

Ia mengatakan, gelombang pertama penguatan kapasitas guru Mapega dilakukan di Nabire pada 17-19 September 2026 dengan peserta guru daerah 3T yang bertugas di Kabupaten Nabire. Kegiatan serupa selanjutnya dilaksanakan di enam kabupaten lainnya.

Ia menjelaskan, peserta diminta membawa laporan aktivitas proses belajar mengajar selama Juli-Agustus 2026 sebagai bahan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas selama berada di sekolah penempatan.

Selain memeriksa aktivitas mengajar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga melakukan validasi data guru untuk memastikan penugasan sesuai dengan sekolah yang tercantum dalam surat keputusan.

Menurutnya, evaluasi masih menemukan guru yang memiliki status pengabdian di sekolah lain atau berpindah-pindah sekolah sehingga kondisi tersebut perlu diverifikasi sebelum penugasan berikutnya ditetapkan.

“Yang aktif sesuai SK akan kami perpanjang otomatis. Yang aktif tetapi pindah-pindah sekolah dan dobel status dapat ikut seleksi ulang bersama guru-guru baru yang akan kami seleksi,” ujarnya.

Ia mengatakan, penguatan kapasitas juga diperlukan karena kondisi sekolah di wilayah 3T masih menghadapi kekurangan maupun kekosongan guru akibat berbagai faktor.

Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi situasi keamanan, akses transportasi yang sulit, perpindahan guru ke kota, serta persoalan pengelolaan sekolah yang dapat menyebabkan guru tidak aktif mengajar.

Materi penguatan meliputi arah kebijakan pendidikan Papua Tengah, penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), penyiapan bahan ajar, pendidikan karakter, serta pemahaman petunjuk teknis tenaga Mapega daerah 3T.

Ia berharap keberadaan guru Mapega dapat memastikan anak-anak di wilayah 3T memperoleh hak atas pembelajaran meskipun sekolah berada di daerah dengan keterbatasan tenaga pendidik.

“Dengan kehadiran tenaga Mapega guru daerah 3T akan menjawab kekurangan dan kekosongan guru yang ada di sekolah-sekolah daerah 3T sehingga hak-hak anak untuk mendapatkan pembelajaran dapat terlayani,” katanya.

Menurutnya, peningkatan kehadiran guru dan akses pembelajaran diharapkan turut memperbaiki indikator pendidikan, seperti angka partisipasi kasar (APK), angka partisipasi murni (APM), rata-rata lama sekolah (RLS), dan harapan lama sekolah (HLS).

Perbaikan indikator tersebut pada akhirnya diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM) Papua Tengah.

IPM Papua Tengah pada 2025 tercatat meningkat dari 60,25 pada 2024 menjadi 60,64, yang menunjukkan adanya perkembangan positif dalam pembangunan manusia di provinsi tersebut.

Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor : Evarianus Supar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.