Pakar: Proyeksi Kematian Akibat El Nino Harusnya Jadi Alarm Mitigasi Kesehatan |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Climate Impact Lab memproyeksi sekitar 19.300 kematian akibat panas di Indonesia pada periode El Nino hingga Februari 2027. Angka tersebut dinilai harus menjadi alarm untuk memperkuat mitigasi kesehatan.
Pakar Kebencanaan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan, secara ilmiah terdapat mekanisme yang masuk akal antara El Nino, peningkatan suhu, dan risiko kesehatan. Pasalnya, fenomena tersebut dapat meningkatkan kondisi panas dan kering di sebagian wilayah Indonesia, sementara kombinasi suhu tinggi dan kelembapan dapat menghambat kemampuan tubuh melepaskan panas.
"Tetapi, bukan berarti angka tersebut pasti akan terjadi, karena ini merupakan hasil pemodelan probabilistik yang masih mengandung ketidakpastian," kata dia saat dihubungi Republika, Kamis (24/9/2026).
Daryono mengakui, peningkatan suhu dan kelembapan dapat memberikan tekanan terhadap kemampuan tubuh mengatur panas. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi, heat exhaustion, dan heat stroke, serta memperberat penyakit jantung, pernapasan, dan ginjal.
Karena itu, ia mendorong pemerintah tidak hanya memberikan peringatan mengenai cuaca dan iklim. Informasi mengenai peringatan dini dinilai perlu diterjemahkan menjadi peringatan dini yang memperhitungkan dampak kesehatan di setiap wilayah.
“Pemerintah perlu bergerak dari sekadar peringatan cuaca dan iklim menjadi peringatan dini berbasis dampak kesehatan melalui Heat–Health Early Warning System,” kata dia.
Menurut Daryono, sistem tersebut dapat menggabungkan prakiraan suhu dan kelembapan dengan peta kelompok masyarakat rentan. Dengan pendekatan itu, pemerintah dapat menentukan wilayah prioritas sekaligus menyiapkan langkah perlindungan sebelum kondisi panas ekstrem terjadi.
"Prakiraan suhu dan kelembapan perlu dipadukan dgn peta kelompok rentan untuk menentukan wilayah prioritas, kemudian diikuti tindakan nyata seperti penyesuaian jam kerja luar ruang, penyediaan air dan tempat teduh atau cooling center, kesiapan puskesmas dan rumah sakit, serta perlindungan khusus bagi lansia, anak-anak dan pekerja luar ruang," ujar Daryono.
Ia menilai proyeksi Climate Impact Lab semestinya tidak hanya dilihat dari besarnya angka kematian yang diperkirakan. Informasi tersebut juga dapat digunakan untuk menentukan lokasi dan kelompok masyarakat yang membutuhkan tindakan mitigasi lebih awal.
“Pesan pentingnya bukan semata-mata angka 19 ribu, tetapi bahwa panas ekstrem adalah bahaya kesehatan yang dapat diprediksi, dipetakan, dan banyak dampaknya dapat dicegah apabila tindakan dilakukan sebelum kondisi ekstrem terjadi,” kata dia.
Sebelumnya, Climate Impact Lab memperkirakan 451 ribu kematian selama sembilan bulan pertama El Nino kuat dari Juni 2026 sampai Februari 2027. Kematian terkait panas El Nino akan terkonsentrasi di negara-negara berkembang di dunia belahan selatan atau Global South.
Nigeria diperkirakan akan menjadi negara dengan angka kematian tertinggi dengan 31.400 kematian, disusul Indonesia dengan 19.300 kematian, lalu Sudan dengan 17.500 kematian, India 15.800 kematian, Brasil dengan 13.300 kematian, dan Republik Demokratik Kongo dengan 10 ribu kematian.