"Nanti ke Bayan ya Pak Kadis"
Saya bisa saja menganggap cerita itu sebagai kebetulan sejarah yang indah.
Mataram (ANTARA) - Tentang api, Rinjani, arsip hampir seabad, dan jabat tangan seorang Putri Mahkota Swedia
“Nanti ke Bayan ya, Pak Kadis.”
Saya masih ingat kalimat itu.
Lalu Muhamad Iqbal, Gubernur Nusa Tenggara Barat, menyampaikannya dalam salah satu perbincangan awal setelah saya dilantik menjadi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB.
Pendek sekali.
Saya menjawab, “Siap, Pak Gubernur.”
Padahal sejujurnya saya belum mengerti.
Mengapa Bayan?
Dari begitu luasnya Nusa Tenggara Barat, dari Lombok sampai Sumbawa, dari begitu banyak kampung adat, bahasa, manuskrip, kesenian, ritus, tenun, musik, situs dan jejak peradaban, mengapa Bayan menjadi salah satu tempat pertama yang beliau sebut kepada saya?
Saya tidak bertanya.
Kalimat itu saya simpan.
Belakangan saya belajar bahwa ada pesan yang tidak selesai dijelaskan dengan kata-kata. Kita harus berjalan cukup jauh untuk menemukan artinya.
Dan perjalanan saya ternyata benar-benar menuju Bayan.
Menjadi Dekat dengan Lingkar Rinjani
Sejak menjadi Kepala Dinas Kebudayaan NTB, saya seperti mempunyai hubungan baru dengan Bayan dan kampung-kampung di lingkar Rinjani.
Saya datang ke Bayan. Ke Senaru. Ke Sembalun. Bertemu para pemangku adat, tokoh masyarakat, budayawan, perempuan-perempuan penjaga tradisi, dan orang-orang yang hidup begitu dekat dengan gunung.
Saya mendengar cerita tentang hutan dan mata air. Tentang rumah. Tentang pangan. Tentang ritual. Tentang cara memperlakukan tanah. Tentang hubungan manusia dengan sesama, leluhur, alam dan Tuhan.
Perlahan saya tidak lagi melihat Rinjani hanya sebagai gunung.
Rinjani adalah bentang kebudayaan.
Ia seperti poros besar. Di sekelilingnya manusia selama ratusan tahun membangun cara hidup: membaca musim, mengolah tanah, menjaga air, membangun rumah, menyusun pranata sosial, menjalankan keyakinan dan mewariskan pengetahuan.
Manusia datang dan pergi.
Rinjani tetap berdiri.
Dan kebudayaan menjadi tali yang menyambungkan orang-orang yang telah tiada dengan mereka yang bahkan belum dilahirkan.
Tetapi pelajaran pertama Bayan kepada saya tidak datang melalui sebuah festival.
Ia datang melalui api.
Saya Datang karena Api
Tidak lama setelah pesan Gubernur itu, sebuah rumah adat di Bayan terbakar.
Minggu berikutnya Pak Gubernur mengajak 8o8saya ke sana.
Saya masih mengingat bambu yang menghitam. Atap yang telah menjadi abu. Ruang yang beberapa hari sebelumnya menjadi tempat manusia tidur, makan, bercakap, berdoa dan membesarkan anak-anaknya tiba-tiba tidak lagi ada.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah bangunan yang terbakar.
Tetapi hari itu saya mulai belajar bahwa dalam kebudayaan, sebuah rumah tidak pernah hanya sebuah rumah.
Di dalam rumah adat tersimpan pengetahuan tentang bagaimana kayu dipilih, kapan bambu ditebang, bagaimana atap dibuat, ke mana bangunan menghadap, bagaimana ruang dibagi, siapa mengerjakan apa, serta bagaimana sebuah rumah berhubungan dengan rumah lain, halaman, hutan, sumber air dan tata kehidupan masyarakat.
Tidak semuanya tertulis dalam buku.
Sebagian justru hidup di kepala dan tangan manusia.
Dari seorang ayah kepada anaknya.
Dari seorang ibu kepada putrinya.
Dari seorang tetua kepada generasi berikutnya.
Saya memandang sisa kebakaran itu dan tiba-tiba memahami:
ketika rumah adat terbakar, yang terancam menjadi abu bukan hanya benda. Ingatan juga bisa terbakar.
Hari itu istilah pelindungan kebudayaan memperoleh arti lain bagi saya.
Pelindungan bukan semata nomenklatur program.
Bukan hanya anggaran.
Bukan pula sekadar pasal dalam peraturan.
Pelindungan adalah kesepakatan moral antargenerasi:
ada sesuatu yang kita terima dari orang-orang sebelum kita, dan kita tidak berhak menjadi generasi yang menghilangkannya.
Saya mulai memahami pesan Gubernur.
“Nanti ke Bayan ya, Pak Kadis.”
Saya memang harus ke Bayan.
Bukan untuk melihat masa lalu.
Tetapi untuk belajar bagaimana masa depan harus dijaga.
Lalu Seorang Putri Datang
Beberapa bulan kemudian saya kembali.
Kali ini tidak ada asap.
Tidak ada bau arang.
Bayan kedatangan tamu dari negeri yang sangat jauh dari kaki Rinjani.
Putri Mahkota Victoria dari Swedia.
Tanggal 6 September 2026, saya berada di Bayan bersama Gubernur NTB dan rombongan menyambut kunjungan Sang Putri.
Ada satu momen yang mungkin sangat biasa dalam protokol.
Kami bersalaman.
Saya mengulurkan tangan.
Lalu menjabat erat tangan Putri Mahkota Swedia itu.
Hanya beberapa detik.
Tetapi entah mengapa saya menjabatnya sedikit lebih erat.
Seperti ingin memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapan saya benar-benar seorang putri dari sebuah negeri yang hampir seratus tahun sebelumnya juga pernah mengirim seorang putrinya sampai ke tanah kita.
Swedia.
Pada saat itulah waktu seperti bergerak mundur.
Ke tahun 1928.
Ada Saksi yang Tidak Ikut Menua
Namanya Astrid.
Ia lahir sebagai seorang putri Swedia. Setelah menikah dengan Putra Mahkota Leopold dari Belgia, keduanya melakukan perjalanan panjang ke Hindia Belanda pada 1928–1929.
Perjalanan itu membawa mereka melintasi kepulauan Nusantara.
Termasuk Lombok dan Sumbawa.
Saya bisa saja menganggap cerita itu sebagai kebetulan sejarah yang indah.
Tetapi ada saksi yang membuatnya menjadi lebih dari sekadar cerita.
Saksi itu tidak berbicara.
Tidak mempunyai ingatan seperti manusia.
Tetapi ia menolak lupa.
Namanya arsip.
Di Arsip Nasional Republik Indonesia tersimpan sebuah foto tua.
Hampir seabad usianya.
Keterangan resminya mencatat Putra Mahkota Leopold dan Putri Astrid berkunjung kepada Sultan Sumbawa Muhammad Djalaluddinsyah III pada 1928.
Nomornya bahkan masih dapat kita sebut hari ini:
ANRI, KIT Nusa Tenggara No. 333/066.
Saya lama memikirkan arsip itu.
Orang-orang di dalam foto tersebut hampir semuanya telah tiada.
Astrid telah tiada.
Leopold telah menjadi sejarah.
Sultan Sumbawa yang menerima mereka juga telah lama berpulang.
Zaman mereka pun sudah berakhir.
Tetapi foto itu masih ada.
Arsip menolak melupakan mereka.
Bagi saya yang menghabiskan sebagian besar perjalanan pengabdian sebelum kembali ke NTB di dunia kearsipan, ada sesuatu yang sangat menggetarkan dari kenyataan itu.
Arsip ternyata tidak hanya menyimpan masa lalu.
Kadang-kadang ia menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan masa kini.
Dan pada 6 September 2026, arsip tahun 1928 itu seperti menemukan halaman berikutnya.
Astrid, 1928.
Victoria, 2026.
Hampir seratus tahun.
Dua putri dari Swedia.
Dua zaman.
Dan di antara keduanya terbentang sebuah tanah yang sekarang kita sebut Nusa Tenggara Barat.
Saya Seperti Menjabat Dua Zaman
Saya tentu tahu perempuan yang tangannya saya jabat di Bayan bukan Astrid.
Tetapi sejarah tidak selalu kembali melalui orang yang sama.
Kadang-kadang sejarah kembali melalui sebuah perjumpaan.
Dalam beberapa detik itu, saya seperti menjabat dua zaman sekaligus.
Zaman ketika tanah ini masih berada di bawah Hindia Belanda.
Dan zaman ketika Nusa Tenggara Barat berdiri sebagai bagian dari Republik Indonesia yang merdeka—dengan identitas, kebudayaan dan martabatnya sendiri.
Betapa banyak yang terjadi di antara Astrid dan Victoria.
Penjajahan berakhir.
Indonesia merdeka.
NTB lahir.
Dunia melewati perang.
Kerajaan berganti generasi.
Kapal-kapal panjang digantikan pesawat.
Surat yang dahulu membutuhkan waktu berminggu-minggu menyeberangi benua kini digantikan pesan yang tiba dalam hitungan detik.
Hampir semuanya berubah.
Tetapi ketika tangan itu akhirnya saya lepaskan dan memandang Bayan, saya menyadari sesuatu.
Rinjani masih berdiri.
Hutan Bayan masih menyimpan air.
Masyarakatnya masih menjaga adat.
Rumah tradisional masih menyimpan pengetahuan.
Dan Masjid Kuno Bayan masih menyimpan doa.
Istana Itu Bernama Hutan
Bayan tidak menyambut Putri Victoria dengan istana.
Bayan mempunyai sesuatu yang lain:
hutan adat.
Barangkali itulah istananya.
Pohon-pohon adalah tiangnya.
Langit menjadi atapnya.
Burung-burung menjadi musiknya.
Dan di bawah tanah, akar-akar menjaga sesuatu yang nilainya melampaui emas:
air.
Putri Victoria berjalan di kawasan hutan adat dan Mata Air Mandala. Ia mendengar bagaimana masyarakat menjaga hutan dan sumber air melalui pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.
Masyarakat Bayan mungkin tidak sejak dahulu mengenal istilah sustainability, climate action, atau ecological resilience.
Mereka mempunyai bahasa yang jauh lebih sederhana.
Adat.
Hutan menjaga air.
Air menjaga kehidupan.
Manusia menjaga adat.
Dan adat mengajarkan manusia menjaga hutan.
Lingkarannya selesai.
Di situlah pelestarian menemukan maknanya.
Melestarikan bukan membekukan masa lalu.
Pelestarian adalah membuat nilai terbaik dari masa lalu tetap mempunyai kehidupan di masa depan.
Sebuah Pohon Ditanam
Kemudian Putri Victoria menanam pohon.
Saya memperhatikannya.
Tangan seorang calon Ratu Swedia menyentuh tanah Bayan.
Seketika saya teringat kunjungan pertama saya.
Dulu saya datang dan menemukan sesuatu yang terbakar.
Sekarang saya kembali dan melihat sesuatu yang ditanam.
Api dan tanah.
Abu dan kehidupan.
Kehilangan dan harapan.
Saya tidak tahu apakah sejarah sengaja menyusun simbol-simbolnya seindah itu.
Tetapi Bayan seperti sedang memberikan kuliah kebudayaan kepada saya tanpa satu lembar presentasi pun.
Pohon kecil itu mungkin baru akan mencapai ukuran terbaiknya ketika sebagian dari kami yang berdiri di sana sudah tidak ada.
Bukankah kebudayaan juga seperti itu?
Kita menanam sesuatu yang mungkin tidak sempat kita nikmati sendiri.
Itulah pembinaan dan pengembangan.
Tidak cukup menyelamatkan rumah adat. Kita harus menyelamatkan pengetahuan untuk membangunnya.
Tidak cukup menjaga hutan. Anak-anak harus mengetahui mengapa hutan itu dijaga.
Tidak cukup memamerkan tenun. Harus ada tangan berikutnya yang mampu menenun dan memperoleh kehidupan yang bermartabat darinya.
Tidak cukup mendokumentasikan tradisi. Generasi muda harus memahami nilai yang dikandungnya.
Kebudayaan tidak boleh hidup hanya ketika wisatawan datang.
Ia harus terlebih dahulu hidup di dalam diri pemiliknya.
Masjid yang Tidak Mengejar Langit
Di bentang kebudayaan Bayan berdiri pula Masjid Kuno Bayan Beleq.
Ia tidak menjulang.
Tidak berlapis marmer.
Tidak mempunyai kubah raksasa.
Tidak ada menara yang berlomba mengejar langit.
Ia sederhana.
Tetapi ia mempunyai sesuatu yang tidak dapat dibangun dengan anggaran sebesar apa pun:
waktu.
Berapa generasi telah berdoa di sana?
Berapa anak lahir, tumbuh, menua, kemudian pergi?
Berapa kekuasaan datang dan berganti?
Bangunan itu tetap menjadi saksi.
Di Bayan kita belajar bahwa adat, iman, manusia dan alam tidak harus berdiri saling membelakangi.
Mereka dapat hidup dalam satu bentang kebudayaan.
Di sinilah pemanfaatan kebudayaan harus ditempatkan secara bermartabat.
Warisan tidak cukup menjadi tontonan.
Hutan adat harus memberikan kehidupan kepada masyarakat yang menjaganya.
Tenun harus memberikan kesejahteraan kepada penenunnya.
Rumah adat harus tetap menjadi rumah, bukan sekadar latar foto.
Masjid kuno harus tetap mempunyai jiwa, bukan berubah menjadi benda mati untuk dipertontonkan.
Dunia boleh datang.
Wisatawan boleh datang.
Tetapi masyarakat pemilik kebudayaan harus tetap menjadi tuan rumah, bukan tontonan di rumahnya sendiri.
Dari Bayan ke Stockholm
Karena itu, kunjungan Putri Victoria bagi saya tidak seharusnya berakhir ketika kendaraan rombongan meninggalkan Bayan.
Justru di situlah pemanfaatan dan kerja sama kebudayaan dapat memperoleh kehidupan baru.
Bayan bisa berbicara dengan Stockholm.
Lombok dan Sumbawa dapat menelusuri kembali perjumpaan hampir seabad itu.
Arsip di Indonesia, Swedia, Belgia dan Belanda dapat diteliti bersama.
Foto-foto lama dapat diidentifikasi.
Catatan perjalanan dapat dibaca kembali.
Koleksi museum dapat ditelusuri.
Kita dapat mencari apa yang dilihat Astrid dan Leopoldo di Lombok dan Sumbawa, siapa yang mereka temui, apa yang mereka tulis, dan pengetahuan apa yang mereka bawa pulang.
Pengetahuan masyarakat Bayan tentang hutan dan air dapat berdialog dengan pengetahuan dunia tentang keberlanjutan.
Anak muda Bayan dapat bertemu anak muda Swedia.
Penenun kita dapat membawa kainnya ke Eropa bukan sekadar sebagai komoditas, tetapi sebagai cerita tentang manusia dan peradaban.
Saya bahkan membayangkan suatu hari kita membuat sebuah pameran bersama:
SWEDEN–NTB: A CENTURY OF ENCOUNTERS
1928–2026
Di satu sisi ruang pameran ada foto hitam-putih Astrid.
Ada arsip ANRI tentang kunjungannya bersama Leopold kepada Sultan Sumbawa.
Lalu perjalanan pengunjung bergerak hampir satu abad.
Di ujung ruangan ada foto berwarna tahun 2026.
Putri Mahkota Victoria menanam pohon di Bayan.
Di bawahnya kita mungkin hanya membutuhkan satu kalimat:
“Almost a century later, Sweden returned.”
Hampir satu abad kemudian, Swedia datang kembali.
Sebab diplomasi kebudayaan tidak selalu dimulai dengan penandatanganan dokumen.
Kadang-kadang ia dimulai dari sebuah foto tua.
Sebuah arsip.
Sebuah jabat tangan.
Atau sebuah pohon yang ditanam bersama.
Kita Hanya Mendapat Giliran Menjaga
Ketika akhirnya rombongan meninggalkan Bayan, saya kembali teringat tangan Putri Victoria yang tadi saya jabat.
Tangan itu telah saya lepaskan.
Tetapi sebuah pertanyaan justru tidak dapat saya lepaskan:
Apa yang akan kita tinggalkan seratus tahun dari sekarang?
Astrid meninggalkan jejak dalam arsip.
Victoria meninggalkan sebuah pohon di tanah Bayan.
Seratus tahun lagi pohon itu mungkin telah sangat besar.
Kita yang menyaksikan penanamannya tentu sudah tidak ada.
Saya sudah menjadi nama dalam arsip.
Pak Gubernur telah menjadi bagian dari sejarah NTB.
Putri Victoria pun telah menjadi bagian dari sejarah panjang Kerajaan Swedia.
Tidak apa-apa.
Sebab pekerjaan kebudayaan bukan pekerjaan membuat nama kita hidup selama-lamanya.
Kebudayaan adalah pekerjaan membuat nilai yang kita jaga hidup lebih panjang daripada kita.
Itulah pelindungan: memastikan yang berharga tidak hilang.
Itulah pelestarian: membuat warisan tetap hidup.
Itulah pembinaan: menyiapkan tangan berikutnya untuk menerimanya.
Itulah pengembangan: membuat tradisi cukup kuat untuk bertemu zaman.
Itulah pemanfaatan: memastikan kebudayaan menghadirkan pengetahuan, martabat dan kesejahteraan bagi masyarakat pemiliknya.
Dan itulah kerja sama: menyadari bahwa warisan terbaik umat manusia terlalu berharga untuk dijaga sendirian.
Mungkin itulah sebabnya tanpa sadar saya menjabat tangan Putri Victoria sedikit lebih erat.
Seperti hendak memastikan bahwa sejarah benar-benar telah kembali mengetuk pintu kita.
Sekarang Saya Mengerti
Saya kembali teringat pesan Gubernur pada hari-hari pertama saya menjadi Kepala Dinas Kebudayaan.
“Nanti ke Bayan ya, Pak Kadis.”
Saya menjawab, “Siap.”
Padahal waktu itu saya belum mengerti.
Sekarang saya mengerti.
Saya datang pertama kali dan menemukan abu.
Saya kembali dan menyaksikan sebuah pohon ditanam.
Di antara abu dan pohon itu; di antara hutan dan mata air; di antara rumah adat dan masjid tua; di antara Rinjani yang diam dan manusia yang terus berganti; serta di antara dua putri Swedia yang dipisahkan hampir satu abad, saya menemukan arti pekerjaan kebudayaan.
Kita bukan pemilik masa lalu.
Kita juga bukan pemilik mutlak warisan yang berada di tangan kita hari ini.
Kita hanyalah satu generasi yang mendapat giliran sebentar untuk menjaganya.
Lalu kita harus menyerahkannya kepada tangan berikutnya.
Semoga dalam keadaan lebih baik.
Lebih hidup.
Lebih bermartabat.
Dan lebih bermanfaat.
Seratus tahun dari sekarang, semoga pohon yang ditanam Putri Victoria masih berdiri.
Semoga Hutan Bayan masih hijau.
Semoga mata airnya masih mengalir.
Semoga rumah adat masih dihuni.
Semoga Masjid Kuno Bayan masih menyimpan doa.
Semoga anak-anak masih mengetahui cerita leluhurnya.
Dan semoga arsip hari ini masih tersimpan.
Foto Sang Putri menanam pohon.
Foto ketika kami menyambutnya.
Catatan perjalanannya ke Bayan.
Dan mungkin tulisan sederhana ini.
Seperti arsip 1928 yang hari ini memungkinkan kita menemukan kembali jejak Astrid, arsip 2026 mungkin suatu hari akan dibuka oleh seseorang yang bahkan belum dilahirkan.
Ia akan melihat dua gambar.
Astrid, 1928.
Victoria, 2026.
Lalu ia mungkin memahami:
sejarah bukan hanya apa yang pernah terjadi. Sejarah adalah apa yang kita pilih untuk tidak dilupakan.
Dan apabila tulisan dari sebuah pulau jauh ini suatu hari sampai ke tangan Yang Mulia Putri Victoria di Stockholm, saya ingin menitipkan satu kalimat:
Your Royal Highness, almost a century ago, a Swedish-born princess came to our islands. In 2026, you came again and planted a tree in the soil of Bayan. One day, all of us who stood there will be gone. But we hope that tree will still be growing.
Karena pada akhirnya kebudayaan mungkin sesederhana itu.
Menjaga sesuatu yang tidak boleh hilang, lalu menyerahkannya kepada orang-orang yang belum kita kenal.
Dari Bayan saya akhirnya memahami satu hal:
untuk mendunia, kita tidak perlu mencabut akar.
Justru akar itu harus kita lindungi dan pelihara sedalam-dalamnya agar pohonnya tumbuh tinggi, generasi berikutnya dapat berteduh di bawahnya, dan cabang-cabangnya kelak menjangkau dunia.
* Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat
COPYRIGHT © ANTARA 2026