gop-crypto.vip

Musa Serang, nelayan wisata dugong bangga anaknya masuk TNI AD

Musa Serang, nelayan wisata dugong bangga anaknya masuk TNI AD

Sabtu, 17 Oktober 2026 14:43 WIB

Image Print

Musa Serang (56) berdiri di dekat perahunya sebelum mengantar wisatawan menyaksikan dugong bernama Mawar di Pantai Mali, Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). (ANTARA/Kornelis Kaha)

Kupang (ANTARA) - Terik sang surya yang menyengat Pantai Mali, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjelang siang hari itu tak menyurutkan semangat Musa Serang (56) mengantar wisatawan yang ingin menyaksikan mamalia laut dugong bernama Mawar.

Berdiri di perairan dangkal dengan air laut sebatas betis, Musa tersenyum lebar di samping perahu kayunya. Ia mengenakan kaus berkerah abu-abu muda dengan bagian lengan dan kerah berwarna lebih gelap, dipadukan dengan celana pendek longgar berwarna gelap.

Rambutnya yang mulai memutih di bagian tepi, kumis tipis, dan garis-garis kerutan di wajahnya memperlihatkan perjalanan hidup seorang pekerja yang bertahun-tahun akrab dengan terik matahari.

Di samping perahu bercat kuning, putih, dan biru kehijauan itu, Musa tampak menyatu dengan lanskap Pantai Mali. Kulitnya yang gelap terbakar matahari, tangannya yang kekar, serta senyumnya menggambarkan ketekunan seorang pekerja yang menemukan harapan baru di laut.

Perahu sederhana yang dilengkapi atap pelindung dari terpal gelap dan cadik di kedua sisinya itu menjadi saksi perubahan hidupnya, dari seorang sopir truk menjadi pengantar wisatawan yang mampu membiayai pendidikan anak-anaknya.

Bagi sebagian orang, perahu tersebut mungkin hanya alat transportasi. Namun, bagi Musa, perahu itu merupakan modal usaha sekaligus tumpuan harapan untuk membesarkan lima anaknya.

Sejak 2019, laut di Pantai Mali menjadi tempat Musa menggantungkan hidup. Setiap hari, ia mengantar wisatawan menuju perairan tempat Mawar kerap terlihat.

Di tengah hamparan laut biru kehijauan dan garis pegunungan yang membentang di kejauhan, Musa menjalani profesi yang mengubah kehidupan ekonomi keluarganya.

Sebelum menjadi pengantar wisatawan, Musa bekerja sebagai sopir truk. Setelah memutuskan berhenti, ia mencoba peluang baru di sektor pariwisata dengan membuat perahu sendiri untuk melayani wisatawan yang datang ke Pantai Mali.

Keputusan itu membawa hasil yang cukup menjanjikan. Dari jasa mengantar wisatawan, Musa mengaku memperoleh keuntungan sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta per bulan.

"Lebih untung di kerjaan yang sekarang daripada waktu menjadi sopir truk," ceritanya.

Pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya. Salah satu kebanggaan terbesarnya adalah keberhasilan mendidik salah seorang anaknya hingga lulus menjadi anggota TNI Angkatan Darat.

Bagi Musa, pencapaian itu menjadi bukti bahwa kerja keras di tengah keterbatasan mampu membuka jalan bagi masa depan anak. Di balik senyumnya ketika menyambut wisatawan, tersimpan tanggung jawab seorang ayah yang terus berjuang agar kebutuhan keluarga terpenuhi dan anak-anaknya dapat meraih cita-cita.

Musa tidak sendirian menggerakkan wisata pengamatan dugong di Pantai Mali. Saat ini, terdapat sekitar sembilan perahu yang dioperasikan oleh dirinya bersama rekan-rekannya. Mereka bergantian mengangkut wisatawan yang ingin menyaksikan mamalia laut tersebut di habitatnya.

Dugong bernama Mawar terlihat di dekat kapal wisatawan di Pantai Mali, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. (ANTARA/HO-WWF Indonesia)

Pada pukul 10.30 WITA, ketika matahari terasa menyengat dan suhu udara mencapai sekitar 34 derajat Celsius, sekitar lima perahu terlihat membawa wisatawan menuju perairan Pantai Mali. Aktivitas itu menunjukkan bagaimana keberadaan Mawar turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Tarif jasa perahu untuk wisata pengamatan dugong ditetapkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Alor. Setiap wisatawan lokal dikenakan tarif Rp100.000, wisatawan dari luar Alor Rp150.000, sedangkan wisatawan mancanegara membayar Rp200.000.

Ketentuan tersebut menjadi acuan bagi para pengantar wisatawan yang mengoperasikan perahu di kawasan itu. Mereka melayani pengunjung secara bergantian sesuai dengan kedatangan wisatawan.

"Sebelum ada ketentuan tarif, kami kasih patokan harga suka-suka kami," ceritanya.

Bagi Musa dan rekan-rekannya, kunjungan wisatawan bukan sekadar kesempatan memperkenalkan kekayaan laut Alor. Aktivitas tersebut juga menjadi sumber penghasilan yang memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan keluarga tanpa harus meninggalkan kampung halaman.

Di sela-sela pekerjaannya, Musa terkadang ditemani anak bungsunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Kehadiran sang anak menjadi pemandangan tersendiri ketika ia menjalani rutinitas di pantai. Dari dekat, anak itu dapat menyaksikan bagaimana ayahnya bekerja keras di bawah terik matahari demi menghidupi keluarga.

Musa mengaku berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Alor yang telah membuka dan mengembangkan destinasi wisata pengamatan dugong di Pantai Mali. Menurut dia, keberadaan destinasi tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan dari potensi wisata daerah.

Harapannya sederhana, wisatawan terus berdatangan agar usaha perahu yang dijalankannya bersama rekan-rekan dapat bertahan dan terus memberikan manfaat bagi keluarga mereka.

Bagi Musa, setiap perjalanan menuju perairan tempat Mawar berada bukan hanya tentang mengantar wisatawan menikmati keindahan alam. Di baliknya, ada perjuangan seorang ayah untuk memastikan anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.

Di bawah terik matahari Pantai Mali, Musa terus bekerja. Laut yang terbentang di hadapannya bukan sekadar hamparan air, melainkan ruang tempat ia merawat harapan, membesarkan keluarga, dan membuktikan bahwa kerja keras dapat mengubah kehidupan.

Potensi wisata Alor

Pulau Alor merupakan salah satu daerah di NTT yang memiliki kekayaan alam dan budaya. Wisata bahari menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pulau ini memiliki sejumlah lokasi penyelaman yang menarik perhatian para pecinta wisata bawah laut, antara lain Half Moon Bay dan Crocodile Rock. Selain keindahan bawah laut, Alor juga memiliki wisata budaya yang masih dijaga hingga kini.

Wisata pengamatan dugong di Pantai Mali menjadi salah satu destinasi yang kerap dikunjungi wisatawan. Bagi sebagian pengunjung, perjalanan ke Alor terasa belum lengkap tanpa menyaksikan mamalia laut tersebut di habitat alaminya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Alor Muhammad Baesaku mengatakan, untuk mendukung wisata pengamatan dugong, pemerintah bekerja sama dengan kelompok nelayan setempat dalam mengatur jumlah kapal yang melayani wisatawan.

"Kita tidak ingin ada saling rebutan jadi kita buat semacam jadwal kalau ada yang sudah dapat maka, bergantian dengan yang lain," ujar dia.

Menurut Baesaku, pemerintah daerah terus melakukan berbagai upaya untuk mempromosikan pariwisata Alor, baik melalui media sosial, media arus utama, maupun penyelenggaraan berbagai festival.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Musa Serang, nelayan wisata dugong yang bangga anaknya masuk TNI AD

Oleh Kornelis Kaha
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.