gop-crypto.vip

Migas Diprediksi Masih Dominasi Energi Dunia hingga 2050

Lukman Nur Hakim Akurat.co

| 13 September 2026, 19:23 WIB

Migas Diprediksi Masih Dominasi Energi Dunia hingga 2050

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman - AKURAT.CO/Lukman Nur Hakim

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus melakukan berbagai langkah strategis guna mendorong penguatan ketahanan energi nasional sekaligus memacu transisi energi baru terbarukan (EBT).

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman memaparkan, prognosa bauran energi global berdasarkan studi ExxonMobil, di mana pada tahun 2050 porsi migas diproyeksikan masih mendominasi bauran energi dunia sebesar 55% dalam skenario business as usual.

Bahkan, kata Laode dalam skenario ketat International Energy Agency (IEA), porsi migas diperkirakan masih mencapai 45%.

Baca Juga: BLU Energi Masih Dikaji, Kementerian ESDM Pastikan PLN EPI Tetap Berjalan

“Migas sekarang masih memegang posisi terbesar, sehingga kita membutuhkan upaya ekstra untuk memberikan penyeimbangan agar ke depan energi terbarukan dapat meningkat,” kata Laode dikutip dari laman Ditjen Migas, Minggu (13/9/2026).

Laode menekankan pentingnya menyelaraskan pemahaman terkait posisi energi fosil dan EBT dalam bauran energi nasional.

Menurutnya, kedua sektor ini saling melengkapi dan tidak bersaing. Sektor migas hingga saat ini masih memiliki peran strategis yang tidak bisa digantikan oleh EBT.

Selain itu, migas juga berkontribusi besar terhadap penerimaan negara, ketahanan fiskal, stabilitas politik melalui kebijakan subsidi energi, serta posisi tawar ekonomi Indonesia di tingkat global.

“Sering terjadi dikotomi antara fosil dan renewable. Sesungguhnya renewable dan fosil itu harus saling mengisi, bukan saling meniadakan. Hingga saat ini, terdapat fungsi strategis minyak dan gas bumi yang tidak dapat digantikan oleh EBT, seperti minyak bumi selain menjadi sumber energi transportasi, juga merupakan bahan baku utama industri petrokimia yang menghasilkan polimer, plastik, karet sintetis, hingga peralatan medis,” ujarnya.

Baca Juga: Kementerian ESDM Tawarkan Lebih dari 100 Blok Migas RI ke Investor Rusia

Meski demikian, Laode mengakui migas memiliki dua keterbatasan utama, yaitu keterbatasan volume dan emisi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, percepatan EBT dan program transisi energi harus terus didorong secara ekstra.