Menkes: 46,9 persen peserta CKG yang hipertensi terkontrol kondisinya
Menkes: 46,9 persen peserta CKG yang hipertensi terkontrol kondisinya
Kamis, 16 Juli 2026 19:53 WIB
Petugas kesehatan memeriksa tekanan darah warga saat cek kesehatan gratis (CKG) di Mushola Darul Hijdrah, Pahandut Seberang, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (9/7/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/foc.
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyatakan hasil sementara menunjukkan sekitar 35,4 persen pasien hipertensi yang terdiagnosis pada Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 kembali melakukan pemeriksaan pada 2026, dan 46,9 persen dari jumlah itu berhasil mengendalikan tekanan darahnya.
"Sementara pada pasien diabetes melitus, sekitar 33,1 persen telah kembali melakukan pemeriksaan, dan 69,4 persen diantaranya berhasil mencapai pengendalian kadar gula darah," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Kamis.
Sejak 2026, katanya, CKG mulai memasuki tahap tata laksana atau pengobatan bagi peserta yang telah terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus.
Budi menjelaskan bahwa keberhasilan pengendalian penyakit kronis akan memberikan dampak besar terhadap penurunan angka kematian akibat penyakit jantung dan stroke.
Pemerintah menargetkan pada tahun ini sedikitnya 50 persen penderita menjalani pengobatan rutin, dengan 50 persen diantaranya berhasil mencapai kondisi terkendali atau sekitar seperempat dari seluruh penderita hipertensi dan diabetes yang ditemukan melalui CKG.
"Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa skrining harus diikuti dengan pengobatan yang rutin dan pengendalian penyakit. Negara seperti Korea berhasil menurunkan kematian akibat penyakit kardiovaskular melalui pendekatan yang dikenal sebagai Triple 80," ujarnya.
Dia menjelaskan pendekatan itu yakni 80 persen masyarakat diskrining, 80 persen penderita diobati, dan 80 persen diantaranya berhasil terkendali. Itulah arah yang sedang kita bangun di Indonesia.
Pihaknya berkomitmen untuk terus memperluas cakupan CKG, memperkuat tindak lanjut hasil pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan primer, serta memastikan masyarakat yang telah terdiagnosis memperoleh pengobatan dan pendampingan secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, Program CKG diharapkan tidak hanya meningkatkan angka deteksi dini penyakit, tetapi juga mampu menurunkan beban penyakit tidak menular dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.
Program CKG terus menunjukkan dampak nyata dalam memperkuat deteksi dini penyakit agar dapat ditangani sesegera mungkin.
"Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan kesehatan melalui Program CKG, melampaui target mingguan yang telah ditetapkan," katanya.
Dengan dimulainya tahun ajaran baru di seluruh Indonesia, Kementerian Kesehatan optimistis jumlah peserta akan terus meningkat, sehingga target 130 juta peserta pada akhir 2026, tetap berada pada jalur pencapaian (on the track).
CKG, katanya, tidak hanya menjadi program skrining terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi untuk mengubah paradigma pelayanan kesehatan dari mengobati menjadi mencegah.
"Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, semakin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif. Karena itu, CKG menjadi investasi kesehatan bangsa dalam jangka panjang," ujarnya.
Pewarta : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026