gop-crypto.vip

Menghitung Pesona Dek Fad di Tengah Bayang-bayang Mualem - ANTARA News Aceh

Oleh Dr. Safriady S.sos, M.I.kom

Jakarta (ANTARA) - Ada satu pemandangan politik Aceh yang menarik dibaca setelah peringatan 21 tahun perdamaian Aceh pada 15 Agustus 2026 lalu, ketika sosok Mualem tidak sepenuhnya tampil sebagai figur utama, justru pesona politik Dek Fad mulai terlihat lebih terang.

Momentum itu sebenarnya bukan panggung biasa. Peringatan 21 tahun MoU Helsinki selalu memiliki bobot historis, emosional, sekaligus politik. Apalagi tahun ini muncul berbagai dinamika yang membuat perhatian publik tertuju pada kondisi Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem.

Sejumlah pengamatan publik terhadap kondisi fisiknya bahkan memunculkan spekulasi mengenai kesehatan sang gubernur. Namun, penting ditegaskan, penampilan fisik tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan kondisi medis seseorang, dan sampai terdapat keterangan resmi, isu kesehatan Mualem sebaiknya ditempatkan sebagai isu yang belum terverifikasi.

Yang lebih menarik justru konsekuensi politiknya.

Baca juga: Aceh: Bendera, Gas Air Mata & Memori Konflik

Pada momentum Hari Damai Aceh, Dek Fad tampil mewakili Mualem dalam menyampaikan pesan perdamaian. Ia menegaskan bahwa perdamaian bukan sekadar berhentinya konflik bersenjata, melainkan harus diterjemahkan menjadi keadilan, kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, dan masa depan yang bermartabat. Ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat MoU Helsinki serta mengawal agenda strategis Aceh melalui komunikasi dengan pemerintah pusat.

Di sinilah pesona Dek Fad mulai memiliki ruang.

Selama ini, konfigurasi kepemimpinan Aceh sangat kuat dengan figur Mualem. Nama Mualem bukan sekadar nama seorang gubernur. Ia memiliki sejarah panjang dalam konflik dan perdamaian Aceh. Karena itu, secara politik maupun simbolik, Mualem merupakan figur yang memiliki political capital sangat besar.

Namun, Dek Fad berada dalam posisi berbeda. Ia adalah wakil gubernur yang secara formal memang berada di bawah gubernur. Tetapi ketika situasi politik dan kesehatan pemimpin utama mulai menjadi perhatian publik, wakilnya secara otomatis masuk ke dalam radar pengamatan. Bukan karena ia mengambil alih panggung, melainkan karena kebutuhan politik menuntut adanya figur yang mampu menjaga kesinambungan komunikasi pemerintahan.

Itulah yang terjadi pada 15 Agustus lalu. Dek Fad tidak datang membawa narasi baru yang berseberangan dengan Mualem. Sebaliknya, ia menyampaikan pesan yang memperpanjang garis politik Mualem. Dalam perspektif komunikasi politik, ini penting. Ia tidak sedang menggantikan simbol Mualem, tetapi sedang membangun dirinya sebagai penerus pesan Mualem.

Halaman selanjutnya: Perbedaannya tipis, tetapi konsekuensinya besar

Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.