Menbud Fadli: Seni pertunjukan teater jadi tontonan sekaligus tuntunan
Dan kami berharap nanti makin banyak lagi tema-tema lain tentang sosial, kemanusiaan yang juga diangkat melalui seni pertunjukan, karena itu akan lebih cepat sampai, lebih mudah diterima
Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan seni pertunjukan seperti teater merupakan media tontonan sekaligus tuntunan, karena di dalamnya disampaikan pesan-pesan moral maupun isu-isu penting, seperti perdagangan orang.
“Dan kami berharap nanti makin banyak lagi tema-tema lain tentang sosial, kemanusiaan yang juga diangkat melalui seni pertunjukan, karena itu akan lebih cepat sampai, lebih mudah diterima. Selain menjadi tontonan, juga menjadi tuntunan,“ ujar Menbud Fadli Zon saat ditemui media usai pementasan monolog "Kalau Bukan Aku" di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat malam.
Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), kata Fadli, mendukung pembangunan ekosistem seni yang mencakup setidaknya lima sektor, yakni film, musik, sastra, seni rupa, dan seni pertunjukan termasuk teater.
Fadli Zon juga menilai penting monolog “Kalau Bukan Aku” karya aktris Rahayu Saraswati yang mengangkat tema perdagangan manusia karena kasus tersebut masih kerap ditemukan.
Baca juga: Fadli sebut teater mampu merepresentasikan kekayaan budaya Indonesia
“Ditampilkan dalam bentuk teater, jadi pesan yang disampaikan melalui monoplay itu, bisa menggugah kesadaran orang bahwa di Indonesia ini masih banyak terjadi human trafficking ke luar negeri dan korbannya banyak di berbagai provinsi, desa, bahkan kota-kota, dan mereka yang menjadi korban ini kadang-kadang tidak mendapatkan keadilan, hilang lenyap begitu saja dan ini harus menjadi perhatian,” ujar Menbud Fadli Zon.
Sebelumnya Aktris Rahayu Saraswati atau yang akrab disapa Sara menceritakan pementasan monolog perdananya itu.
Dalam menulis naskah monolog tersebut, Sara mengaku menuangkan apa yang ada di dalam benaknya sebagai aktivis anti-perdagangan orang sejak tahun 2009. Pementasan monolog "Kalau Bukan Aku" menyuarakan suara, terutama keluarga korban perdagangan orang yang hampir jarang terdengar.
“Saya menjadi aktivis anti-perdagangan orang, mengetahui bahwa banyak suara mereka tuh enggak didengar, tahunya itu hanya dari berita yang istilahnya itu udah disaring dan itu memang hanya soal kasusnya, tetapi bagaimana suara dari mereka yang ditinggalkan, mereka yang harus tinggal dengan luka dan trauma, dimana kadang-kadang keluarga korban malah dianggap aib,” ujar Sara.
Baca juga: Kemenbud serahkan 47 alat musik, dukung kegiatan seni dan keagamaan
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.