gop-crypto.vip

Menaker: TPT anak muda 17,4 persen, perusahaan sulit cari talenta - ANTARA News Gorontalo

Jakarta (ANTARA) - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyoroti kondisi paradoks di pasar kerja Indonesia, yakni tingkat pengangguran terbuka (TPT) kelompok usia muda 15-24 tahun mencapai 17,4 persen, sementara 48 persen perusahaan di Indonesia mengaku kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan kompetensi yang memadai.

Dalam Indonesia’s Green Jobs Conference 2026 di Jakarta, Rabu, Yassierli mengatakan kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Ia mengutip laporan Future of Jobs World Economic Forum (WEF) 2025 yang menyebutkan 54 persen perusahaan di Indonesia mengidentifikasi kesenjangan keterampilan (skill gap) sebagai salah satu permasalahan utama dalam bisnis mereka.

Menurut dia, persoalan tersebut menjadi tantangan yang perlu segera diatasi, terutama karena Indonesia tidak hanya menghadapi persoalan penciptaan lapangan kerja, tetapi juga memastikan pekerjaan yang tersedia merupakan pekerjaan yang layak.

Ia menambahkan perlu juga penguatan keterhubungan antara dunia pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan industri agar tenaga kerja yang dihasilkan memiliki kompetensi sesuai permintaan pasar.

Oleh karena itu, ia menyatakan Kemnaker mendorong perubahan pendekatan pelatihan vokasi dari berbasis pasokan (supply-driven) menjadi berbasis kebutuhan industri (demand-driven).

Yassierli mencontohkan pendirian balai pelatihan sektor dirgantara di Bandung yang disesuaikan dengan kebutuhan dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI). kebutuhan tenaga kerja di sektor tersebut diperkirakan mencapai 500 hingga 1.000 orang.

Menurut dia, informasi kebutuhan tenaga kerja yang jelas dari industri dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyiapkan program pelatihan yang sesuai.

"Kalau memang kebutuhannya jelas, kami akan support. Biaya pelatihannya akan ditanggung Kementerian Ketenagakerjaan," ujarnya.

Ia mengatakan pendekatan tersebut diperlukan agar pelatihan vokasi tidak sekadar menghasilkan lulusan, tetapi juga memastikan kompetensi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk usia kerja berdasarkan Sakernas Mei 2026 mencapai 220,23 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 155,41 juta orang masuk dalam angkatan kerja.

Dari total angkatan kerja tersebut, sebanyak 148,19 juta orang tercatat bekerja, sedangkan 7,22 juta orang masih menganggur.

Adapun 64,82 juta orang lainnya termasuk dalam kelompok bukan angkatan kerja, seperti pelajar, pengurus rumah tangga, maupun pensiunan.

Struktur pasar kerja juga masih didominasi pekerjaan informal. BPS mencatat proporsi pekerja informal mencapai 56,54 persen, sedangkan pekerja formal sebesar 38,81 persen. TPT nasional tercatat sebesar 4,65 persen.

Dari sisi pendidikan, mayoritas tenaga kerja masih berpendidikan SD dan SMP dengan proporsi 50,52 persen. Selanjutnya, lulusan SMA dan SMK mencapai 32,27 persen, sedangkan lulusan perguruan tinggi sebesar 12,56 persen.

Sementara itu, data Sakernas Agustus 2025 menunjukkan adanya perbedaan status pekerjaan berdasarkan tingkat pendidikan. Lulusan universitas memiliki proporsi bekerja di sektor formal sebesar 76,5 persen.

Sementara itu, lulusan SMA dan SMK lebih banyak tersebar di sektor informal, dengan tingkat pengangguran masing-masing sebesar 6,9 persen dan 8,6 persen.

Adapun lulusan SD dan SMP didominasi pekerja sektor informal hingga 72,5 persen, dengan tingkat pengangguran sebesar 2,8 persen.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menaker: TPT anak muda 17,4 persen, perusahaan sulit cari talenta

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.