gop-crypto.vip

Media Asing Sorot IHSG, Disebut Sudah Masuk Bull Market

Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar saham Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sempat terpuruk ke level terendah dalam lima tahun pada awal Juni 2026.

Mengutip CNBC.com, Selasa (28/6/2026), meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terkoreksi sekitar 29% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD), indeks kini telah masuk ke fase bull market karena berhasil menguat lebih dari 10% dari titik terendahnya bulan lalu.

Berdasarkan data LSEG, pemulihan tersebut ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari valuasi saham yang semakin murah, langkah cepat regulator pasar modal, hingga mulai kembalinya aliran dana investor asing.

Sentimen pasar juga membaik setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil beberapa pekan lalu.

Senior Partner SGMC Capital Mohit Mirpuri mengatakan keputusan S&P berhasil menghilangkan salah satu kekhawatiran utama investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

"Penegasan peringkat oleh S&P menghilangkan salah satu beban makro yang penting. Dalam sebulan terakhir, pasar telah beralih dari mencerminkan ekspektasi memburuknya kondisi menjadi mulai memperhitungkan stabilisasi," ujar Mirpuri.

Sepanjang 2026, pasar saham Indonesia mengalami volatilitas tinggi setelah MSCI mempertanyakan tata kelola sejumlah emiten di Indonesia dan menyatakan akan mempertimbangkan penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

MSCI menyoroti sejumlah persoalan, termasuk rendahnya porsi saham beredar di publik (free float) serta tingginya konsentrasi kepemilikan pada sejumlah perusahaan tercatat.

Namun pada akhirnya MSCI memutuskan untuk tidak menurunkan status Indonesia. Keputusan tersebut menjadi angin segar bagi investor dan membantu menghentikan aksi jual besar-besaran yang sempat melanda pasar.

Senior Economist Capital Economics Gareth Leather mengatakan keputusan MSCI menjadi "kelegaan besar" bagi pelaku pasar. Di saat yang sama, investor global juga mulai mengalihkan dana dari saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang dinilai sudah mahal menuju pasar yang menawarkan valuasi lebih menarik.

"Investor mulai merealisasikan keuntungan dari saham AI dan teknologi yang mahal, lalu mencari pasar yang lebih murah dan relatif aman untuk menempatkan dana mereka," kata Leather.

Hal senada disampaikan Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia. Menurutnya, setelah berbulan-bulan mengalami tekanan jual, valuasi saham Indonesia akhirnya menjadi terlalu murah untuk diabaikan.

"Setelah berbulan-bulan mengalami aksi jual, saham-saham Indonesia menjadi terlalu murah untuk diabaikan," ujar Liza kepada CNBC.

Selain itu, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia juga mulai mereda setelah penerimaan negara menunjukkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan. Pemulihan penerimaan pajak sepanjang semester pertama 2026 dinilai meningkatkan keyakinan investor terhadap prospek fiskal pemerintah.

Di sisi lain, berbagai kebijakan yang ditempuh regulator turut memperbaiki sentimen pasar. Langkah otoritas untuk meningkatkan ketentuan minimum free float serta memperketat aturan keterbukaan informasi mengenai struktur kepemilikan dinilai mampu mengatasi persoalan likuiditas yang tipis dan meningkatkan transparansi pasar.

Associate Economist Moody's Analytics Jeemin Bang menilai kebijakan tersebut membantu mengatasi masalah likuiditas dan konsentrasi kepemilikan yang sebelumnya menjadi salah satu alasan investor meninggalkan pasar saham Indonesia.

Meski IHSG masih berada di zona negatif secara tahunan, kombinasi valuasi yang menarik, membaiknya sentimen makroekonomi, serta reformasi pasar modal mulai mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia.

(mkh/mkh)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]