Matcha vs green tea, apa bedanya? Ini penjelasan lengkapnya
Jakarta (ANTARA) - Belakangan ini, minuman berbahan matcha semakin populer. Mulai dari matcha latte, es krim, hingga berbagai dessert menggunakan bubuk hijau khas Jepang tersebut. Di sisi lain, green tea atau teh hijau juga sudah lama dikenal sebagai minuman yang menyehatkan. Karena sama-sama berwarna hijau, banyak orang mengira keduanya adalah produk yang sama.
Padahal, matcha dan green tea memiliki sejumlah perbedaan, mulai dari cara budidaya, proses pengolahan, rasa, hingga kandungan nutrisinya. Meski berasal dari tanaman yang sama, yakni Camellia sinensis, karakteristik keduanya cukup berbeda.
Berikut penjelasan mengenai perbedaan matcha dan green tea yang perlu diketahui.
1. Berasal dari tanaman yang sama, tetapi dibudidayakan dengan cara berbeda
Perbedaan pertama terletak pada proses penanamannya. Daun teh untuk membuat green tea umumnya ditanam di bawah sinar matahari seperti tanaman teh pada umumnya.
Sementara itu, tanaman yang akan dijadikan matcha ditutup menggunakan kain peneduh selama sekitar tiga hingga empat minggu sebelum dipanen. Teknik ini bertujuan mengurangi paparan sinar matahari sehingga meningkatkan produksi klorofil dan asam amino, termasuk L-theanine. Hasilnya, warna daun menjadi lebih hijau pekat dengan cita rasa yang lebih lembut dan umami.
Baca juga: Mencoba pengalaman minum matcha dengan konsep wabi-sabi
2. Proses pengolahan yang tidak sama
Setelah dipanen, daun green tea biasanya langsung dikukus atau dipanaskan untuk menghentikan proses oksidasi. Selanjutnya daun dikeringkan, digulung, lalu dikemas sebagai teh seduh.
Sementara itu, daun untuk matcha mengalami proses yang lebih panjang. Setelah dikukus dan dikeringkan, batang serta urat daunnya dipisahkan sehingga hanya menyisakan bagian daun terbaik yang disebut tencha. Daun tersebut kemudian digiling menggunakan batu hingga menjadi bubuk yang sangat halus.
3. Bentuk penyajian berbeda
Green tea disajikan dengan cara menyeduh daun teh menggunakan air panas. Setelah beberapa menit, daun teh dipisahkan dan hanya air seduhannya yang diminum.
Sebaliknya, matcha dikonsumsi dalam bentuk bubuk yang dikocok menggunakan air panas hingga larut. Artinya, seluruh bagian daun teh ikut diminum sehingga kandungan nutrisinya juga lebih banyak masuk ke dalam tubuh.
4. Kandungan nutrisi matcha lebih tinggi
Karena mengonsumsi seluruh daun teh, matcha umumnya mengandung antioksidan, terutama katekin jenis EGCG (epigallocatechin gallate), dalam jumlah yang lebih tinggi dibandingkan green tea seduh.
Selain itu, matcha juga memiliki kandungan L-theanine yang lebih tinggi berkat metode budidaya di tempat teduh. Senyawa ini diketahui dapat membantu memberikan efek rileks tanpa menyebabkan rasa kantuk.
Namun, kandungan kafein matcha juga lebih tinggi dibandingkan green tea biasa. Karena itu, konsumsi matcha tetap sebaiknya tidak berlebihan, terutama bagi orang yang sensitif terhadap kafein.
Baca juga: Efek samping matcha yang jarang diketahui, jangan minum berlebihan
5. Rasa dan aroma memiliki karakter berbeda
Green tea umumnya memiliki rasa yang ringan, segar, sedikit pahit, serta aroma yang lembut. Karakter rasanya juga bisa berbeda tergantung jenis teh dan cara penyeduhan.
Di sisi lain, matcha memiliki rasa yang lebih pekat, creamy, dan khas umami. Warna hijau cerahnya juga menjadi salah satu ciri utama matcha berkualitas tinggi.
6. Penggunaan dalam makanan dan minuman
Green tea lebih sering dinikmati sebagai minuman hangat atau dingin dalam bentuk teh seduh.
Sementara itu, matcha jauh lebih fleksibel. Bubuk matcha dapat digunakan sebagai bahan berbagai olahan, seperti latte, smoothie, kue, roti, es krim, hingga aneka dessert.
Mana yang lebih sehat?
Baik matcha maupun green tea sama-sama memiliki manfaat kesehatan karena kaya akan antioksidan yang dapat membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Beberapa penelitian juga menunjukkan konsumsi teh hijau berkaitan dengan kesehatan jantung, fungsi otak, hingga metabolisme tubuh.
Meski demikian, matcha umumnya menawarkan konsentrasi nutrisi yang lebih tinggi karena seluruh daun teh dikonsumsi. Di sisi lain, green tea tetap menjadi pilihan yang baik bagi orang yang menginginkan asupan kafein lebih rendah dan rasa yang lebih ringan.
Pada akhirnya, pilihan antara matcha dan green tea kembali pada kebutuhan, preferensi rasa, serta kondisi kesehatan masing-masing. Yang terpenting, keduanya sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah wajar sebagai bagian dari pola makan yang seimbang.
Baca juga: Matcha China hadirkan kesegaran dalam tren minuman teh di Indonesia
Baca juga: Benarkah matcha bermanfaat untuk kesehatan kulit? Ini penjelasannya
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.