gop-crypto.vip

Mantan PM Prancis Edouard Balladur Meninggal di Usia 97 Tahun

Liputan6.com, Paris - Edouard Balladur, yang menjabat perdana menteri (PM) Prancis pada 1993-1995, meninggal dunia pada Senin (31/8/2026). 

Ia pernah bersaing sengit dengan sahabatnya, Jacques Chirac, dalam pemilihan presiden 1995, tetapi akhirnya kalah.

Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan penghormatan kepada Balladur. Melalui platform X, Macron mengenangnya sebagai sosok yang "tegas, tenang, dan penuh pengabdian" kepada Prancis serta "mendedikasikan hidupnya untuk Republik Kelima", sistem pemerintahan Prancis yang berlaku sejak 1958.

Mengutip laporan France24, persaingan Balladur dan Chirac dalam pemilihan presiden 1995 meninggalkan luka mendalam di kubu kanan-tengah tempat keduanya bernaung.

Chirac merasa sangat terpukul ketika Balladur, yang selama bertahun-tahun dibinanya sebagai tangan kanan, justru memutuskan maju sebagai pesaingnya dalam pemilihan presiden.

Mantan presiden Nicolas Sarkozy termasuk di antara para tokoh penting Rally for the Republic yang meninggalkan Chirac dan beralih mendukung Balladur. Namun, mereka ternyata memilih kandidat yang kalah.

Balladur dijuluki "Louis XV" karena pembawaannya yang angkuh. Sosoknya yang kaku dan berjarak membuatnya kurang luwes menghadapi kerasnya persaingan selama kampanye.

Sebaliknya, Chirac lebih mudah menarik simpati publik. Ia akhirnya memenangi pemilihan presiden 1995 dengan menampilkan diri sebagai politikus konservatif yang lebih peduli terhadap persoalan masyarakat.

Padahal, hampir sepanjang masa kampanye, Balladur sempat menjadi kandidat yang paling diunggulkan. Popularitasnya terdongkrak berkat citranya sebagai perdana menteri yang tetap tenang ketika menghadapi defisit negara yang sangat besar.

Dagunya yang berlipat dan pembawaannya yang terkesan angkuh membuat Balladur menjadi sasaran empuk para karikaturis. Harian Le Monde hampir selalu menggambarkannya sebagai raja Abad ke-18 dengan wig putih, yang diusung ke mana-mana menggunakan tandu.

Balladur lahir di Smyrna, kota di Turki yang kini bernama Izmir, pada 2 Mei 1929. Ia berasal dari keluarga kaya keturunan Armenia Katolik yang pindah ke Prancis ketika Balladur masih kecil.

Ia tumbuh besar di Marseille sebelum kemudian pindah ke Paris. Di ibu kota Prancis itu, Balladur menempuh pendidikan di Ecole Nationale d'Administration, sekolah elite yang selama beberapa generasi menjadi tempat pendidikan para pejabat tinggi Prancis.

Balladur ikut merundingkan kesepakatan yang mengakhiri gelombang aksi mahasiswa dan pekerja pada Mei 1968. Ia kemudian menjadi kepala staf Presiden Georges Pompidou dari kubu kanan hingga Pompidou meninggal mendadak akibat kanker darah pada 1974.