Malaysia Tunggu Respons RI soal Tawaran Bantu Atasi Asap Karhutla
Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah Malaysia menyatakan kesiapannya untuk membantu Indonesia mengatasi masalah kabut asap lintas batas, alih-alih mengambil langkah hukum.
Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi, mengatakan pihaknya lebih mengutamakan koordinasi antara kedua negara dalam menangani masalah asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Koordinasi untuk mencegahnya adalah langkah yang lebih baik," kata Ahmad Zahid, seperti dilansir The Star.
"Dalam semangat ASEAN, pencegahan lebih baik daripada pengobatan, dibandingkan dengan langkah-langkah yang bersifat reaktif," ujarnya dalam konferensi pers usai meluncurkan Bulan Kesiapsiagaan Nasional di Pusat Konvensi Ipoh pada Minggu (11/10).
Sebelumnya Zahid mengatakan Malaysia masih menunggu respons pemerintah Indonesia terkait tawaran bantuan untuk mengatasi karhutla di Sumatra dan Kalimantan. Zahid menyebut tawaran itu disampaikan melalui sejumlah jalur diplomatik, tetapi belum menerima jawaban.
Zahid juga mengaku telah membahas tawaran bantuan itu saat berkunjung ke Jakarta bulan lalu. Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto dan perwakilan Wakil Presiden.
Pilihan Redaksi
- Rudal Houthi Gempur Bandara Saudi, Picu Kebakaran-Tewaskan Penumpang
- Bandara King Fahd hingga Fasilitas Minyak Saudi Digempur Rudal Houthi
- Pria Tewas usai Masuk Kandang Harimau di Kebun Binatang Inggris
Badan Penanggulangan Bencana Nasional Malaysia (Nadma) dan Kementerian Luar Negeri Malaysia juga telah mengirimkan surat kepada pihak terkait di Indonesia.
"Kami berpandangan positif bahwa mungkin mereka tidak membutuhkan bantuan kami. Kami tetap optimistis dan berasumsi yang terbaik," kata Zahid.
Dalam pidatonya, Zahid yang juga menjabat Ketua Komite Nasional Penanggulangan Bencana Malaysia mengatakan negaranya telah menawarkan satu pesawat pemadam kebakaran, tiga helikopter, serta 52 petugas dan personel untuk membantu operasi pemadaman karhutla di Indonesia.
Selain menawarkan bantuan untuk Indonesia, Zahid mengatakan Tim Bantuan dan Penyelamatan Bencana Khusus Malaysia (SMART) juga aktif menangani bencana di dalam negeri dan siap membantu negara lain yang terdampak bencana.
Ia juga menyampaikan kebanggaannya atas pengakuan terhadap SMART sebagai tim penyelamat terbaik kedua di Asia setelah Jepang.
Menurut Zahid, SMART berhasil mempertahankan klasifikasi internasional untuk tim pencarian dan penyelamatan perkotaan kategori berat (USAR). Penilaian tersebut berlangsung selama 36 jam dan mencakup 173 kriteria.
(mge/dna)