Mahasiswa Unila olah limbah bonggol nanas menjadi permen herbal
Mahasiswa Unila olah limbah bonggol nanas menjadi permen herbal
Kamis, 27 Agustus 2026 14:53 WIB
Mahasiswa Unila tengah mengolah limbah bonggol nanas
Kota Bandarlampung (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Lampung (Unila) mengembangkan inovasi produk permen hisap herbal bernama BROLINIX yang memanfaatkan
limbah bonggol nanas yang masih terbatas,
Produk tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) dengan memanfaatkan ekstrak bromelain dari bonggol nanas yang dipadukan dengan madu dan habbatussauda.
Ide tersebut berawal dari keinginan untuk melihat potensi lain dari bonggol nanas yang selama ini lebih banyak dianggap sebagai limbah
“Kami melihat bonggol nanas masih kurang dimanfaatkan, padahal memiliki potensi yang bisa dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Dari situ kami mencoba mengolahnya menjadi produk yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa konsep zero waste,” kata Hilya Aini salah satu anggota tim BROLINIX, dalam keterangannya, di Bandarlampung, Kamis.
Menurutnya, pemilihan bonggol nanas juga berkaitan dengan potensi produksi nanas yang cukup besar di Indonesia, khususnya di Provinsi Lampung. Bonggol nanas diketahui mengandung enzim bromelain yang kemudian menjadi salah satu bahan utama dalam pengembangan BROLINIX.
Pengembangan BROLINIX diawali dengan berbagai tahap persiapan, mulai dari survei pasar, pembahasan formulasi, kajian metode ekstraksi bromelain, hingga persiapan alat dan bahan.
Tim juga menjalin kerja sama dengan pemasok bonggol nanas, di antaranya PT Great Giant Pineapple (GGP) dan Warung Rujak Bangkok, Widodo.
Dalam proses produksinya, bonggol nanas terlebih dahulu diolah untuk memperoleh ekstrak bromelain. Sementara itu, isomalt dipanaskan hingga membentuk massa permen. Setelah suhu menurun, ekstrak bromelain ditambahkan bersama madu dan habbatussauda.
Adonan kemudian dicetak, didinginkan, dan dikemas dengan memperhatikan kebersihan serta sanitasi selama proses produksi.
“Prosesnya cukup menantang karena bromelain memiliki sensitivitas terhadap panas. Jadi, kami harus memperhatikan proses formulasi dan penambahan ekstrak agar karakteristik bahan tetap dapat dipertahankan,” jelas Hilya.
Selain proses produksi, tim juga melakukan pemeriksaan mutu dan uji terbatas untuk mengetahui penerimaan awal terhadap produk. Pengujian tersebut mencakup beberapa aspek, seperti warna, aroma, rasa, tekstur, hingga kemasan.
Bukan sekadar permen
BROLINIX dikembangkan dalam bentuk permen hisap dengan diameter sekitar 1,5 sentimeter dan berat sekitar 1,2 gram per butir. Produk dikemas menggunakan botol food grade berkapasitas 60 mL yang dilengkapi silica gel untuk membantu menjaga kondisi produk tetap kering.
Kemasan dirancang dengan tampilan modern dan dilengkapi informasi mengenai komposisi, petunjuk penyimpanan, cara konsumsi, informasi nilai gizi, legalitas, serta identitas produsen.
Di sisi pengembangan usaha, tim juga telah menyusun SOP produksi dan pengendalian mutu, melakukan pengujian laboratorium, serta membangun media promosi melalui Instagram, TikTok, dan Shopee.
Dari aspek legalitas, BROLINIX telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), Sertifikat Halal, dan SPP-IRT. Pengembangan menuju registrasi BPOM juga menjadi salah satu tahapan yang dipersiapkan tim.
Membawa konsep Zero Waste
Menurut Hilya, konsep Zero Waste Action menjadi salah satu identitas utama BROLINIX.
“Bagi kami, BROLINIX bukan hanya tentang membuat permen. Kami ingin menunjukkan bahwa bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah masih bisa memiliki nilai tambah apabila diolah dan dikembangkan dengan inovasi,” ungkapnya.
Pemanfaatan bonggol nanas tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu contoh pemanfaatan hasil samping agroindustri sekaligus membuka peluang pengembangan produk baru berbasis sumber daya lokal.
Namun, perjalanan pengembangan BROLINIX tidak terlepas dari berbagai tantangan. Selain sensitivitas bromelain terhadap panas, tim juga menghadapi tantangan dalam memperkenalkan produk kepada masyarakat serta membangun pemahaman mengenai bahan yang digunakan.
“Karena produk kami masih tergolong baru, tantangannya adalah bagaimana membuat masyarakat mengenal BROLINIX dan memahami konsep yang kami bawa. Jadi, edukasi dan promosi menjadi bagian penting dari pengembangan kami,” kata Hilya.
Menatap tahap komersialisasi
Setelah melalui berbagai tahapan pengembangan, tim BROLINIX kini mulai mempersiapkan tahap peluncuran dan penjualan perdana. Promosi melalui media digital serta edukasi kepada calon konsumen akan terus dilakukan untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat.
Tim juga akan mengevaluasi respons konsumen sebagai dasar untuk pengembangan produk selanjutnya, termasuk peluang pengembangan varian rasa, formulasi, kemasan, dan jaringan distribusi.
Hilya berharap BROLINIX dapat berkembang tidak hanya sebagai produk hasil kreativitas mahasiswa, tetapi juga sebagai inovasi yang memberikan manfaat lebih luas.
“Harapannya, BROLINIX bisa terus berkembang dan menjadi contoh bahwa inovasi dari mahasiswa juga dapat berangkat dari permasalahan sederhana di sekitar kita. Dari sesuatu yang dianggap limbah, ternyata bisa muncul peluang untuk menciptakan sesuatu yang bernilai,” tuturnya.
Melalui BROLINIX, tim mahasiswa Unila berupaya menggabungkan inovasi, kewirausahaan, dan keberlanjutan dalam satu produk. Bonggol nanas yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini mendapat peluang untuk diolah menjadi produk bernilai tambah melalui konsep Zero Waste Action.
Pewarta : Asih Aditiya Wulandari
Editor:
Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.