Mahasiswa UMS raih medali perunggu JDIE 2026 lewat inovasi PharmaSwift berbasis IoT
Mahasiswa UMS raih medali perunggu JDIE 2026 lewat inovasi PharmaSwift berbasis IoT
Selasa, 13 Oktober 2026 14:38 WIB
Mahasiswa UMS berhasil membawa pulang medali perunggu dari JDIE 2026. ANTARA/HO-UMS
Solo (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil meraih medali perunggu dalam ajang Japan Design, Idea and Invention Expo (JDIE) 2026 melalui inovasi di bidang kefarmasian yaitu “PharmaSwift Reducing Waits, Delivering Care”.
Inovasi ini mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) untuk membantu mempercepat proses penyiapan dan peracikan obat berdasarkan resep dokter.
PharmaSwift dikembangkan berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap lamanya waktu tunggu pasien, terutama ketika obat harus disiapkan oleh apoteker. Dalam proses konvensional, apoteker masih perlu mengambil obat satu per satu sesuai resep dan dosis yang ditentukan.
Ketua tim pengembang PharmaSwift Satria Gemilang Kusuma Perdana dari Prodi Teknik Mesin menjelaskan kondisi tersebut mendorong mereka untuk menciptakan alat yang mampu memproses resep menjadi susunan obat sesuai kebutuhan pasien.
“PharmaSwift ini berawal dari keresahan kami sebagai mahasiswa. Ketika melakukan pemeriksaan kesehatan, waktu tunggu atau peracikan obat memakan waktu cukup lama. Dari situ, kami berpikir bagaimana membuat sebuah alat yang bisa meracik berdasarkan resep menjadi satu bentuk obat yang sesuai dengan resep tersebut,” jelasnya, Selasa.
Untuk mengembangkan PharmaSwift, Gemilang melakukan riset bersama dengan rekannya yaitu Maulia Hidayah dari Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Muhammad Akmal Indratma dari Program Studi Teknik Mesin, FT, Faiz Al Erza dari Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran (FK), Bilqis Khans dari Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, serta Dani Hendrawan dari Program Studi Farmasi, Fakultas Farmasi (FF).
Inovasi PharmaSwift juga tidak luput dari dukungan dosen pembimbing Ir. Muhammad Al Fatih Hendrawan, S.T., M.T. Tim ini menggabungkan kompetensi lintas disiplin ilmu untuk mengembangkan inovasi PharmaSwift.
Dalam pengembangannya, PharmaSwift memanfaatkan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat kendali sistem serta sejumlah sensor untuk mendukung proses kerja alat. Sensor tersebut meliputi sensor udara, sensor kelembapan, sensor untuk mendeteksi jumlah obat yang dikeluarkan, serta komponen yang mendukung proses sterilisasi obat.
PharmaSwift juga dirancang untuk terintegrasi dengan inovasi sebelumnya, yakni MedLink Smart. Kedua inovasi tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan, mulai dari proses registrasi pasien hingga penyiapan obat berdasarkan resep.
Melalui integrasi tersebut, pasien terlebih dahulu melakukan registrasi dan pemeriksaan kesehatan. Setelah itu, dokter memasukkan informasi kondisi pasien beserta resep obat melalui situs web yang telah disediakan. Resep tersebut kemudian terhubung dengan sistem yang dapat diakses oleh apoteker untuk dilakukan pemeriksaan ulang.
Dengan adanya PharmaSwift, lanjutnya, bukan berarti menggantikan peran dari apoteker akan tetapi alat ini membantu pemrosesan obat dan apoteker tetap diperlukan untuk memastikan kesesuaian dosis berdasarkan usia dan kondisi pasien, termasuk mempertimbangkan kemungkinan alergi terhadap obat tertentu.
“Setelah resep dinyatakan sesuai, apoteker dapat mengirimkannya ke perangkat PharmaSwift untuk diproses secara otomatis,” kata Gemilang.
Selanjutnya, PharmaSwift bekerja dengan mendeteksi resep dan menyiapkan obat melalui mekanisme penyaluran ke dalam baki atau tray. Dengan sistem tersebut, apoteker dapat lebih berfokus pada proses verifikasi resep dan penanganan obat, sementara proses penyiapan obat dibantu oleh perangkat.
Dalam proses pengembangannya, tim membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk melakukan brainstorming, persiapan, hingga pembuatan inovasi. Meski demikian, waktu tersebut dinilai masih terbatas untuk menghasilkan pengembangan yang lebih optimal.
Menurut anggota tim, tambahan waktu pengembangan akan memberikan kesempatan bagi mereka untuk menyempurnakan sistem dan meningkatkan kemampuan alat.
“Persiapan tiga bulan itu masih terlalu mepet untuk kami. Kalau bisa diberi waktu lebih lama lagi, mungkin kami akan mengembangkan PharmaSwift lebih lanjut,” ungkapnya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.