gop-crypto.vip

Lonjakan Harga Minyak Ancam Ekonomi Asia, Subsidi Jadi Beban - Makro Katadata.co.id

Perekonomian Asia akan menghadapi ujian ketahanan baru setelah harga minyak kembali menembus ambang batas US$100 per barel. Sejumlah negara tengah mengalami laju inflasi yang tinggi serta kebijakan fiskal dan moneter yang sudah ketat.

Harga minyak Brent melonjak hingga melampaui US$107 per barel pada Jumat (11/9) akibat meningkatnya serangan di Selat Hormuz, sedangkan Amerika Serikat dan Iran bersiap menghadapi kemungkinan perang berkepanjangan. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan India sangat bergantung pada impor minyak mentah untuk menggerakkan industri mereka, sedangkan kenaikan harga turut meningkatkan beban subsidi bahan bakar bagi negara-negara seperti Indonesia dan Thailand.

Para pembuat kebijakan di seluruh kawasan akan menghadapi tekanan untuk terus memberikan bantalan ekonomi bagi rumah tangga dan dunia usaha, yang pendapatannya telah tergerus oleh inflasi. Namun, dengan defisit anggaran yang sudah membengkak dan suku bunga yang tinggi, ruang gerak mereka saat ini jauh lebih terbatas dibandingkan sebelumnya.

"Lonjakan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran terkait nilai tukar perdagangan, inflasi, dan kondisi fiskal jangka menengah," ujar Wee Khoon Chong, ahli strategi pasar senior untuk kawasan Asia-Pasifik di BNY, Hong Kong.

Meskipun Asia mencatatkan pertumbuhan yang lebih baik dari perkiraan pada paruh pertama tahun ini berkat lonjakan sektor kecerdasan buatan atau AI, konflik di Timur Tengah terus membayangi. Kawasan ini sangat bergantung pada pengiriman barang melalui Selat Hormuz.

Tekanan harga akibat guncangan energi awal saat konflik Iran yang pecah pada Februari belum juga mereda. Kenaikan biaya terus meluas dari sektor transportasi ke sektor pangan, utilitas, serta perumahan.

Sebagian besar mata uang negara berkembang di Asia melemah terhadap dolar AS pada Jumat pagi. Baht Thailand mencatat penurunan terdalam sebesar 0,7%, diikuti rupiah sebesar 0,4%.

Harga kontrak Asia untuk solar, bahan bakar utama yang digunakan dalam sektor transportasi, konstruksi, dan industri telah melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan kenaikan harga minyak mentah Brent. Kenaikan harga kontrak atau swap untuk bensin juga melampaui kenaikan harga acuan minyak mentah global.

Harga gas alam cair juga telah melonjak ke tingkat tertinggi sejak akhir tahun 2022, yang mengancam kenaikan biaya listrik di negara-negara importir seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina. Harga acuan di kawasan ini diperkirakan akan terus meningkat menjelang musim dingin, seiring persaingan antara Eropa dan Asia untuk memperebutkan pasokan terbatas di tengah gangguan yang masih berlangsung di Selat Hormuz.

Hambatan ekonomi lainnya juga kian menguat. Menurut Brian Lee, seorang ekonom di Maybank Securities Pte. yang berbasis di Singapura, harga pangan berada di bawah tekanan akibat perang Rusia-Ukraina dan gangguan cuaca El Niño yang parah.

"Di tengah kenaikan biaya yang berkepanjangan tanpa adanya tanda-tanda mereda, perusahaan-perusahaan yang sebelumnya menahan diri untuk tidak menaikkan harga akibat ketidakpastian permintaan, pada akhirnya mungkin terpaksa melakukannya demi meredam tekanan terhadap margin keuntungan," ujar Lee.

Bank of Japan diperkirakan secara luas akan menaikkan suku bunga acuannya pekan depan, sedangkan Reserve Bank of Australia telah memberi sinyal kesiapan untuk memperketat kebijakan menjelang pertemuan penetapan suku bunga akhir bulan ini.

Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) menyatakan pekan ini bahwa mereka akan memantau dengan cermat konflik di Timur Tengah setelah tingkat inflasi tetap tinggi di angka 6,1% pada bulan Agustus—bahkan sebelum terjadinya lonjakan harga minyak dan gas. BSP menyatakan siap untuk terus menaikkan suku bunga guna mengembalikan tingkat inflasi ke target 3%.

Cadangan fiskal juga kian menipis, bahkan mungkin hampir habis. Thailand dan Korea Selatan telah menambah belanja untuk langkah-langkah stimulus, sementara Indonesia terpaksa memangkas anggaran program lain demi membiayai beban subsidi. Malaysia, yang baru saja menambah kuota bahan bakar bersubsidi untuk menarik simpati pemilih menjelang pemilu, kini mungkin juga harus mengeluarkan dana lebih besar.

"Untuk Indonesia, saat ini, perhitungan kami menunjukkan bahwa kita masih akan menghadapi harga minyak mentah rata-rata US$90," ujar Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, dalam sebuah konferensi pada Rabu.

Ia menyebut, pemerintah kini menghitung belanja dengan asumsi harga minyak US$ 90 per barel meski mematoknya di APBN sebesar US$ 70 per barel.

Purbaya Tak Khawatir dengan Lonjakan Harga Minyak 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan, anggaran yang telah dialokasikan pemerintah untuk subsidi masih mencukupi meski harga minyak kembali melonjak di atas US$ 100 per barel. Hal ini masih dalam perhitungan pemerintah. 

Ia pun memastikan, belum menyiapkan tambahan subsidi. Namun, ia memastikan pemerintah terus memantau perkembangannya. 

“Belum, belum. Tapi kami waspadai terus perkembangannya. Jangan sampai naik lebih tinggi lagi,” kata Purbaya kepada wartawan di  Kemenkeu, Kamis (10/9).

Bendahara negara pun mengatakan agar tidak terlalu khawatir dengan situasi tersebut. Ia menyebut, harga minyak jika diakumulasikan masih di bawah US$ 90 per barel, sebagaimana perhitungan pemerintah. 

“Jadi masih ada ruang. Mudah-mudahan  harga minyak dunia tidak naik lebih tinggi lagi. Tapi seandainya naik ke level yang sekarang bertahan di sini pun kita kan sudah pernah mengalami, jadi enggak usah terlalu khawatir,  defisit tetap ditekan di bawah 3%,” katanya. 

Purbaya menuturkan, defisit anggaran masih berada di bawah 1%. Angkanya per Juli berada baru mencapai 0,91%, sedangkan pada Agustus sebesar  0,95%. Ia menyebut, harga minyak tidak mengganggu daya beli.