Limbah Biomassa Belum Tergarap, RI Bidik Industri Hidrogen Rendah Karbon
Sebab apabila mampu dimanfaatkan secara optimal, biomassa tidak hanya menjadi bahan bakar pendamping batu bara di pembangkit listrik, tetapi juga dapat menghasilkan berbagai produk energi bernilai tambah yang mendukung target dekarbonisasi sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.
Merespon hal tersebut, Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Hokkop Situngkir menegaskan, selama ini biomassa lebih banyak dikenal sebagai bahan bakar program co-firing pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Padahal, pemanfaatannya jauh lebih luas.
"Potensi biomassa Indonesia masih sangat besar. Dari sekitar 80 juta ton per tahun, baru sekitar 20 juta ton yang dimanfaatkan sehingga masih tersedia sekitar 60 juta ton yang berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk energi rendah karbon," kata Hokkop, Jumat (24/7/2026).
Baca Juga: PLN EPI Siapkan Kontrak Jangka Panjang, Ekosistem Biomassa Kian Diperkuat
Menurut dia, biomassa dapat diolah menjadi biohidrogen, biochar, biogas, biomethane hingga berbagai produk bioenergi lainnya yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding sekadar digunakan sebagai bahan bakar pembangkit.
Potensi tersebut juga diperkuat oleh besarnya industri kelapa sawit nasional. Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit (PKS) yang menghasilkan limbah Palm Oil Mill Effluent (POME), yang selama ini sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal.
Limbah cair sawit tersebut dinilai berpotensi menjadi bahan baku produksi biogas maupun biohidrogen. Dengan demikian, limbah industri perkebunan tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat diubah menjadi sumber energi baru.
Pemanfaatan biomassa dan limbah pertanian dinilai sekaligus mampu meningkatkan nilai tambah sektor perkebunan, memperluas sumber pasokan energi domestik, serta mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Bagi Hokkop, pengembangan bioenergi kini menjadi bagian dari mandat perusahaan dalam memastikan ketersediaan energi primer pembangkit listrik nasional.
Oleh sebab itu, lanjutnya, peran perusahaan tidak lagi terbatas pada penyediaan batu bara, gas bumi maupun bahan bakar minyak, tetapi juga mulai mengembangkan berbagai energi rendah karbon.
"Ke depan kami tidak hanya berbicara energi fosil, tetapi juga biomassa, bioenergi, hidrogen, dan amonia sebagai bagian dari transisi energi nasional," ujarnya.
Seperti yang diketahui, sejak 2022, PLN EPI mulai membangun rantai pasok biomassa melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, kelompok tani, koperasi, BUMDes hingga pelaku usaha swasta.
Biomassa yang dikumpulkan diproses melalui berbagai fasilitas produksi sebelum digunakan sebagai bahan bakar co-firing di PLTU. Di sisi lain, perusahaan juga mengembangkan Compressed Biogas (CBG) berbasis limbah sawit, biochar, serta berbagai proyek waste-to-energy.
Baca Juga: PLN EPI Gandeng Perusahaan Singapura, Jajaki Rantai Pasok Hidrogen Hijau ke Singapura
Langkah tersebut menjadi fondasi awal sebelum memasuki fase pengembangan hidrogen dan amonia yang diproyeksikan menjadi salah satu bisnis energi masa depan.
Dalam peta jalan pengembangannya, PLN EPI menargetkan periode 2026–2030 sebagai tahap pembangunan fondasi teknologi. Tahapan tersebut mencakup studi kelayakan, proyek percontohan (pilot project), hingga uji coba pemanfaatan hidrogen dan amonia pada pembangkit listrik sebelum memasuki fase komersialisasi.
Menurut Hokkop, keberhasilan membangun industri hidrogen rendah karbon tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku. Pengembangan ekosistem menjadi tantangan utama yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Pemerintah, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, perguruan tinggi hingga sektor industri dinilai perlu berkolaborasi agar potensi biomassa Indonesia tidak berhenti sebagai sumber daya yang belum termanfaatkan.
"Tantangan berikutnya adalah membangun ekosistem yang kuat melalui kolaborasi agar potensi biomassa Indonesia dapat dioptimalkan menjadi fondasi industri hidrogen rendah karbon di masa depan," kata Hokkop.