Kota Magelang waspadai dampak perubahan iklim pada kesehatan
Kota Magelang waspadai dampak perubahan iklim pada kesehatan
Kamis, 10 September 2026 16:34 WIB
Nelayan menggunakan perahu melintas di dekat tanggul pengaman pantai yang dihiasi mural bertema lingkungan di Kampung Bahari Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (23/7/2026). Pembuatan mural yang menghiasi sepanjang tanggul pengaman pantai tersebut sebagai bagian dari penilaian Program Kampung Iklim (ProKlim) Kementerian Lingkungan Hidup sekaligus bertujuan memperkuat edukasi lingkungan, memperindah kawasan pesisir, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/agr
Magelang (ANTARA) - Pemerintah Kota Magelang waspadai dampak perubahan iklim bagi kesehatan dan menempatkan kelurahan sebagai garda terdepan dalam mengantisipasi berbagai risiko yang muncul.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono di Magelang, Kamis, mengatakan perubahan iklim perlu dipandang sebagai persoalan kesehatan karena perubahan kondisi lingkungan dapat memunculkan risiko terhadap kesehatan masyarakat.
Langkah itu dilakukan Dinas Kesehatan setempat melalui program Desa/Kelurahan Sehat Iklim (DEKSI).
Karena itu, katanya, pelaksanaan DEKSI membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Puskesmas, kecamatan dan kelurahan, organisasi perangkat daerah (OPD), kader, serta komunitas memiliki peran dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim.
"DEKSI bukan sekadar program lingkungan. Ini adalah upaya membangun ketahanan kesehatan masyarakat," katanya.
Menurut dia, langkah adaptasi juga harus dimulai dengan mengenali risiko. Pemerintah bersama masyarakat perlu memetakan kondisi dan kerentanan lingkungan, mengetahui kelompok yang paling rentan, kemudian menentukan intervensi yang tepat sasaran.
Pendekatan tersebut, kata dia, harus kontekstual dan inklusif. Kearifan lokal, gotong royong, serta teknologi tepat guna dapat dimanfaatkan untuk membangun ketahanan di tingkat masyarakat.
Perlindungan juga perlu memberi perhatian lebih kepada kelompok rentan, seperti anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas.
"Solusi tidak harus mahal. Manfaatkan sumber daya lokal untuk melindungi mereka yang paling rentan," katanya.
Kota Magelang saat ini baru memiliki dua kelurahan yang telah terbentuk sebagai DEKSI, yakni Kelurahan Tidar Utara dan Rejowinangun Selatan yang dibentuk pada 2025.
"Dua kelurahan tersebut menjadi fondasi untuk memperluas penerapan DEKSI ke seluruh wilayah Kota Magelang," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang Istikomah.
Program ini tidak berhenti pada pemahaman mengenai perubahan iklim. Menurut dia, kelurahan dan kader kesehatan diarahkan mampu memetakan kerentanan wilayah masing-masing dan menyusun rencana aksi adaptasi kesehatan lingkungan di tingkat kelurahan.
Pewarta: Heru Suyitno
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.