Korban Penembakan di Sekolah Thailand Jadi 7 Orang, Pelaku Lebih Dulu Habisi Kakek Nenek
Kepemilikan senjata api cukup umum di Thailand. Negara tersebut juga mengalami serangkaian penembakan mematikan dalam enam tahun terakhir, termasuk sejumlah insiden yang menewaskan anak-anak.
Pembunuhan massal paling mematikan yang dilakukan seorang pelaku tunggal dalam sejarah modern Thailand terjadi pada 2022. Saat itu, seorang mantan polisi mengamuk selama tiga jam menggunakan senjata api dan pisau di wilayah timur laut Thailand hingga menewaskan 36 orang.
Sebanyak 22 korban merupakan anak-anak yang ditikam saat sedang tidur di sebuah tempat penitipan anak.
Sebelumnya, pada 2020, seorang tentara menewaskan 29 orang dalam aksi penembakan di Nakhon Ratchasima.
Pada 2023, seorang remaja berusia 14 tahun menggunakan pistol yang telah dimodifikasi untuk menewaskan dua orang dan melukai lima lainnya di sebuah pusat perbelanjaan mewah di Bangkok.
Setelah penembakan tersebut, Anutin, yang ketika itu menjabat sebagai menteri dalam negeri, memerintahkan serangkaian langkah untuk memperketat pengendalian senjata. Kebijakan itu antara lain mencakup penghentian sementara penerbitan izin baru, pembatasan impor, serta larangan bagi orang berusia di bawah 20 tahun untuk menggunakan lapangan tembak.
Langkah jangka panjang yang disiapkan mencakup kewajiban menyertakan surat keterangan medis untuk menilai kesehatan mental dan kondisi psikologis pemilik senjata, serta pemberlakuan masa berlaku untuk sejumlah jenis izin kepemilikan senjata.
Pada Juli 2025, seorang pria bersenjata menewaskan lima orang, termasuk petugas keamanan dan seorang pedagang, di sebuah pasar di Bangkok sebelum menembak dirinya sendiri.
Thailand diperkirakan memiliki 10,3 juta senjata api yang dimiliki warga sipil, atau sekitar 15 pucuk untuk setiap 100 penduduk. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara dan jauh melampaui negara-negara lain di kawasan, berdasarkan estimasi Small Arms Survey pada 2017.