gop-crypto.vip

Kisah Susanah Topang Ekonomi Keluarga, dari Jahit Kain Majun hingga Polemik Upah Rp700 Ribu

Bagikan:

BOGOR — Susanah (38) menjalani kehidupan dengan penuh kegigihan untuk menopang kebutuhan keluarganya. Tinggal di rumah sederhana berdinding tripleks bersama suami dan tiga anaknya, Susanah mengerjakan berbagai pekerjaan untuk menambah penghasilan keluarga.

Nama Susanah belakangan menjadi perhatian publik setelah muncul polemik mengenai pekerjaan mengupas bawang dengan klaim upah mencapai Rp700 ribu per kilogram. Namun, dalam keterangannya, Susanah justru menyebut pekerjaan yang rutin dilakukannya saat ini adalah menjahit kain majun dengan bayaran Rp700 per kilogram.

Polemik tersebut menjadi sorotan karena besaran upah Rp700 ribu per kilogram dinilai tidak sejalan dengan kondisi pekerjaan dan penghasilan yang disampaikan Susanah dalam keterangannya. Karena itu, informasi mengenai nominal upah mengupas bawang tersebut perlu diklarifikasi agar tidak menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.

Setiap pagi setelah salat Subuh dan menyiapkan sarapan untuk anak-anak, Susanah mengerjakan jahitan kain majun, yakni kain perca atau potongan sisa bahan yang dimanfaatkan kembali sebagai lap pembersih.

Pekerjaan tersebut dilakukan mulai sekitar pukul 07.00 hingga siang hari. Susanah mendapat upah Rp700 untuk setiap kilogram kain yang dijahit. Pada hari biasa, ia mampu menyelesaikan sekitar 20 kilogram kain. Saat hari libur, bersama sejumlah ibu lainnya, ia bahkan bisa mengerjakan hingga 50 kilogram.

“Alhamdulillah banget ya, meskipun sehari 20 kilo ngejahit, 20 kali Rp700 kan cuma berapa ya, Rp14.000. Ya, alhamdulillah saja buat hitung-hitung uang taruh, uang simpanan. Nanti kalau enggak ada uang jajan, tinggal minta gitu (ke bos),” kata Susanah di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, dalam wawancara dengan Badan Komunikasi Pemerintah RI, dikutip Jumat 14 Agustus.

Setelah menjahit, sekitar pukul 13.00 WIB, Susanah melanjutkan aktivitasnya dengan bekerja sebagai pencuci ompreng di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Siang kerja di (dapur) MBG sebagai cuci ompreng,” ujarnya.

Sementara itu, suaminya, Didim, bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu. Ketika mendapatkan pekerjaan, Didim memperoleh upah sekitar Rp120.000 hingga Rp150.000 per hari. Namun, tidak jarang ia tidak mendapatkan pekerjaan selama dua hingga tiga minggu.

Kondisi tersebut membuat Susanah dan keluarganya harus mengatur keuangan dengan cermat. Sejak 2024, keluarganya terdaftar sebagai penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH). Sebelumnya, Susanah juga sempat menerima bantuan sosial melalui Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).

Susanah menjadi salah satu penerima manfaat PKH yang namanya disebut Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR/MPR.

Bagi Susanah, bantuan PKH sangat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap kali bantuan diterima, ia langsung menggunakannya untuk membeli kebutuhan pokok, seperti beras, minyak goreng, telur, dan sabun.

“Setiap dapat bantuan, langsung aku beliin beras, beliin minyak, buat stok di rumah. Beliin sabun, beliin telur buat anak-anak,” kata Susanah.

Selain PKH, ketiga anak Susanah juga mendapatkan bantuan melalui Program Indonesia Pintar (PIP). Bantuan tersebut turut membantu Susanah memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya.

Pendidikan menjadi salah satu prioritas utama bagi Susanah dan suaminya. Meski hanya menempuh pendidikan hingga sekolah dasar, ia berharap ketiga anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin, bahkan hingga perguruan tinggi.

“Sekolah pokoknya penting buat anak. Dari mana jalannya, meskipun utang-utang, tetap sekolah. Biar dapat ijazah, biar enak ngelamar kerjanya,” ujarnya.

Susanah mengaku tidak ingin anak-anaknya merasakan kesulitan yang pernah dialaminya. Karena itu, ia berusaha mempertahankan pendidikan anak-anaknya meski kondisi ekonomi keluarga terbatas.

“Kalau masalah pendidikan ya, penting banget saya sama sekolah, apalagi mamak bapaknya cuma lulusan SD. Pengin nyekolahin anak, sebenarnya pengin sampai kuliah,” katanya.

Menurut Susanah, program pemerintah juga memberikan dampak langsung terhadap kehidupan keluarganya. PKH membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, sedangkan program MBG memberinya kesempatan memperoleh penghasilan tambahan.

“Dampaknya sih alhamdulillah ya, ekonomi jadi kebantu,” ujarnya.

Ke depan, Susanah memiliki keinginan untuk membangun usaha sendiri agar tidak selamanya bergantung pada orang lain. Ia juga berharap suaminya dapat memiliki usaha mandiri, salah satunya dengan beternak ayam.

“Kalau ekonomi membaik ya penginnya punya usaha sendiri, enggak dari orang. Kan ini semua punya bos, sampai ke mesin-mesin, ke peralatan gunting saja punya bos,” katanya.

Polemik mengenai nominal upah mengupas bawang tersebut diharapkan tidak mengaburkan persoalan utama yang dihadapi Susanah dan keluarganya, yakni bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah penghasilan yang terbatas dan tidak menentu.

BACA JUGA:


Susanah juga menyampaikan apresiasi atas bantuan pemerintah yang telah diterimanya melalui sejumlah program sosial.

“Terima kasih sudah ngadain bansos PKH buat kita-kita yang kurang mampu. Sama program MBG, saya jadi bisa kerja di MBG, jadi bisa bantu-bantu suami, nambah penghasilan. Sama program PIP, alhamdulillah anak saya tiga-tiganya juga dapat PIP,” tuturnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+