gop-crypto.vip

Kisah Haru Bocah Penyintas Kanker Otak, Wujudkan Mimpi Jadi Baker Sehari!

Jakarta -

Bocah penyintas kanker otak berusia 11 tahun akhirnya mewujudkan impian jadi baker. Cita-citanya tercapai berkat kejutan dari polisi dan toko roti setempat.

Di balik perjalanan panjang melawan penyakit, banyak anak tetap menyimpan mimpi yang ingin diwujudkan. Dukungan dari orang sekitar pun menjadi penyemangat tersendiri.

Salah satunya kisah haru yang datang dari Amerika Serikat. Seorang bocah mendapat kesempatan menjalani aktivitas yang selama ini hanya ia bayangkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari Eyewitness News, (23/7/2026), sosok Dilara Coker mendapat sorotan, bahkan oleh polisi di wilayah tempat tinggalnya. Bocah 11 tahun itu pernah berjuang melawan kanker otak sejak didiagnosa pada 2024.

Kisah Haru Bocah Penyintas Kanker Otak, Wujudkan Mimpi Jadi Baker Sehari!Seorang bocah penyintas kanker diberi kesempatan untuk mewujudkan impiannya dalam sehari. Foto: Eyewitness News

Selama menjalani pengobatan, ia harus melewati 17 kali radiasi pada kepala. Selain itu ada 13 kali radiasi pada tulang belakang.

Di tengah masa pengobatan, ada satu kegiatan yang selalu membuatnya merasa tenang. Aktivitas itu adalah membuat kue.

Baking menjadi pelarian kreatif baginya. Kesibukan di dapur membantu mengalihkan pikirannya dari proses pengobatan yang berat.

"Aku dulu membuat kue dari nol saat sedang sakit. Itu adalah kegiatan favoritku," ujar Dilara.

Keinginan Dilara untuk menjadi baker akhirnya terdengar oleh seorang polisi Suffolk County. Sosok itu adalah Officer Vincent Maio.

Perjumpaan itu membuat Maio memiliki satu tujuan. Ia ingin membantu mewujudkan salah satu impian Dilara.

Kisah Haru Bocah Penyintas Kanker Otak, Wujudkan Mimpi Jadi Baker Sehari!Ia diajak menjadi seorang baker di toko roti dalam sehari. Foto: Eyewitness News

Bersama Kepolisian Suffolk County, sebuah kejutan pun disiapkan. Dilara diajak datang ke La Roma Pastry Shop tanpa mengetahui rencana yang telah dibuat.

Sesampainya di sana, ia mendapat kesempatan menjadi baker selama sehari. Dilara belajar langsung dari para pembuat kue profesional.

Ia mengenakan perlengkapan baker dan masuk ke area dapur. Di sana ia mencoba berbagai proses pembuatan kue bersama tim toko roti.

Ibunya, Katelyn, tak bisa menyembunyikan rasa haru. Menurutnya sang putri memang pantas memperoleh pengalaman istimewa itu.

"Aku sampai menahan tangis, jujur saja. Tapi aku sangat bahagia melihat kondisinya kini begitu baik," tutup Maio.

(dfl/adr)