Khofifah: PKH datangi keluarga siswa SR 10 kali agar kembali sekolah - ANTARA News Jawa Timur
Tuban (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mendatangi keluarga calon siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Permanen Kabupaten Tuban hingga 10 kali agar anak putus sekolah bersedia kembali belajar.
"Ada pendamping PKH yang mendekati keluarga itu sampai 10 kali, baru mereka mengizinkan putra atau putrinya dikirim untuk sekolah di sini. Jadi, ada yang hunting untuk peserta didik," kata Khofifah saat meninjau SRT Permanen Kabupaten Tuban, Jatim, Rabu.
Ia mengatakan sebagian calon siswa merupakan anak yang telah lama terputus dari pendidikan formal, sehingga pemerintah harus melakukan penelusuran langsung ke keluarga.
"Kemudian, ada anak-anak yang saya tanya, 'kelas berapa?', belum tahu. Nah, itu artinya mereka kemungkinan besar putus sekolah," ujarnya.
Khofifah menjelaskan terdapat anak yang berhenti sekolah pada kelas dua hingga kelas empat sekolah dasar, lalu direkrut kembali untuk melanjutkan pendidikan melalui SRT.
"Karena ada yang mungkin drop out kelas 2, drop out kelas 3, drop out kelas 4. Nanti kalau masuk di sini kelas berapa? 'Kelas 4 SD'. Berarti dia kan drop out kelas 4," katanya.
Menurut dia, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menjalankan prinsip no one left behind dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), yakni tidak ada anak yang tertinggal dari layanan pendidikan.
Khofifah juga menyebut SRT Tuban menerima siswa dari Kabupaten Pati dan Kabupaten Bojonegoro, sehingga menjadi ruang interaksi lintas daerah bagi anak-anak dengan latar belakang berbeda.
Selain aspek rekrutmen, ia meminta sekolah menghadirkan psikolog sedikitnya sebulan sekali untuk mendukung adaptasi sosial siswa di asrama dan mencegah perundungan.
"Nah iya, makanya saya tadi bilang sama kepala sekolah, paling tidak tiap sebulan sekali itu dihadirkan psikolog. Kalau psikolog datang kan melakukan proses pendekatan pada anak-anak," ujarnya.
SRT Permanen Tuban dibangun melalui sinergi pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Tuban, dengan pemerintah daerah menyediakan lahan dan pemerintah pusat membangun gedung sekolah.
Khofifah menyatakan pembangunan fisik dijadwalkan rampung pada 31 Juli 2026, dan siswa mulai masuk asrama pada 30 Juli 2026.
Sementara itu, salah satu orang tua siswa, Sarni (33), warga Tambakboyo, Tuban, mengaku tidak pernah membayangkan anaknya dapat diterima di sekolah berfasilitas lengkap seperti SRT.
Ia menilai program sekolah gratis sangat membantu keluarga berpenghasilan rendah. "Sangat membantu bagi rakyat yang ke bawah seperti keluarga saya," ujarnya.
Sarni berharap putrinya, Risma, dapat betah belajar di SRT dan meraih cita-citanya. "Semoga semua cita-citamu tercapai, menjadi anak shalehah dan berguna bagi bangsa dan negara," katanya.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.