Ketika semua orang bisa viral, siapa yang masih bisa dipercaya? - ANTARA News Megapolitan
Depok (ANTARA) - Viralitas bisa lahir semalam. Kepercayaan dibangun bertahun-tahun. Ironisnya, apa yang dibangun bertahun-tahun kini dapat diguncang hanya dalam hitungan detik.
Paradoks reputasi yang terjadi di era digital inilah yang disampaikan Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, Program Vokasi Universitas Indonesia, dalam PR Summit 2026 yang diselenggarakan The Iconomics.
Forum tersebut menghadirkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. sebagai keynote speaker, bersama narasumber para praktisi Komunikasi & PR, antara lain Bram S Putro, Fardila Astari, Elin Yunita K, Jemmy Alexander.
Menurut Devie, AI dan algoritma telah membuat organisasi memiliki kemampuan luar biasa untuk memproduksi dan mendistribusikan pesan. Namun kemajuan teknologi menghadirkan sebuah paradoks yaitu AI bisa membuat sejuta pesan, tetapi belum tentu menghasilkan satu kepercayaan.
Karena itu, ukuran keberhasilan komunikasi tidak dapat berhenti pada reach, impressions, engagement, dan share of voice. Viralitas membuat kita dilihat, kepercayaan membuat kita dipilih, dan reputasi membuat kita tetap dipercaya. Bagi Devie, inilah tantangan besar public relations kontemporer.
“Reputasi tidak lagi hanya diperebutkan oleh organisasi dan media, tetapi juga dinegosiasikan setiap detik oleh publik, algoritma, percakapan digital, dan pengalaman manusia. Satu percakapan dapat menjadi tangkapan layar, menjadi potongan video, dan satu keluhan dapat berkembang menjadi percakapan publik. Karena itu, semakin cepat informasi bergerak, semakin hati-hati kepercayaan harus dirawat,” ujar Devie yang juga mendalami penelitian kecanduan game online.
Dalam paparan bertajuk “Rahasia Otak di Balik Komunikasi yang Mengubah Perilaku”, Devie menyampaikan bahwa komunikasi tidak berhenti sebagai proses transfer informasi. Bahkan sebelum manusia sepenuhnya memahami isi pembicaraan, sistem saraf terus membaca apakah situasi yang dihadapi terasa aman atau mengancam.
Dari Public Relations menuju Human Relations
Devie kemudian menawarkan Lima Tangga Biologis Komunikasi. Sebelum seseorang bersedia berubah, maka setiap individu perlu terlebih dahulu merasa aman, dilihat, didengar, dipahami, kemudian percaya.
Pembina Yayasan RKD (Ruang Karya Berdampak) ini, kemudian memperkenalkan formula S.A.F.E. (Slow Down, Acknowledge, Frame, dan Encourage), yaitu memperlambat respons ketika situasi memanas, mengakui emosi, menggeser percakapan menuju solusi, dan menghadirkan harapan.
Bagi Devie, prinsip tersebut semakin relevan dalam komunikasi krisis. Ketika reputasi terganggu, organisasi sering tergoda untuk berbicara lebih cepat, lebih keras, dan lebih banyak. Padahal publik tidak selalu membutuhkan lebih banyak pesan, namun, mereka membutuhkan alasan untuk kembali percaya.
Karena itu, masa depan PR tidak cukup berhenti pada Public Relations, tetap harus kembali kepada fondasi terdalamnya yaitu Human Relations.
rumus reputasi paling sederhana di era AI ialah pesan bisa dipercepat, perhatian bisa dilipatgandakan, tetapi reputasi hanya bisa dipertahankan dengan kepercayaan.
Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.