Ketika pendidikan tidak membedakan latar belakang siswa
Ketika pendidikan tidak membedakan latar belakang siswa
Senin, 10 Agustus 2026 15:59 WIB
Kepala SMP Negeri 15 Kota Yogyakarta Drs Siswanto menunjukkan piagam penghargaan Sekolah Ramah Anak. ANTARA/Hery Sidik
Yogyakarta (ANTARA) - Berjajar piagam penghargaan melengkapi pemandangan dinding di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, tapi terasa adem dan nyaman tersebut memberikan kesan yang rapi, tertata, dan penuh perjuangan di balik pencapaian prestasi.
Peletakan piagam penghargaan pada dinding tembok dengan dominan warna putih tersebut tentu bukan sekadar hiasan semata, melainkan sebuah bukti pengakuan terhadap prestasi yang setiap saat terlihat ketika berada di ruangan itu.
Inilah pemandangan di ruangan Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 15 Kota Yogyakarta, salah satu satuan pendidikan dengan predikat ramah anak di daerah yang dijuluki sebagai kota pendidikan.
Terpampang salah satunya piagam penghargaan dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan Penghargaan Anugerah Anak Jogja Kategori Sekolah/Madrasah Ramah Anak Terbaik Kepada SMP Negeri 15 Yogyakarta, atas jasanya dalam upaya perlindungan anak di DIY.
Selain itu, ada piagam penghargaan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Yogyakarta kepada SMP Negeri 15 Yogyakarta sebagai pemenang kategori Sekolah Ramah Anak dalam Anugerah Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak (KPAID Award).
Tidak ketinggalan pula piagam penghargaan dari Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta karena menjadi yang terbaik dari Lomba Sekolah Sehat (SLS) tingkat Yogyakarta, yang menambah deret prestasi dalam menciptakan sekolah ramah anak dan nyaman bagi peserta didik.
Sekolah ramah anak, menurut Kepala SMP Negeri 15 Yogyakarta Drs Siswanto, konsep awal, sejatinya adalah pendidikan atau sistem pembelajaran yang inklusif.
"Pendidikan inklusif itu adalah pendidikan yang tidak membedakan-bedakan bagi jenis kelamin, karakter, gender, suku, ras, agama, dan semuanya. Dan itu semua dapat terfasilitasi di sini dalam pembelajaran," katanya.
Bagi Siswanto, konsep sekolah ramah tersebut inti sebenarnya adalah dalam pembelajaran, yakni bagaimana sekolah atau satuan pendidikan bisa memfasilitasi semua anak tanpa melihat latar belakangnya.
Apapun latar belakangnya, SMP Negeri 15 Yogyakarta telah memfasilitasi, termasuk bagi anak-anak kebutuhan khusus atau disabilitas yang setiap tahun dengan kuota tertentu diterima atau ditampung melalui jalur disabilitas pada seleksi penerimaan siswa baru (SPMB).
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026