Kesiapan Dana Pensiun Rendah, Lansia Bergantung pada Keluarga |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kesiapan finansial menghadapi masa pensiun masih menjadi tantangan ketika jumlah penduduk lansia terus bertambah. Riset DBS Foundation mencatat 82,96 persen rumah tangga lansia masih bergantung pada penghasilan anggota keluarga yang bekerja, sementara kurang dari 1 persen mengandalkan tabungan dan investasi sebagai sumber kehidupan ekonomi.
Kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar rumah tangga lansia masih mengandalkan generasi usia produktif untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Tantangan ini berpotensi semakin besar seiring perubahan struktur penduduk Indonesia menuju masyarakat menua.
Riset bertajuk Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita? menyebut proporsi penduduk lansia Indonesia telah mencapai 12 persen pada 2025 dan diproyeksikan melebihi 20 persen pada 2045. Peningkatan jumlah lansia membuat kesiapan finansial sebelum memasuki usia tidak produktif menjadi semakin penting.
Di sisi lain, akses masyarakat terhadap layanan keuangan sudah relatif tinggi. Pada kelompok usia 18-50 tahun, inklusi keuangan mencapai 93,5-95,1 persen dengan literasi keuangan 72,1-74,1 persen, tetapi kepemilikan tabungan atau dana pensiun baru mencapai 5,37 persen dan pemahaman mengenai pentingnya dana pensiun 27,79 persen.
Kesenjangan tersebut menunjukkan akses terhadap layanan keuangan belum otomatis membuat masyarakat memiliki persiapan pensiun. Riset DBS Foundation menilai perluasan skema dana pensiun yang lebih fleksibel, terutama bagi pekerja sektor informal dan wiraswasta, diperlukan untuk memperluas cakupan program pensiun.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan persoalan masyarakat menua memiliki dampak terhadap berbagai kelompok usia. “Ageing society merupakan isu penting bagi kami karena memiliki implikasi bagi seluruh generasi. Di DBS Foundation, kami percaya persiapan menghadapi populasi menua perlu dipersiapkan sejak usia produktif,” ujar Mona di Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Menurut Mona, persiapan menghadapi populasi menua mencakup sejumlah aspek, mulai dari pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, literasi dan inklusi keuangan, hingga persiapan pensiun.
Tantangan persiapan pensiun juga berkaitan dengan kondisi ketenagakerjaan lansia. Riset tersebut mencatat 55,32 persen lansia masih bekerja dan 84,75 persen di antaranya bekerja di sektor informal.
Sementara itu, sebanyak 59,42 persen tenaga kerja nasional berada di sektor informal. Kelompok pekerja ini menghadapi pendapatan yang relatif rendah dan tidak menentu serta akses yang lebih terbatas terhadap tunjangan ketenagakerjaan dan skema pensiun formal.
Perubahan struktur keluarga turut memengaruhi kemampuan rumah tangga menopang anggota keluarga lanjut usia. Tingkat fertilitas total turun dari 3,11 anak per perempuan pada awal 1990-an menjadi 2,13 pada 2024 dan diproyeksikan mencapai 1,97 pada 2045.
Kondisi tersebut membuat jumlah anggota keluarga usia produktif yang dapat berbagi tanggung jawab finansial dan perawatan orang tua berpotensi semakin terbatas. Ketergantungan finansial lansia pada keluarga karena itu perlu dilihat bersamaan dengan perubahan pola demografi dan struktur rumah tangga.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK Woro Srihastuti Sulistyaningrum mengatakan persiapan menghadapi usia lanjut perlu dilakukan sejak setiap tahapan kehidupan. “Kita perlu memastikan bahwa setiap tahapan kehidupan mendapat perhatian yang tepat, mulai dari masa awal kehidupan, pendidikan, usia produktif, hingga memasuki usia lanjut,” ujar Woro.
Riset DBS Foundation menilai persiapan masa pensiun tidak cukup mengandalkan kebiasaan menabung individu. Kesiapan tersebut perlu didukung pendidikan, pekerjaan yang layak, kemampuan finansial, perluasan cakupan program pensiun, dan perlindungan sosial yang berjalan sepanjang siklus kehidupan.
Dengan jumlah lansia yang diproyeksikan terus meningkat, kemampuan masyarakat membangun sumber pendapatan pada masa tua akan semakin menentukan tingkat ketergantungan antargenerasi. Perluasan akses terhadap instrumen pensiun, terutama bagi pekerja yang berada di luar sektor formal, menjadi salah satu tantangan dalam menghadapi perubahan struktur penduduk tersebut.