gop-crypto.vip

Kerja Kantoran Tidak Manusiawi, Semua Gerak-Gerik Karyawan Dipantau

Jakarta, CNBC Indonesia - "Anda sedang diawasi." Itulah keluhan yang kini terdengar dari tempat kerja di berbagai belahan dunia. Teknologi AI tidak lagi hanya mengerjakan tugas, melainkan mengawasi setiap ucapan, gerak-gerik, dan interaksi karyawan secara terus-menerus, dikutip Senin (19/10/2026).

Di Inggris, perusahaan jasa hukum keanggotaan The Co-op dikabarkan menggunakan model AI dari OpenAI untuk memantau seluruh percakapan telepon para pegawainya. Sistem ini menganalisis lebih dari 50 aspek berbeda dalam setiap percakapan, lalu memberikan nilai lulus atau gagal secara otomatis. Karyawan dipantau berjam-jam setiap harinya, tak ada satu kata pun yang terlewat.

"Anda diawasi. Ini berbeda dengan sesekali didengarkan untuk kepatuhan. Setiap kata yang diucap, setiap kali berbicara, semuanya dicatat. Rasanya seperti di dunia yang tak lagi manusiawi," ungkap salah satu pegawai kepada The Guardian.

Pihak perusahaan membela diri dengan menyebut kecerdasan buatan hanyalah alat pendukung, bukan pengambil keputusan akhir.

Namun serikat pekerja menolak penjelasan itu. "Sistem yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tidak seharusnya menjadi atasan seseorang. Pekerja ini berhak dihormati, bukan dinilai tanpa henti oleh mesin."

Kondisi di Amerika Serikat tidak jauh berbeda. Sebuah survei ExpressVPN yang dikutip Futurism 61 persen tempat kerja sudah menggunakan perangkat lunak analisis AI untuk mengukur kinerja karyawan.

Burger King misalnya mewajibkan karyawan memakai alat pendengar yang terhubung ke AI, untuk memantau keramahan pelayanan sekaligus memberikan perintah langsung lewat pesan otomatis. Pemilik Instagram dan WhatsApp, Meta, sempat menerapkan sistem yang merekam setiap ketikan jari dan tampilan layar pekerja untuk melatih AI mereka. Sistem itu akhirnya dihentikan setelah data pribadi ikut terekspos

Para pengamat memperingatkan bahwa kecerdasan buatan mengubah sifat kerja itu sendiri. Jika tidak menggantikan pekerja, teknologi ini justru menambah beban kerja dan menaikkan tekanan pengawasan. Setiap interaksi diubah menjadi data angka yang bisa dibandingkan, dirata-ratakan, dan dinilai tanpa henti.

Cara ini dikritik berpotensi mengubah standar kerja menjadi tak manusiawi. Mesin tidak mengenal lelah dan tidak mengenal suasana hati. Jika dipakai untuk menilai manusia, lama-kelamaan manusia akan menyesuaikan diri agar terlihat baik di mata mesin.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]