Kenapa Ada Banyak “Pasar Baru” di Indonesia? - Wisata dan Kuliner Katadata.co.id
Coba sebut satu kota besar di Indonesia, kemungkinan besar di sana ada jalan atau kawasan bernama Pasar Baru. Kemunculan nama itu di begitu banyak tempat bukan kebetulan.
Polanya mirip di mana-mana, yaitu setiap kali sebuah pasar dibangun untuk melengkapi atau menggantikan pasar yang sudah ada, cara paling gampang menyebutnya dibandingkan dengan yang lama. Nama yang sebenarnya cuma deskripsi sementara itu lalu menempel begitu saja selama berabad-abad, jauh setelah pasarnya sendiri tidak lagi baru.
1. Pasar Baru Jakarta, Berdiri Sejak 1820
Pasar Baru di Sawah Besar, Jakarta Pusat, mungkin yang paling dikenal. Dulu namanya Passer Baroe, berdiri sekitar 1820 ketika Batavia masih di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Disebut "baru" karena kehadirannya menyusul dua pasar besar lain yang sudah lebih dulu ramai sejak 1730-an, yaitu Tanah Abang dan Senen.
Pembangunannya tak lepas dari kebijakan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang memindahkan pusat pemerintahan Hindia Belanda dari Batavia lama ke kawasan baru bernama Weltevreden, sekitar Gambir dan Lapangan Banteng sekarang.
Letaknya yang dekat kawasan elite Rijswijk, kini Jalan Veteran, membuat Pasar Baru pada masanya jadi pusat belanja bergengsi untuk warga Eropa.
Tapi lambat laun berubah jadi tempat bertemunya banyak etnis, mulai dari pedagang pribumi, Tionghoa, lalu komunitas India yang akhirnya menetap di sana dan membuat kawasan ini dijuluki "Little India"-nya Jakarta.
Pasar Baru sendiri bukan bagian dari Pecinan resmi Jakarta yang berpusat di Glodok tidak jauh dari sana. Tapi, nuansa Tionghoa-nya tetap kental. Pedagang Tionghoa lama mendominasi jenis usaha di sana, dan gerbang gapura pasar ini dibangun dengan arsitektur khas Tionghoa yang jadi ciri khasnya sampai sekarang.
2. Pasar Baru Bandung, Lahir dari Abu Pasar yang Terbakar
Kini bernama Pasar Baru Trade Center di Jalan Otto Iskandardinata. Sebelumnya, Bandung punya pasar bernama Ciguriang. Pada akhir 1842, pasar itu dibakar dalam huru-hara yang dipicu Munada, seorang mualaf keturunan Tionghoa yang menaruh dendam pada pejabat kolonial setempat.
Kota itu sempat tanpa pasar besar selama puluhan tahun, sampai akhirnya dibangun pasar pengganti yang namanya sederhana saja, Pasar Baru.
Kawasan ini berkembang pesat, dan pada 1906 sudah punya bangunan permanen. Saudagar pribumi, Arab, dan Tionghoa berdagang berdampingan di sana, dan jejaknya masih bisa dilihat lewat nama-nama gang di sekitarnya.
Persis di seberang Pasar Baru ada kawasan yang sampai sekarang masih disebut Pecinan Lama, jejak dari masa ketika penduduk Tionghoa di Bandung terkonsentrasi di sekitar situ.
Kedua kawasan ini begitu menyatu secara historis sampai-sampai Pemkot Bandung tahun ini tengah menyiapkan rencana menggabungkan Pasar Baru dan Pecinan Lama jadi satu kawasan ekonomi khusus untuk wisata kuliner.
3. Pasar Gang Baru Semarang, "Baru" di Tengah Pecinan
Pasar Gang Baru tumbuh di jantung kawasan Pecinan Kranggan, tapi ceritanya beda dari kebanyakan pasar kolonial lain. Setelah Geger Pacinan pada 1740, komunitas Tionghoa yang bertahan di Semarang butuh pasokan logistik harian yang dekat dari rumah mereka.
Sejak awal abad ke-19, pedagang sayur, hasil bumi, dan daging segar dari wilayah pinggiran mulai menggelar lapak di sepanjang gang permukiman itu, dan karena aktivitasnya kian ramai, jalan ini pun dinamai Gang Baru untuk membedakannya dari gang-gang hunian murni di sekitarnya.
Menjelang akhir abad ke-19, seiring makin makmurnya para saudagar di Pecinan, rumah-rumah kayu sederhana di sepanjang Gang Baru dibangun ulang jadi ruko permanen bergaya Indisch-Chinese, memadukan struktur toko-hunian khas Tionghoa Selatan dengan sentuhan arsitektur kolonial Belanda.
Kini kawasan ini dikenal sebagai Pasar Wisata Gang Baru, salah satu pasar tradisional tertua di Semarang yang masih mempertahankan wajah ruko-ruko bersejarahnya.
Kenapa Nama "Pasar Baru" Begitu Umum di Kota-Kota Besar Indonesia?
Kata "baru" pada awalnya bukan nama, melainkan sekadar deskripsi fungsional. Setiap kali sebuah pasar hadir untuk melengkapi atau menggantikan yang sudah ada, cara termudah menyebutnya adalah dengan membandingkannya dengan yang lama.
Pola ini makin sering muncul karena kota-kota di Nusantara kerap mengalami perpindahan pusat ekonomi. Ketika pemerintah kolonial Belanda menggeser pusat administrasi dan pemerintahan, kawasan dagang baru pun ikut tumbuh mengikuti pusat kekuasaan yang baru itu.
Bencana juga sering jadi pemicu langsung. Kasus Bandung menunjukkan bagaimana kebakaran bisa menghanguskan sebuah pasar lama, sehingga pasar pengganti dibangun.
Kedekatan dengan Pecinan juga bukan kebetulan. Warga Tionghoa sudah lama jadi pemain penting dalam roda perdagangan kolonial, jadi di mana pun sebuah pasar baru dibangun atau berkembang, komunitas ini biasanya ikut ambil bagian, bahkan jadi motor penggeraknya, seperti terlihat jelas di Bandung dan Semarang.
Kadang kawasan dagang baru itu tumbuh menyatu dengan Pecinan yang sudah ada, kadang malah pasar itu sendiri yang jadi cikal bakal Pecinan tumbuh di sekitarnya.
Nama yang awalnya hanya berarti “pasar yang baru” itu akhirnya menjadi bagian dari sejarah kota. Bahkan ketika pasarnya sendiri sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun, kata “baru” tetap bertahan.