gop-crypto.vip

Kenalkan STEM sejak PAUD, Mendikdasmen: Belajar sains mudah dan murah

Kenalkan STEM sejak PAUD, Mendikdasmen: Belajar sains mudah dan murah

Kamis, 3 September 2026 16:35 WIB

Image Print

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyampaikan pesan kunci dalam kegiatan Peluncuran Program STEM Nasional di PAUD Terpadu Kalirejo, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah pada Kamis (3/9/2026). ANTARA/Hana Dewi Kinarina Kaban

Kudus (ANTARA) - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan pengenalan pembelajaran Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) sejak jenjang PAUD bukanlah hal sulit dan mahal karena menitikberatkan pada pengenalan dengan lingkungan sekitar hingga lingkungan alam.

Ia mengatakan pengenalan pembelajaran STEM sejak PAUD tersebut akan mengusung konsep STEM 5M, yakni STEM yang mudah, murah, menggembirakan, mindful dan meaningful.

“Saya ingin menumbuhkan kecintaan dan kemampuan pada teknologi sejak dini sehingga mitos bahwa sains itu susah, sains itu mahal, itu harus diubah. Nah, kalau bicara teori growth mindset, kata kunci pertama untuk memulai sesuatu adalah membangun mindset-nya dulu. Sehingga mindset itu kami ubah dengan sains itu mudah dan sains itu murah,” kata Mu'ti saat membuka kegiatan Peluncuran Program STEM Nasional di PAUD Terpadu Kalirejo, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah pada Kamis.

Karena itu, ia mengatakan pengenalan pembelajaran STEM nantinya tidak harus membeli peralatan laboratorium maupun Alat Permainan Edukatif (APE) yang nominalnya mahal karena seluruh satuan pendidikan dapat memanfaatkan berbagai benda maupun fenomena alam sehari-hari.

Secara khusus untuk jenjang PAUD, Mu’ti mengatakan pembelajaran STEM utamanya bertujuan untuk membangun rasa ingin tahu dan menanamkan kesadaran terhadap lingkungan sekitar yang nyata.

Pihaknya berharap murid PAUD nantinya dapat memahami dan menerapkan prinsip-prinsip sederhana STEM dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu, ia berpesan kepada para guru maupun tenaga pendidik PAUD agar materi STEM yang diajarkan nantinya tidak didominasi dengan konten pengetahuan kognitif semata, melainkan dipadukan dengan berbagai kegiatan yang melibatkan pancaindra murid, yakni imajinasi maupun interaksi antarmurid.

“Jadi pembelajaran STEM juga bisa berasal dari fenomena banjir, hujan misalnya. Jadi STEM itu tidak harus selalu di ruangan laboratorium yang canggih, mahal. Itu tidak salah, tapi tidak harus begitu STEM itu. Jangan jejali pembelajaran STEM di TK nanti dengan berbagai macam konten yang sifatnya pengetahuan kognitif, perbanyaklah ruang gerak mereka, perbanyaklah ruang imajinasi mereka, perbanyaklah ruang interaksi mereka dengan sesama,” ujarnya.

Pewarta : Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026