gop-crypto.vip

Kementerian Investasi: Ekonomi Indonesia masih tunjukkan resiliensi di tengah ekonomi global

Kementerian Investasi: Ekonomi Indonesia masih tunjukkan resiliensi di tengah ekonomi global

Kamis, 27 Agustus 2026 21:04 WIB

Image Print

Calon investor berdiskusi pada ajang Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026, di Jakarta, Kamis (27/8/2026). ANTARA/Zuhdiar Laeis

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia masih menunjukkan resiliensi di tengah kondisi ekonomi global saat ini.

Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Ichsan Zulkarnaen, di Jakarta, Kamis, menyampaikan bahwa kondisi ekonomi global ini memang tidak sedang baik-baik saja.

Kondisi ekonomi global tersebut dipengaruhi, antara lain Perang Iran dan Amerika Serikat yang tak kunjung berakhir, diikuti dengan naiknya harga untuk sektor energi maupun non-energi, dan suku bunga.

Hal tersebut disampaikannya pada Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 yang bertema "Accelerating Investment Growth in Central Java Through Sustainable Development and Regional Competitiveness".

"Ini juga menunjukkan bahwa ada kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah maupun Bank Indonesia untuk bisa menahan dampak negatif dari perlambatan ekonomi global dan juga kemungkinan resesi," katanya.

Merujuk dari data beberapa lembaga, kata dia, probabilitas Indonesia akan terkena resesi sebenarnya persentasenya relatif lebih rendah dibandingkan dengan beberapa negara lainnya

"Namun demikian, tetap kita harus waspada. Walaupun probabilitas yang rendah. Pemerintah tentu terus akan mencoba untuk mengantisipasi," katanya.

Sejauh ini, kata dia, fundamental makro tetap terjaga, seperti pertumbuhan ekonomi di kuartal II bisa mencapai di atas 5 persen, yakni 5,29 persen, serta inflasi selama Juli 2026 tetap terjaga.

Kemudian, lanjut dia, Indeks Keyakinan Konsumen juga tetap terjaga di atas 100 yang mencerminkan daya tahan atau daya beli masyarakat, dan cadangan devisa masih setara 5,5 bulan impor.

Selain itu, ia menyebutkan bahwa rasio utang luar negeri Indonesia cukup rendah di angka sekitar 30 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto).

"Ini sebetulnya angka-angka makro yang mencerminkan sebetulnya secara makro sekali lagi kondisi ekonomi Indonesia itu masih cukup 'resiliens'," katanya.

Dari sisi investasi, kata dia, menunjukkan pertumbuhan yang cukup cepat, yakni sampai dengan triwulan II 2026 tercatat investasi sekitar Rp1.010 triliun.

"Investasi kita selama satu semester sampai dengan bulan Juni kemarin itu mencapai sekitar Rp1.010 triliun. Jadi, satu semester itu kira-kira tumbuh antara 7,1-7,2 persen," katanya.

Baca juga: Mahasiswa KKN UIN Walisongo pasang lakban reflektor di Dusun Pengkol, Kabupaten Semarang

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.