Kemenperin Ungkap Kondisi Industri Tekstil Jelang Pembentukan BUMN Tekstil - Industri Katadata.co.id
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai kinerja industri tekstil saat ini cukup baik, terutama industri yang berorientasi ekspor. Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan di tengah rencana pemerintah membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor tekstil.
Staf Khusus Menteri Perindustrian sekaligus Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengatakan pihaknya belum dapat menjelaskan bentuk ideal BUMN tekstil yang akan dibentuk pemerintah.
Namun, berdasarkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI), kinerja subsektor industri tekstil saat ini dinilai cukup baik. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi momentum untuk mengembangkan industri tekstil.
"Kalau bentuk ideal kami belum bisa sampaikan, tapi berdasarkan Indeks Kepercayaan Industri, subsektor industri tekstil saat ini kinerjanya bagus. Jadi saatnya kalau mau bangun industri tekstil sekarang," ujar Febri di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu (30/9).
Meski demikian, Febri menekankan kondisi industri tekstil berbeda dengan industri pakaian jadi atau garmen. Industri tekstil yang berorientasi ekspor dinilai memiliki kinerja yang baik, sedangkan garmen yang menyasar pasar domestik masih mengalami kontraksi.
"Industri tekstil untuk yang berorientasi ekspor bagus, industri pakaian jadi yang berorientasi ekspor permintaannya bagus, produksinya juga bagus. Namun, industri garmen atau industri pakaian jadi yang berorientasi domestik kinerjanya masih kontraksi," katanya.
Kemenperin menduga tekanan terhadap industri garmen domestik salah satunya berasal dari masuknya produk pakaian jadi impor dengan harga murah. Karena itu, Kemenperin mendukung pengetatan masuknya produk pakaian jadi impor, terutama yang ilegal.
"Makanya kami mendukung arahan Presiden untuk pengetatan perbatasan, terutama pembatasan produk impor, dan terutama produk impor pakaian jadi ilegal," ujar Febri.
Industri Tekstil dan Pakaian Jadi Tumbuh 6,36%
Data Kemenperin menunjukkan industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36% secara tahunan pada kuartal II 2026. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan kuartal I 2026 yang sebesar 4,86%.
Sepanjang 2025, industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 3,55%, setelah tumbuh 4,26% pada 2024.
Dari sisi perdagangan, sektor industri kimia, farmasi dan tekstil (IKFT) masih mencatat surplus. Pada 2025, ekspor sektor tersebut mencapai US$ 54,03 miliar, sedangkan impor sebesar US$ 49,55 miliar.
Khusus komoditas pakaian jadi, nilai ekspor pada 2025 mencapai US$ 7,27 miliar pada Januari – Juli 2026, ekspor pakaian jadi tercatat US$ 4,35 miliar, naik dari US$ 4,21 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, industri tekstil menghadapi persoalan tenaga kerja. Data Kemenperin menunjukkan jumlah tenaga kerja industri tekstil turun dari 1,08 juta orang pada 2024 menjadi 1,013 juta orang pada 2025.
Sementara itu, tenaga kerja industri pakaian jadi justru meningkat dari 2,896 juta orang pada 2024 menjadi 2,943 juta orang pada 2025.
Febri mengatakan perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa industri tekstil dan pakaian jadi perlu dilihat sebagai subsektor yang berbeda, terutama berdasarkan orientasi pasarnya.