gop-crypto.vip

Kemenko PMK dorong penguatan kerja sama akademik global demi cetak talenta unggul - ANTARA News Megapolitan

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mendorong penguatan program gelar bersama (joint degree) dan penelitian bersama (joint research) guna memperluas ekosistem talenta serta daya saing riset Indonesia di tingkat global.

Langkah ini mendesak dilakukan untuk menjawab tantangan penyiapan sumber daya manusia yang mampu bersaing di kancah internasional sekaligus berkonstribusi pada pembangunan nasional. Peningkatan kapasitas akademik dan riset melalui kemitraan internasional dipandang menjadi instrumen strategis guna meraih penarikan talenta (brain gain) bagi Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno dalam keterangan, Kamis, menyatakan bahwa penguatan skema kerja sama internasional ini merupakan bagian vital dari pembangunan ekosistem talenta nasional. 

Menurutnya, program gelar bersama dapat memperkuat pengalaman akademik internasional sekaligus membantu meningkatkan reputasi perguruan tinggi, sementara penelitian bersama dapat memperkuat produksi pengetahuan dan kolaborasi riset yang lebih relevan dengan kebutuhan pembangunan.

Sejalan dengan hal tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK Ojat Darojat menegaskan bahwa pengembangan talenta tidak boleh berhenti pada proses pendidikan.

Ekosistem pendidikan tinggi dan riset perlu mampu mendukung pertahanan talenta (talent retention) dan akuisisi talenta (talent acquisition) agar SDM yang telah dikembangkan dapat berkontribusi penuh bagi kemajuan bangsa.

Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan implementasi kerja sama internasional belum berjalan optimal. Paparan data survei Katadata Insight Center (KIC) dalam diskusi kelompok terpumpun (Focus Group Discussion) di Jakarta menunjukkan sebanyak 89,7 persen perguruan tinggi responden telah memiliki unit khusus kerja sama internasional, tetapi hanya 21,1 persen yang programnya telah berjalan penuh. Hambatan utama berakar pada perbedaan standar akademik antarnegara yang dialami 68,4 persen responden, keterbatasan sumber daya manusia sebesar 53,2 persen, serta keterbatasan pembiayaan yang mencapai 69 persen.

Menanggapi kendala tersebut, perwakilan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fajar Priyautama menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan penyederhanaan regulasi dan memfasilitasi pengakuan kredit (credit recognition) kurikulum.

Namun, ia mengakui bahwa skema pendanaan khusus untuk gelar bersama saat ini belum tersedia dan masih mengandalkan biaya mandiri perguruan tinggi maupun mahasiswa.

Guna menutup celah pembiayaan dan memperkuat jaringan riset, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional Prof. Edy Giri Rachman Putra menyampaikan bahwa pihaknya telah menyediakan wadah talenta (talent pool) serta tengah mengembangkan platform konsorsium riset yang didukung pembiayaan bersama lembaga donor. 

Senada hal itu, Direktur Fasilitasi Riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Ayom Widipaminto menekankan pentingnya ketersediaan anggaran yang diimbangi dengan mekanisme fleksibel agar mampu menjangkau kebutuhan riset kolaboratif secara efektif.

Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.