Kemenkes siapkan rekomendasi PJJ saat udara memburuk, respons karhutla
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan sedang menyiapkan surat edaran terkait dengan pengurangan aktivitas luar ruangan, misalnya dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ), saat kualitas udara memburuk sebagai respons terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes dr Then Suyanti di Jakarta, Rabu, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama untuk mendorong penerapan PJJ tersebut.
"Jadi memang surat edaran sedang kita siapkan, mungkin dalam dua hari ini kita akan terbit surat edaran tersebut dari sekjen," katanya.
Ia menyebutkan langkah ini untuk melindungi kelompok rentan dari dampak asap karhutla.
Ia mengatakan sudah ada surat edaran Menteri Lingkungan Hidup kepada para gubernur, wali kota, dan bupati, terkait dengan pemantauan situasi kualitas udara tersebut.
"Disarankan untuk, sama ya, bahwa untuk sekolah diharapkan tidak perlu tatap muka dengan kondisi ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) yang meningkat," katanya.
Baca juga: MPA di Jambi kompak padamkan api cegah kebakaran meluas
Berdasarkan data per 22 Agustus, intensitas karhutla tertinggi ditemukan di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan sejumlah daerah lainnya.
"Berdasarkan tadi jam lima pagi data ISPU yang kami pantau dari 17 stasiun, yang saat ini kondisi yang berbahaya ada di Kabupaten Muaro Jambi, dengan nilai ISPU-nya 302, kemudian di Palangkaraya, Jekan Raya, di Kalimantan Tengah dengan 573. Ini berbahaya," katanya.
Sebagai gambaran, katanya, 0-50 skor yang menunjukkan kualitas udara yang baik dan skor 201-300 menunjukkan kualitas udara yang sangat tidak sehat dan dapat me ningkatkan risiko kesehatan.
"Adanya PM 2,5 yang tinggi, tingkat pajanannya sangat luas, karena di mana-mana udara itu ada tidak ada batasan, dan kelompok rentan menjadi perhatian kita sama-sama karena gampang terkena penyakit, dan ini perlunya respons cepat kita semua," katanya.
Dia menyebutkan risiko kesehatan tidak hanya ditentukan oleh konsentrasi polutan, namun juga durasi aktivitas dan kerentanan individu.
Berbagai gangguan kesehatan yang dapat timbul seperti infeksi saluran pernapasan akut (ispa), gangguan mata dan kulit, serta meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
Then memaparkan upaya-upaya untuk mencegah dampak kesehatan dari karhutla ini, mulai dari mengedukasi publik untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan memakai masker, memantau kualitas udara, dan menerapkan pola hidup bersih sehat.
Selain itu, memastikan ketersediaan obat-obatan dan fasilitas layanan kesehatan, serta melakukan evaluasi dan skrining kesehatan berkala.
Baca juga: 10 penerbangan terdampak asap di Bandara Internasional Syamsudin Noor
Baca juga: Polda Jambi terjunkan 873 personel bantu tangani karhutla
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.