Kemendukbangga gandeng mitra global kapitalisasi bonus demografi
Kita membutuhkan keluarga yang sehat dan tangguh, generasi muda yang berkualitas, perempuan dan laki-laki yang produktif, serta kita membutuhkan sistem perlindungan sosial yang memadai
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN terus menjalin kemitraan global untuk kapitalisasi bonus demografi agar jumlah penduduk usia produktif yang saat ini mendominasi dapat dimanfaatkan potensinya secara optimal guna mencapai Indonesia Emas.
"Saat ini Indonesia tengah memasuki masa bonus demografi, tetapi kita juga tahu bahwa ada begitu banyak tantangan yang dihadapi, sehingga membutuhkan kolaborasi bersama, tidak hanya pemerintah pusat, tetapi juga lembaga-lembaga di bawah PBB untuk bersama-sama menjalankan program-program terkait pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana, termasuk salah satunya pencegahan stunting," kata Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka di Jakarta pada Kamis.
Selama ini pihaknya telah menjalin berbagai kolaborasi dengan lembaga-lembaga seperti Dana Kependudukan PBB (UNFPA) dan Dana Anak PBB (UNICEF) untuk meningkatkan kualitas generasi masa depan bangsa melalui berbagai program.
Baca juga: Kemendukbangga ingatkan pentingnya kelola penduduk usia produktif
"Termasuk juga tentang anak-anak muda, kemudian dari UNICEF tentu saja program tentang anak-anak, termasuk remaja ada di dalamnya, dan salah satunya Generasi Berencana (Genre) itu agar bagaimana kita bisa memanfaatkan bonus demografi ini," ujar Wamendukbangga.
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2025, jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai sekitar 284 juta jiwa dengan sekitar 196 juta jiwa atau 68,94 persen berada pada kondisi penduduk usia produktif. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia saat ini tengah berada pada puncak bonus demografi.
Menurut Isyana, besarnya proporsi penduduk usia produktif menjadi peluang yang besar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang sejahtera dan memiliki daya saing.
Baca juga: Kemendukbangga: Disparitas antarwilayah tantangan pemerataan ekonomi
Namun demikian bonus demografi tidak semata-mata menjadi dividen demografi, kata dia, dibutuhkan investasi pada manusia sepanjang siklus kehidupan, dimulai dari anak-anak, memasuki usia remaja, usia produktif baik laki-laki maupun perempuan, hingga memaksimalkan penduduk usia lanjut (lansia).
"Tentu saja ini membutuhkan keluarga yang sehat dan tangguh, manusia yang produktif, serta perlindungan sosial yang memadai. Hal ini sejalan dengan AstaCita keempat Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas," paparnya.
Menurut Isyana, pembangunan sumber daya manusia menjadi kunci agar bonus demografi dapat benar-benar menjadi kekuatan ekonomi dan sosial bagi Indonesia.
"Kita membutuhkan keluarga yang sehat dan tangguh, generasi muda yang berkualitas, perempuan dan laki-laki yang produktif, serta kita membutuhkan sistem perlindungan sosial yang memadai," tutur Wamendukbangga Isyana Bagoes Oka.
Baca juga: Kemendukbangga dukung investasi pendidikan untuk bonus demografi
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.