Kekurangan Zat Besi Bisa Ganggu Otak Hingga Tumbuh Kembang Anak
CNN Indonesia
Kamis, 27 Agu 2026 23:47 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Kekurangan zat besi pada anak menjadi salah satu masalah yang perlu diperhatikan orang tua. Meski kerap tidak disadari sejak awal, kondisi ini dapat berkembang menjadi anemia defisiensi besi dan memengaruhi berbagai aspek tumbuh kembang anak.
Zat besi merupakan mineral penting yang dibutuhkan tubuh, salah satunya untuk membentuk hemoglobin. Protein dalam sel darah merah tersebut berfungsi membawa oksigen ke berbagai jaringan tubuh, termasuk otak.
Dokter Spesialis Anak Ria Yoanita mengatakan kecukupan zat besi memiliki kaitan dengan aktivitas dan kemampuan belajar anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Zat besi berperan penting dalam pembentukan hemoglobin untuk mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak. Kecukupan zat besi sangat memengaruhi aktivitas, kemampuan belajar, dan perkembangan anak sesuai usianya," jelas Ria dalam keterangannya.
Ketika kebutuhan zat besi tidak terpenuhi, tubuh dapat kesulitan memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.
Pada anak, anemia tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Kekurangan zat besi juga perlu diperhatikan karena dapat berdampak pada aktivitas sehari-hari serta proses belajar dan perkembangan sesuai usia.
"Karena itu, pemenuhan zat besi sebaiknya menjadi bagian dari pola makan anak sehari-hari. Orang tua juga perlu memperhatikan variasi makanan agar kebutuhan berbagai zat gizi dapat terpenuhi," katanya.
Pilihan Redaksi
- Apakah Bayi Boleh Minum Susu UHT? Simak Jawabannya di Sini
- Anemia pada Anak Masih Tinggi, Ini Cara Mencegahnya Sejak Dini
- Hari Anak Nasional: 4 Masalah Kesehatan Ini Bisa Gerus Kecerdasan Anak
Ria menyarankan orang tua memberikan makanan dengan gizi seimbang yang mengandung sumber zat besi, seperti daging merah, ikan, telur, sayuran hijau, hingga susu. Selain memilih sumber makanan yang beragam, orang tua juga dapat memperhatikan kombinasi makanan yang dikonsumsi anak untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisinya.
Menurut Ria, susu yang telah difortifikasi juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk melengkapi asupan nutrisi anak. Ia menyarankan orang tua lebih cermat membaca label nutrisi pada kemasan sebelum memilih produk susu.
"Orang tua perlu lebih cermat membaca label nutrisi kemasan untuk memastikan produk yang dipilih memiliki kandungan nutrisi yang lengkap," ujarnya.
Pada dasarnya, pemenuhan zat gizi anak perlu disesuaikan dengan tahap pertumbuhan dan kebutuhannya. Pola makan yang beragam dan seimbang tetap menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang.
Pentingnya perhatian terhadap kebutuhan nutrisi anak juga menjadi salah satu hal yang diangkat dalam rangkaian perayaan 72 tahun PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada). Sarihusada berkolaborasi dengan Raja Susu menggelar kegiatan edukasi nutrisi dan aktivitas keluarga secara serentak di 17 titik wilayah Jabodetabek.
Kegiatan tersebut mencakup edukasi bersama pakar kesehatan, permainan edukatif untuk ibu dan anak, serta sesi minum susu bersama. Dalam kesempatan tersebut, General Secretary Director Danone Indonesia Agung Laksamana mengatakan pemenuhan nutrisi anak tidak hanya berkaitan dengan produk, tetapi juga membutuhkan edukasi agar orang tua dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai kebutuhan anak.
Sementara itu, Sales Director Danone Specialized Nutrition Indonesia Rizki Imam Ardhi menilai kolaborasi berbagai pihak dibutuhkan agar informasi mengenai nutrisi dapat menjangkau lebih banyak keluarga.
"Kegiatan edukasi menjadi bagian dari upaya kami untuk meningkatkan pemahaman keluarga mengenai pentingnya pemenuhan nutrisi sejak dini," kata dia.
Bagi orang tua, perhatian terhadap asupan zat besi dapat dimulai dari hal sederhana, yakni menyediakan makanan yang beragam, memperhatikan kebutuhan nutrisi sesuai usia, serta membiasakan diri membaca informasi kandungan gizi pada makanan dan minuman yang diberikan kepada anak.
(tis/tis)