gop-crypto.vip

Karhutla membara di lahan gambut Kalimantan Tengah, sengaja dibakar? - BBC News Indonesia

Api membakar lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Minggu (30/8/2026).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman

Keterangan gambar, Api membakar lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Minggu (30/08).
    • Penulis, Quinawaty Pasaribu
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Telah diterbitkan 2 jam yang lalu

  • Waktu membaca: 14 menit

Pegiat lingkungan mencurigai kebakaran hutan dan lahan di area gambut dekat Jembatan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah "sengaja dibakar" lantaran sudah terjadi beberapa kali sejak awal Juli lalu.

Kebakaran terakhir yang berlangsung pada Minggu (30/08) malam, kata Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, disebut menjadi yang terbesar dan terbilang parah karena dekat dengan permukiman penduduk.

Berdasarkan pemantauan IQAir, kualitas udara di Kota Palangkaraya memburuk seiring pekatnya kabut asap. Konsentrasi PM2.5 bahkan menembus angka 128.4 µg/m³ pada Senin malam. Angka itu menandakan kualitas udara "sangat tidak sehat".

Angka tersebut jauh berada di atas ambang kategori berbahaya. Kondisi ini juga berdampak pada jarak pandang yang mengalami penurunan hingga sekitar 1-1,2 kilometer di sejumlah wilayah.

Seorang warga Palangkaraya, Edithia, sampai harus mengungsi bersama ibu dan kakaknya ke Jakarta gara-gara kabut asap disertai hujan abu sisa kebakaran yang tak henti sejak dua pekan belakangan dan terparah pada Minggu kemarin.

Penerbangan dibatalkan karena kabut asap

Edithia menunggu dengan cemas di ruang tunggu Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, pada Minggu (30/08).

Ia, bersama ibu dan kakaknya dijadwalkan terbang ke Jakarta, siang itu.

Tapi sesampainya di bandara, ia melihat ruang tunggu sudah dipenuhi penumpang yang menanti kepastian.

Dan, setelah menunggu selama empat jam, penerbangannya dibatalkan pihak maskapai karena jarak pandang hanya sejauh 250 meter. Sementara, jarak pandang aman untuk penerbangan adalah di atas lima kilometer.

Mendengar pengumuman itu, Edithia pasrah.

"Sudah feeling saat lihat enggak ada pesawat yang mendarat sejak pukul 10 pagi dari Yogyakarta. Terus makin sore, kabut asap makin parah," ucap perempuan muda ini kepada BBC News Indonesia, Senin (31/08).

Suasana Bandar Udara Tjilik Riwut diselimuti asap dampak kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (30/8/2026).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman

Keterangan gambar, Suasana Bandar Udara Tjilik Riwut diselimuti asap dampak kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (30/08).

"Lalu ada informasi, kalau sampai jam lima sore enggak ada perubahan dibatalkan dan ternyata memang makin parah [kabut asapnya]."

Keputusan mengungsikan ibunya ke Jakarta, bisa dibilang mendadak. Sehari sebelumnya, ia beli tiket pesawat untuk tiga orang sekaligus. Ia dan sang kakak memang berencana mengurus visa di Jakarta pada Senin keesokan harinya.

Sementara sang ibu yang berusia 69 tahun, sedianya bakal menunggu di rumah.

Namun, mengamati kabut asap yang tak kunjung reda sejak sepekan terakhir, membuat Edithia tak tega meninggalkan ibunya sendirian.

Sejumlah calon penumpang antre untuk pengajuan pengembalian tiket dan bagasi di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (30/8/2026).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman

Keterangan gambar, Sejumlah calon penumpang antre untuk pengajuan pengembalian tiket dan bagasi di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (30/8/2026).

"Apalagi ibu sudah mulai sesak napasnya dan batuk-batuk. Terus ada penyakit diabetes dan habis keluar dari rumah sakit beberapa bulan lalu," ungkapnya cemas.

Edithia tinggal di tengah kota Palangkaraya. Seminggu terakhir, menurutnya, kabut asap "tidak normal dan sangat intens" plus abu sisa kebakaran mulai berjatuhan.

Ia tak tahu dari mana abu sisa kebakaran itu berasal. Tapi gara-gara itulah, ia semakin tak nyaman meninggalkan ibunya sendiri.

"Abunya dari yang kecil sampai besar. Memang enggak masuk rumah, tapi di halaman rumah kelihatan. Alhasil keluar rumah sekarang pakai masker, di dalam mobil juga sama."

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah per 30 Agustus 2026, tercatat ada 49.551 titik panas dan 2.222 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan luas area terbakar mencapai 6.358,71 hektare di wilayah Kalimantan Tengah.

Salah satu kejadian karhutla terbaru terjadi pada Minggu (30/08) malam di area Jembatan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau.

Video yang berseliweran di media sosial memperlihatkan api berkobar pada malam hari. Dari kejauhan langit hitam berubah merah membara.

Sabran, salah satu warga yang rumahnya berjarak 40 kilometer dari Jembatan Tumbang Nusa, bercerita api sudah mulai nampak sejak Sabtu sore.

Anggota TNI menyalurkan air melalui mobil tangki pemadam saat berupaya memadamkan kebakaran lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Minggu (30/8/2026).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman

Keterangan gambar, Anggota TNI menyalurkan air melalui mobil tangki pemadam saat berupaya memadamkan kebakaran lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Minggu (30/08).

Namun, pria 65 tahun ini mengaku tetap bertahan di rumahnya sembari menjaga sarang burung walet yang berada di dekat titik kebakaran.

"Mulai dari kemarin sore tidak ada padamnya. Kami [di sini] menjaga walet kami ini, tidak ada meninggalkan lagi, tidak ada kemana-mana, khusus menjaga di sini, kalau [api] sampai ke sini," kata Sabran kepada jurnalis di Kalimantan Tengah Roni Sahala yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Senin (31/08).

Untuk mengantisipasi api mendekati bangunan, Sabran mengandalkan pompa air listrik.

Meskipun, dia juga berharap pemerintah dapat memberikan mesin pompa air untuk membantu proses pemadaman karena saat ini peralatan tersebut menjadi andalannya untuk berjaga.

Sabran, salah satu warga yang rumahnya berjarak 40 kilometer dari Jembatan Tumbang Nusa.

Sumber gambar, Roni Sahala

Keterangan gambar, Sabran, salah satu warga yang rumahnya berjarak 40 kilometer dari Jembatan Tumbang Nusa.

Sabran juga menuturkan belum ada arahan dari pemerintah setempat untuk mengungsi. Jika arahan tersebut diberikan, ia mengaku tetap akan bertahan untuk memastikan bangunan miliknya tidak dilalap api.

Di sekitar lokasi kebakaran, tampak petugas bersama kendaraan pemadam kebakaran dan alat berat masih bersiaga. Warga yang tinggal tidak jauh dari titik api juga terus melakukan penjagaan.

Pada Minggu malam, tim gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan. Kapolres Pulang Pisau, Iqbal Sengaji mengatakan api berhasil dikendalikan dan berada sekitar 250 meter dari kawasan jembatan, dengan arah pergerakan menuju Sungai Kahayan.

Meski api telah dikendalikan, proses pendinginan dan pembasahan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

Hingga Senin sore, luas lahan yang terbakar belum dapat dipastikan karena pengukuran akan dilakukan secara teknis oleh instansi terkait.

Sengaja dibakar untuk pembukaan lahan?

Pantauan Walhi Kalimantan Tengah dan juga laporan media menyebut, kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah di Kalimantan Tengah sudah berlangsung sejak awal Juli 2026.

Di antaranya terjadi di kawasan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau; Kabupaten Kapuas; Kabupaten Kotawaringin Timur; Kabupaten Seruyan; dan Kabupaten Sukamara.

Mayoritas lahan yang terbakar itu, kata Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, berada di area konsesi perusahaan kebun sawit. Meskipun ada juga yang di luar konsesi.

Asap dari lahan gambut yang terbakar di kawasan Jembatan Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, pada Minggu (30/08).

Sumber gambar, Roni Sahala

Keterangan gambar, Asap dari lahan gambut yang terbakar di kawasan Jembatan Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, pada Minggu (30/08).

Dalam peristiwa terbaru, di kawasan Jembatan Tumbang Nusa, Janang mengatakan lokasi kebakarannya ada di dekat jembatan yang menghubungkan Palangkaraya dan Banjarmasin.

Jembatan layang sepanjang 10,5 kilometer itu bisa dibilang menjadi jalur vital penghubung kedua wilayah yang membentang di atas area lahan gambut dan anak Sungai Kahayan.

Lahan gambut tersebut, sebelumnya menjadi area restorasi di bawah Badan Restorasi Gambut (BRG)—yang dibubarkan pada 31 Desember 2024—lantaran kondisinya yang rentan terbakar.

Hal itu terbukti, setiap kali terjadi karhutla pada tahun 2015 dan 2019, lahan gambut di sana kerap terbakar.

"Jadi lokasi kebakaran yang tadi malam (Minggu) itu sebenarnya daerah gambut lindung dengan kedalaman sekitar lima meter. Artinya ketika terjadi kebakaran di area gambut, ini akan sangat sulit sekali dipadamkan," ujar Janang Firman kepada BBC News Indonesia, Senin (31/08).

Setelah BRG dibubarkan, ia mengaku tidak tahu status area gambut tersebut. Apakah sudah dialihkan menjadi konsesi kebun sawit atau dilimpahkan ke pemerintah daerah.

Yang pasti, klaimnya, lahan gambut itu mustahil terbakar jika tidak ada aktivitas seperti pembukaan lahan baru.

"Karena kalau ada pembukaan lahan baru, pasti ada aspek kanalisasi dan sebagainya. Yang sering membuat mudah terbakar karena ada kanalisasi itu. Makanya kami mempertanyakan tabat-tabat [sekat kanal] yang dibangun BGR kemana?" ucapnya.

"Dan di beberapa lokasi ada penangkapan terhadap orang-orang yang membakar. Cuma kami tidak tahu, aparat masih belum mengumumkan siapa di balik orang yang menyuruh membakar itu," sambungnya.

Pada akhir Juli lalu, Polda Kalimantan Tengah menyelidiki penyebab kebakaran di area Tumbang Nusa dengan luas lahan yang terbakar sekitar 4,74 hektare.

Foto udara memperlihatkan asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Selasa (4/8/2026).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman

Keterangan gambar, Foto udara memperlihatkan asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Selasa (04/08).

Dari hasil penyelidikan, polisi menetapkan delapan orang sebagai tersangka yang diklaim sebagai pemilik lahan dan memiliki Surat Keterangan Tanah (SKT).

Adapun korporasi, Kementerian Kehutanan baru menyasar enam perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

Rinciannya, empat perusahaan di Kalimantan Barat yakni PT WEL, PT FI, PT MPK, dan PT WSP.

Dua lainnya, masing-masing di Kalimantan Tengah yaitu PT NES dan PT PSR di Kalimantan Timur.

Total luas lahan yang terbakar di tiga provinsi itu mencapai 1.511,55 hektare. Khusus untuk PT NES areal terbakar seluas 70,38 hektare.

Meskipun sudah terbukti terjadi kebakaran, Kementerian Kehutanan hanya menjatuhkan sanksi administratif berupa Paksaan Pemerintah.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, mengatakan sanksi administratif diberikan untuk memaksa perusahaan melakukan perbaikan, pemulihan, dan memenuhi kewajibannya dalam hal kesiapan regu pengendalian kebakaran, ketersediaan peralatan pemadaman, sumber air, menara pantau, sekat kanal, hingga sistem deteksi serta respons dini.

Namun, jika dalam pengawasan ditemukan unsur pidana, penanganan dapat dilanjutkan ke proses pidana.

"Perizinan berusaha memberikan hak untuk mengelola kawasan hutan, tapi di dalamnya melekat kewajiban untuk menjaga dan mencegah kerusakan," tegas Dwi Januanto Nugroho.

Siapa PT NES yang membakar lahan di Kalteng?

Kementerian Kehutanan tidak menyebutkan rinci nama-nama korporasi yang dikenakan sanksi atas kebakaran lahan di areal konsesinya.

Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, juga mengaku tak tahu pasti siapa pemegang izin PT NES.

Kendati demikian, dia menilai pemberian sanksi kepada satu perusahaan saja tidak cukup. Sebab pihaknya meyakini ratusan titik panas di Kalimantan Tengah berada di lebih dari satu korporasi.

Foto udara memperlihatkan asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Selasa (4/8/2026).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman

Keterangan gambar, Foto udara memperlihatkan asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Selasa (04/08).

"Kami sudah pantau banyak [titik panas] di perusahaan-perusahaan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kapuas, Seruyan, Sukamara, yang memang diduga terbakar."

"Harusnya aparat penegak hukum, mereka mudah mengidentifikasi dan memverifikasi lapangan apakah terbakar atau tidak. Seharusnya enggak cuma satu," jelas Janang.

Yang juga ia sayangkan, selama ini pemerintah hanya menjatuhkan sanksi administratif terhadap korporasi pelaku karhutla.

Padahal, kelalaian itu sudah kuat untuk dilakukan pencabutan izin.

"Memang penanganan yang dilakukan hanya sanksi administratif atau perdata. Berbeda kalau masyarakat, pasti pendekatannya pidana. Itu yang kami sesalkan dari aspek pendekatan hukumnya hari ini."

"Makanya kami tidak yakin dengan pernyataan Presiden Prabowo yang bilang akan mencabut izin perusahaan. Kalaupun dicabut, bukan aktor besar."

Apakah api sudah dipadamkan?

Merujuk pada Mapbiomas Fire, platform pemetaan kebakaran berbasis citra satelit dan klasifikasi deep learning yang dikoordinasikan Auriga Nusantara bersama sembilan jaringan organisasi masyarakat sipil, luas karhutla nasional periode Januari-Juni 2026 mencapai 178.232 hektare, setara tiga kali luas Singapura, atau 66% lebih luas dari klaim resmi pemerintah.

Sebelumnya Kementerian Kehutanan melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) mencatat luas karhutla nasional pada periode yang sama sebesar 107.465,47 hektare.

Personel Manggala Aqni berusaha memadamkan api dilahan gambut di Kecamatan Lalolae, Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Senin (31/8/2026).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Jojon

Keterangan gambar, Personel Manggala Aqni berusaha memadamkan api dilahan gambut di Kecamatan Lalolae, Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Senin (31/08).

Untuk area terbakar di lahan gambut luasannya adalah 40.016 hektare atau 22% dari seluruh area terbakar nasional. Cakupan wilayahnya terbesar di Kalimantan yakni 20.414 hektare, Sumatera 15.041 hektare, Papua 4.375 hektare, dan Sulawesi 186 hektare.

Sedangkan area terbakar dalam kawasan hutan, paling besar terjadi di hutan produksi sebesar 23.292 hektare, kemudian hutan produksi konversi 18.372 hektare, kawasan konservasi 17.957 hektare, hutan lindung 12.414 hektare, dan terakhir hutan produksi terbatas 10.627 hektare.

Pada Senin (31/08), kebakaran lahan di area Jembatan Tumbang Nusa berhasil dipadamkan oleh personel TNI-Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng, BPBD Pulang Pisau, dan pihak terkait lain.

Sebagai antisipasi, mereka menyediakan lima embung di sekitaran lokasi kebakaran. Sejumlah mobil tangki berisi air juga disiagakan apabila api kembali mendekati jembatan.

Kapolres Pulang Pisau, Iqbal Sengaji memaparkan kebakaran itu sebetulnya sudah muncul sejak Sabtu (29/08). Tapi, ia mengklaim, angin yang bertiup ke arah Jembatan Tumbang Nusa membuat api semakin membesar.

Beruntung, karena kebakaran itu tidak sampai menutup akses Palangkaraya-Banjarmasin.

Kualitas udara di Kalteng buruk?

Kualitas udara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, memburuk seiring pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Konsentrasi PM2.5 bahkan menembus angka 128.4 µg/m³ pada Senin malam. Angka itu menandakan kualitas udara "sangat tidak sehat".

Sementara itu, Dinas Pendidikan Kalteng menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi satuan pendidikan yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Keputusan itu diambil sebagai langkah perlindungan kesehatan dan keselamatan peserta didik di tengah kondisi kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Bagaimana kondisi warga di wilayah lain?

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan semakin meluas. Dampaknya dirasakan warga yang tinggal di "ring satu", atau wilayah yang berada dekat dengan titik panas (hotspot) dan lokasi kebakaran.

Di Banjarbaru, asap yang menyelimuti permukiman mengganggu aktivitas warga, termasuk mereka yang memiliki masalah kesehatan.

Harianto, warga Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, mengatakan asap mulai muncul di sekitar rumahnya pada malam hari, sekitar pukul 19.00 WITA.

Kondisi itu bertahan hingga pagi, sekitar pukul 09.00 WITA. Bahkan, pada Minggu (30/8), pantauan BBC News Indonesia, asap masih bertahan hingga 12.00 WITA ketika matahari sedang terik.

Petugas Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Wirakarya Sakti (WKS) beristirahat di tengah upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Jumat (28/8/2026).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Keterangan gambar, Petugas Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Wirakarya Sakti (WKS) beristirahat di tengah upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Jumat (28/08).

Debu dan jelaga juga kerap terbawa hingga ke dalam rumah. Kondisi tersebut membuat Harianto dan keluarganya harus mengenakan masker, baik pada pagi maupun malam hari.

"Istri saya itu, siang malam, biar pun tidur, pakai masker. Kan punya penyakit asma," katanya saat ditemui pada Minggu (30/8).

Harianto tinggal bersama istri dan dua anaknya. Seiring asap yang semakin tebal, anaknya kini menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Anaknya bersekolah di SMP 11 Banjarbaru yang berada di kawasan Jalan Golf, Liang Anggang. Menurut Harianto, jarak pandang di kawasan sekolah pada pagi hari hanya sekitar tiga meter.

Bagi Harianto, tidak banyak yang bisa diharapkan selain pemerintah segera mengambil langkah untuk menangani karhutla dan dampak kabut asap yang dirasakan warga.

"Kami (berada) di ring satu soal (yang terdampak) asap ini," ujarnya.

Harianto juga berharap warga yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran mendapat bantuan, mulai dari masker hingga susu dan vitamin/obat-obatan.

Sementara itu di Panti Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas (PRSPD) Iskaya Banaran yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Kilometer 29,7, Banjarbaru turut mendapat dampak asap.

Penghuni panti yang menampung penyandang disabilitas dengan ragam disabilitas seperti tuna rungu, tuna wicara, disabilitas intelektual dan mental ada yang sakit batuk-batuk.

Pekerja Sosial (Peksos) PRSPD Iskaya Banaran, Rudi Sahala Silaban, menyebut dua tiga hari terakhir menjadi momen asap yang parah.

"Gak keliatan lagi. Di sini kabut, jam 08.00 baru berkurang," katanya.

Karena asap, aktivitas harian seperti menjemur hingga aktivitas pembelajaran di kelas. Saat ini, apel pagi juga ditiadakan karena asap.

Jam pembelajaran dikasih toleransi dimulai pukul 09.00 WiTA. Biasanya jam 08.00.

Penghuni panti yang menampung penyandang disabilitas dengan ragam disabilitas seperti tuna rungu, tuna wicara, disabilitas intelektual dan mental ada yang sakit batuk-batuk.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Penghuni panti yang menampung penyandang disabilitas dengan ragam disabilitas seperti tuna rungu, tuna wicara, disabilitas intelektual dan mental ada yang sakit batuk-batuk.

Rudi berharap wilayah ring satu seperti mereka mendapat prioritas untuk ditanggulangi oleh petugas di lapangan.

Ahmat Sayuti, petugas kesehatan di PRSPD Iskaya Banaran, bilang kabut asap juga sempat memengaruhi kondisi kesehatan sejumlah penghuni panti, terutama anak-anak. Beberapa di antaranya mengalami batuk, pilek dan sakit tenggorokan.

"Untuk anak-anak, selama ini gangguan nafas ada sebagian. Kemarin sempat ada yang batuk, pilek, setelah sakit tenggorokan, tapi setelah kita kasih obat sudah berkurang," katanya.

Sayuti mengatakan penanganan terhadap penghuni yang mengalami gangguan kesehatan sejauh ini masih dapat dilakukan melalui klinik yang tersedia di panti.

Ia menyebut, dari sembilan penghuni yang sempat diperiksa karena mengalami batuk, dua orang menunjukkan gejala yang mengarah pada infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Kemarin sempat ada, pertama ada sembilan, setelah kita cek ternyata cuma batuk biasa, dari sembilan itu yang benar-benar yang mengarah ke ISPA itu ada 2 orang. Terus sekarang sudah berkurang, tidak ada lagi yang untuk terjadi yang namanya ISPA," ujarnya.

Menurut Sayuti, tidak ada penghuni yang harus dibawa ke rumah sakit akibat gangguan kesehatan tersebut.

"Tidak ada yang keluar dari sini, yang misalnya dirawat di rumah sakit, tidak ada. Cukup kita yang menangani dari klinik," katanya.

Selain gangguan pernapasan, Sayuti mengatakan belum melihat dampak lain yang menonjol akibat kabut asap terhadap penghuni panti.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat 2.260 kejadian karhutla sepanjang 1 Januari hingga 31 Agustus 2026.

Dari ribuan kejadian tersebut, luas lahan terdampak mencapai 11.741,58 hektare.

Sementara jumlah titik panas yang terpantau mencapai 16.617 titik.

Data BPBD Kalsel menunjukkan Kabupaten Banjar menjadi daerah dengan luas lahan terdampak terbesar, yakni 2.555,81 hektare dari 423 kejadian. Wilayah ini juga tercatat memiliki 2.503 titik hotspot.