Kapal Tenggelam Gegara Pintu Tak Sengaja Copot, 852 Orang Tewas
Jakarta, CNBC Indonesia - Pintu kapal yang tiba-tiba copot berubah menjadi awal dari salah satu tragedi maritim paling mematikan di Eropa. Air laut langsung menerobos masuk ke dalam kapal, membuatnya miring dan akhirnya tenggelam dalam hitungan menit.
Kapal tersebut adalah MS Estonia yang tenggelam di Laut Baltik pada 28 September 1994, tepat hari ini 32 tahun lalu. Dari 989 orang yang berada di dalam kapal, sebanyak 852 orang tewas dalam tragedi tersebut.
Hari itu, MS Estonia berlayar melintasi Laut Baltik dari Tallin, Estona, menuju, Stockholm, Swedia dengan membawa 989 orang. Kondisi laut sedang dilanda hujan badai sehingga kapal bergoyang akibat dihantam ombak dan angin. Namun, para penumpang tidak memiliki firasat bahwa perjalanan tersebut akan berakhir menjadi tragedi.
Dalam kesaksian penumpang di situs Estonianworld, ketika pukul 01.00 dini hari, seluruh penumpang mendengar suara dentuman keras dari bagian depan kapal. Rupanya, pintu masuk di bagian depan yang digunakan untuk mengangkut kendaraan tiba-tiba copot. Kondisi tersebut membuat air laut langsung masuk ke dalam dek kendaraan.
Pilihan Redaksi
- Presiden AS Umumkan 'Rusia' Ledakkan Bom Nuklir, Dunia Berubah Total
- Kapal Indonesia Tenggelam Tanpa Sebab, CIA Turun Tangan Investigasi
- Suami Dicopot dari Jabatan Menkeu, Istri Pilih Jualan Nasi Bungkus
- Istri Eks PM Malaysia Mahathir Mohamad Meninggal di Umur 100 Tahun
Air kemudian menyebar ke area yang sangat luas. Air yang masuk dalam jumlah besar membuat kapal kehilangan keseimbangan. Berat air yang terus bertambah menyebabkan kapal mulai miring dengan cepat.
Akibatnya, peristiwa yang begitu cepat membuat penumpang kesulitan bergerak menuju pintu keluar dan sekoci. Tangga menjadi hampir vertikal, sementara sebagian jalur evakuasi tidak lagi bisa digunakan. Selang sekitar 40 menit sejak pintu bagian depan copot, MS Estonia akhirnya tenggelam di Laut Baltik.
Tercatat hanya 137 orang yang selamat. Sementara 852 orang lainnya tewas dalam tragedi tersebut.
Mengutip laporan Kementerian Transportasi dan Komunikasi, penyebab utama pintu depan terlepas adalah kombinasi antara hantaman gelombang laut yang sangat kuat dan kelemahan pada mekanisme penguncinya.
Pada malam itu, gelombang mencapai sekitar 4-6 meter. Hantaman tersebut membuat mekanisme pengunci mengalami kerusakan hingga akhirnya pintu bagian depan terlepas. Setelah itu, air laut dalam jumlah sangat besar dapat masuk langsung ke dek kendaraan.
Masuknya air ke dek kendaraan menjadi persoalan serius bagi kapal feri berpenumpang. Air dapat bergerak bebas di permukaan dek dan membuat stabilitas kapal semakin buruk ketika kapal mulai miring.
Tragedi MS Estonia kemudian mendorong perubahan dalam standar keselamatan kapal feri penumpang. Kapal-kapal lama harus dimodifikasi untuk meningkatkan keselamatan ketika menghadapi kondisi kapal yang rusak.
Dek kendaraan mulai dibagi untuk membatasi penyebaran air, sementara struktur lambung diperkuat. Desain dan mekanisme pintu bagian depan juga mendapat perhatian lebih besar untuk mencegah kejadian serupa.
MS Estonia akhirnya tidak hanya dikenang sebagai kapal yang tenggelam di Laut Baltik. Tragedi yang menewaskan 852 orang tersebut juga menjadi pelajaran penting bagi industri pelayaran mengenai betapa fatalnya air yang masuk ke dek kendaraan.
Sebuah pintu yang copot menjadi awal bencana. Dalam waktu kurang dari satu jam, sebuah kapal yang membawa hampir seribu orang akhirnya berada di dasar laut.
(mfa/sef)