Jumlah Laga dan Dana Jadi Tantangan Keberlanjutan Klub IBL |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Biaya mengelola klub basket profesional tidak berhenti ketika pertandingan berakhir. Gaji pemain dan kebutuhan operasional tetap berjalan sepanjang tahun, sementara kompetisi Indonesian Basketball League (IBL) hanya berlangsung selama beberapa bulan.
Kondisi ini membuat Co-Owner Rans Simba Bogor berharap jumlah pertandingan IBL dalam satu musim ditambah agar liga bergulir lebih panjang. Menurut Norman, penambahan jumlah laga dapat membuat investasi klub menjadi lebih produktif. Pasalnya, klub tetap mengeluarkan biaya untuk pemain dan operasional meski tidak ada pertandingan dalam waktu yang cukup panjang.
Norman mengungkapkan, Rans Simba Bogor menghabiskan anggaran sekitar Rp15 miliar untuk mengarungi satu musim IBL. Meski mendapat dukungan dari pemilik yang memiliki nama besar, yakni Raffi Ahmad, Gading Marten, dan Wulan Guritno, Rans Simba masih menghadapi tantangan dalam mendapatkan sponsor. Andai ada kekurangan anggaran, kata Norman, para pemilik menutupinya melalui dana pribadi.
“Padahal kami menggaji pemain selama satu tahun, tapi mereka hanya bermain beberapa bulan dan lebih banyak kosongnya,” kata Norman dalam diskusi bertajuk “Satu Ekosistem Bola Basket Indonesia: Pembinaan, Liga, Industri, dan Prestasi” yang diselenggarakan Jurnalis Suka dan Peduli Olahraga (Jusraga) di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Norman mengatakan Rans berhasil membukukan keuntungan pada musim 2026, meskipun jumlahnya masih tipis. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa klub membutuhkan ruang lebih besar untuk mengoptimalkan sumber daya yang telah dikeluarkan sepanjang tahun.
"Jika kita berbicara tentang keberlanjutan, kami yang didukung nama besar saja sulit mencari sponsor dan butuh dana besar, bagaimana dengan klub lain? Ini yang harus dipikirkan oleh IBL bagaimana agar klub-klub IBL bisa bertahan dan kalau bisa bertambah," kata Norman yang juga mengusulkan peluang menetapkan pembatasan gaji.
Penambahan pertandingan dinilai dapat memberikan manfaat ganda. Selain memberi pemain lebih banyak kesempatan tampil, klub juga memiliki lebih banyak momentum untuk mengembangkan aktivitas komersial, mulai dari penjualan tiket hingga aktivasi sponsor.
Format kandang dan tandang (home-away) yang dipertahankan IBL pada musim 2027 menjadi salah satu fondasi untuk pengembangan tersebut. Pertandingan di kota masing-masing klub dapat mempertemukan tim dengan pendukung lokal sekaligus membuka peluang pendapatan dari tiket, sponsor, dan berbagai kegiatan pendukung pertandingan.
Namun, Norman menilai penambahan jumlah pertandingan tetap harus dihitung secara matang. Biaya perjalanan, penyewaan arena, akomodasi, serta kebutuhan operasional lainnya jangan sampai membuat bertambahnya laga justru meningkatkan beban finansial klub.
Ia mengaku setuju format home and away diberlakukan. Namun, ia mempertanyakan kemungkinan belum waktunya IBL menggunakan sistem ini. Norman, memberi usulan peluang mengembalikan kompetisi dengan format series demi menghemat anggaran klub-klub IBL agar bisa terus berkompetisi.
Mengenai usulan format kompetisi ini, Fictor Gideon Roring punya pandangan berbeda. Mantan pelatih timnas basket putra Indonesia yang kini duduk di jajaran manajemen Pelita Jaya Basketball berharap IBL tak kembali menggunakan format series.
Ito, sapaannya, mengatakan format home-away merupakan keputusan untuk mendobrak status quo. Berdasarkan pengalaman selama 40 tahun di basket Indonesia sebagai pemain hingga duduk di manajemen, ia menilai perkembangan kompetisi basket Indonesia berjalan perlahan.
"Saya kira format home and away ini memberikan satu gebrakan baru setelah sekian lama basket kita seperti sulit bergerak. Saya berharap kita jangan mundur lagi kembali menerapkan sistem series," kata Ito.