JF3 2026 Dorong Kreativitas Desainer Muda Indonesia Lewat Kolaborasi Internasional
Bagikan:
JAKARTA - Industri fesyen tidak hanya berkembang melalui tren busana yang berganti dari waktu ke waktu. Di balik sebuah koleksi, terdapat proses panjang yang melibatkan kreativitas, riset, keterampilan, pemahaman material, hingga kemampuan pelaku mode dalam membaca perubahan zaman.
Bagi desainer dan brand fesyen, memiliki ide kreatif saja sering kali belum cukup. Mereka juga perlu memahami bagaimana mengembangkan produk, membangun identitas brand, mengelola bisnis, hingga memperluas jaringan.
Maka dari itu, kesempatan untuk belajar dan bertukar pengalaman menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang pelaku industri mode.
Kolaborasi juga menjadi salah satu cara yang dapat membuka perspektif baru. Pertemuan antara desainer dengan latar belakang berbeda, termasuk lintas negara dan budaya, dapat menghadirkan pendekatan kreatif yang lebih beragam.
Dari proses tersebut, inspirasi lokal bisa bertemu dengan gagasan global tanpa harus kehilangan identitas asalnya.
Hal inilah yang semakin terlihat dalam perkembangan ekosistem fesyen Indonesia. Hubungan antara pelaku mode, komunitas artisan, institusi pendidikan, mentor, hingga industri kreatif terus dibangun untuk menciptakan ruang yang mendukung pertumbuhan talenta.
Salah satu upaya tersebut hadir melalui PINTU Incubator yang memasuki tahun kelima penyelenggaraannya pada 2026. Program ini memperkuat kolaborasi mode Indonesia–Prancis melalui pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan, kolaborasi kreatif, dan pengalaman lintas budaya.
Pada tahun ini, perjalanan tersebut diwujudkan melalui sejumlah program, mulai dari kolaborasi antara brand Indonesia dan Prancis, partisipasi Lil Public dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli, hingga dua koleksi hasil PINTU Residency yang dikembangkan melalui proses riset dan kolaborasi bersama komunitas artisan di Lombok dan Mojokerto.
BACA JUGA:
Tahun 2026 juga menjadi tonggak baru dengan dimulainya proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesinambungan program, membangun struktur yang lebih kokoh, serta memperluas dampak bagi ekosistem mode Indonesia.
Dalam konferensi pers yang berlangsung pada Senin, 20 Juli 2026, di JF3 Media Room, Gafoy, Summarecon Mall Kelapa Gading, PINTU menyampaikan perkembangan program 2026, berbagai kolaborasi yang telah berlangsung, serta para peserta dan koleksi yang akan hadir dalam rangkaian JF3 Fashion Festival 2026 pada 22–29 Juli mendatang.
Perjalanan seorang desainer atau brand fesyen tentu tidak berhenti pada proses menciptakan pakaian. Pemahaman mengenai bisnis, produksi, komunikasi, pemasaran, hingga aspek hukum juga menjadi bekal yang penting untuk mengembangkan sebuah karya secara berkelanjutan.
PINTU Incubator merupakan inisiatif bersama JF3, LAKON Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut français d’Indonésie, IFI. Sejak diluncurkan pada 2022, program ini telah menarik minat lebih dari 10 ribu brand dan desainer.
Pada 2026, PINTU Incubator menerima 39 pendaftar. Setelah melalui proses seleksi, sepuluh peserta mengikuti program inkubasi dan lima di antaranya terpilih untuk mempresentasikan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026.
Program ini dibangun berdasarkan pemahaman bahwa talenta mode membutuhkan lebih dari sekadar kreativitas. Mereka juga membutuhkan ruang untuk belajar, memahami proses, memperluas sudut pandang, serta menemukan arah yang paling relevan bagi perkembangan karya dan brand masing-masing.
Thresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator dan Founder LAKON Indonesia menjelaskan PINTU tidak dibangun untuk memberikan satu jawaban yang sama kepada setiap peserta, melainkan untuk membantu mereka memahami perjalanan dan pilihan masing-masing.
“Kami percaya bahwa talenta tidak selalu tumbuh karena diberi lebih banyak jawaban. Sering kali, mereka justru berkembang ketika dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat," ujar Thresia Mareta.
"PINTU kami bangun sebagai ruang untuk menjalani proses itu mengenali kekuatan, melihat kembali apa yang belum bekerja, dan memahami ke mana sebuah karya ingin dibawa. Karena pada akhirnya, yang kami harapkan bukan hanya lahirnya koleksi yang baik, tetapi pelaku mode yang mampu terus bertumbuh dan menentukan langkahnya sendiri," tambahnya.
Sementara itu, Chairman JF3 sekaligus Co-Initiator PINTU Incubator, Soegianto Nagaria menekankan pentingnya ekosistem yang bekerja secara konsisten dalam mendukung pertumbuhan pelaku mode.
"Sejak awal, JF3 tidak hanya ingin menyediakan panggung, tetapi juga menjadi bagian dari proses pertumbuhan para pelaku industri. Melalui PINTU, kami membangun ruang yang mempertemukan talenta dengan pengetahuan, mentor, jejaring, pengalaman profesional, dan peluang kolaborasi. Kami percaya bahwa ekosistem yang kuat harus mampu mendampingi mereka untuk terus berkembang dalam jangka panjang," beber Soegianto Nagaria.
Dalam proses pengembangan talenta, pengalaman belajar dari berbagai bidang dapat membantu desainer melihat fesyen secara lebih luas. Sebuah koleksi tidak hanya dinilai dari tampilan akhirnya, tetapi juga dari bagaimana ide tersebut dikembangkan, bagaimana produk dipasarkan, hingga bagaimana proses produksinya dilakukan.
Pada 2026, PINTU Incubator menghadirkan 39 sesi pengembangan kapasitas yang mencakup strategi bisnis, merchandising, pengembangan produk, komunikasi, hukum dan kekayaan intelektual, ekspor-impor, keuangan, serta styling.
Program tersebut melibatkan 18 mentor dari Indonesia dan Prancis dengan latar belakang desain, bisnis, ritel, hukum, keuangan, komunikasi, pemasaran, pengembangan produk, dan industri kreatif.
Setelah melalui rangkaian kelas, mentoring, evaluasi, dan kurasi, lima peserta terpilih untuk mempresentasikan koleksi mereka di JF3 Fashion Festival 2026. Mereka terdiri dari dua brand, Saul Studio dan Toja House, serta tiga desainer, ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA.
Kelima peserta tersebut menghadirkan pendekatan yang beragam. Eksplorasi yang dilakukan mencakup konstruksi dan tailoring, pengembangan aksesori bersama artisan, reinterpretasi tekstil Nusantara, pendekatan genderless, praktik upcycling, hingga pengembangan produk yang menekankan craftsmanship, inklusivitas, dan tanggung jawab dalam proses produksi.
Beragam pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa fashion dapat menjadi ruang untuk mengeksplorasi identitas, budaya, teknologi, sekaligus isu keberlanjutan. Kreativitas pun dapat berkembang ketika pelaku mode memiliki kesempatan untuk belajar dari berbagai perspektif.
Selain pengembangan talenta, kolaborasi lintas negara juga dapat menjadi cara untuk memperluas wawasan pelaku industri fashion. Perbedaan latar belakang budaya dan pendekatan kreatif dapat menghasilkan proses pertukaran ide yang menarik.
Pada jalur Accelerator, DENIMITUP mengembangkan kolaborasi dengan label Prancis TAREET. Kolaborasi tersebut mempertemukan dua pendekatan kreatif dalam proses pengembangan koleksi bersama.
Sementara itu, Lil Public berpartisipasi dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli 2026. Partisipasi tersebut menjadi bagian dari hubungan yang terus berkembang antara PINTU dan institusi pendidikan mode Prancis.
Kesempatan tersebut juga memberikan pengalaman presentasi dan interaksi bagi brand Indonesia di lingkungan mode internasional. Dari sini, jejaring yang terbentuk dapat membuka peluang baru untuk kolaborasi dan pertukaran pengalaman.
Kolaborasi fesyen juga menjadi cara untuk memperkenalkan kembali kekayaan budaya dan teknik tradisional melalui sudut pandang yang lebih modern. Proses tersebut dapat melibatkan desainer, artisan, material, hingga komunitas lokal.
Memasuki penyelenggaraan keduanya, PINTU Residency mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis dalam program residensi selama empat bulan. Program ini dikurasi oleh Thresia Mareta, Pascaline Wilhelm, dan Carol Meyer.
Berlangsung sejak April hingga Juli 2026, para peserta menjalani proses riset bersama, mengeksplorasi teknik tekstil tradisional, bekerja langsung dengan komunitas artisan, serta mengembangkan koleksi melalui pertukaran pengetahuan dan budaya.
Di Lombok, desainer Prancis Mickaël Nana berkolaborasi dengan desainer Indonesia Beatrice Angelica untuk mengembangkan koleksi GARUDA. Koleksi ini memadukan pendekatan tailoring Barat dengan tenun dan songket Lombok, melalui interpretasi kontemporer terhadap simbol Garuda sebagai representasi kekuatan, kebebasan, dan identitas.
Sementara itu, di Mojokerto, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella mengembangkan koleksi AU LARGE. Terinspirasi oleh tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa, koleksi ini mempertemukan batik, struktur tailoring, dan referensi seragam dalam siluet kontemporer.
Hasil dari kedua proses tersebut akan dipresentasikan untuk pertama kalinya di JF3 Fashion Festival 2026.
Lebih dari sekadar menghasilkan koleksi, PINTU Residency membangun ruang dialog antara desainer, artisan, material, teknik, dan latar budaya yang berbeda. Kolaborasi ini menjadi upaya untuk menciptakan proses kreatif yang setara, relevan, dan memiliki nilai jangka panjang bagi seluruh pihak yang terlibat.
Perkembangan industri fesyen membutuhkan ekosistem yang dapat mendukung talenta dalam jangka panjang. Selain panggung untuk menampilkan karya, pelaku mode juga membutuhkan akses terhadap pengetahuan, pengalaman profesional, mentor, jejaring, dan kesempatan untuk berkolaborasi.
Dimulainya proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia menjadi langkah untuk memperkuat kesinambungan program dan memperluas dampaknya bagi ekosistem mode.
Melalui inkubasi, akselerasi, residensi, dan berbagai kolaborasi Indonesia–Prancis, PINTU akan terus membangun ruang belajar, pertukaran, dan kesempatan yang relevan bagi generasi baru pelaku mode.
Kehadiran program seperti ini menunjukkan perkembangan fesyen tidak hanya ditentukan oleh tren yang muncul di atas runway. Di baliknya, ada proses panjang untuk mengembangkan talenta, menjaga keterampilan, memperkenalkan budaya, serta menciptakan kolaborasi yang dapat membawa industri mode Indonesia semakin dikenal di tingkat global.
PINTU tidak hanya hadir untuk menyelenggarakan program, tetapi untuk membangun hubungan, pengalaman, dan proses yang dapat melahirkan kemungkinan baru bagi perkembangan industri mode Indonesia.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+