gop-crypto.vip

Jamur Bumi Ternyata Bisa Bertahan Berhari-hari di Dekat Kutub Selatan Bulan

Temuan ini berasal dari penelitian NASA yang dipublikasikan di jurnal Science Advances. Para peneliti menggunakan data dari Lunar Reconnaissance Orbiter untuk memodelkan kondisi permukaan di sejumlah lokasi yang dipertimbangkan untuk pendaratan Artemis.

Yang mereka cari bukan apakah mikroorganisme dapat hidup normal di Bulan, melainkan berapa lama organisme tersebut mungkin tetap bertahan setelah terbawa pesawat antariksa dari Bumi.

Hasilnya cukup menarik. Mengutip TechSpot, pada beberapa wilayah yang terlindung dari cahaya langsung, jamur Aspergillus dalam pemodelan dapat bertahan hingga tujuh hari Bumi.

Mengapa Justru Tempat yang Sangat Dingin Bisa Membantu?

Sebagian besar permukaan Bulan mendapatkan paparan radiasi dan ultraviolet yang sangat tinggi. Kondisi tersebut tentu menjadi ancaman serius bagi organisme yang berasal dari Bumi.

Tetapi kawasan kutub selatan memiliki karakter berbeda. Beberapa wilayah berada dalam bayangan permanen atau hampir permanen, sehingga menerima jauh lebih sedikit cahaya matahari langsung. Suhunya juga sangat rendah.

Kombinasi tersebut ternyata dapat menciptakan lingkungan yang sedikit lebih bersahabat bagi mikroorganisme tertentu—setidaknya untuk bertahan dalam kondisi tidak aktif.

Prabal Saxena, peneliti ruang angkasa di NASA Goddard Space Flight Center yang memimpin penelitian tersebut, menjelaskan bahwa Aspergillus menjadi organisme yang paling tahan dalam model penelitian.

Jamur ini memiliki karakteristik yang membantu perlindungannya, termasuk dinding sel yang relatif kuat dan pigmen gelap yang dapat memberikan perlindungan terhadap sinar-X, radiasi kosmik, dan ultraviolet.

Namun ada satu hal penting: bertahan hidup bukan berarti tumbuh. Para peneliti tidak menemukan bahwa jamur tersebut dapat berkembang biak di Bulan.

Dalam kondisi lingkungan Bulan, mikroorganisme kemungkinan besar berada dalam keadaan dorman atau tidak aktif. Jadi, kita belum berbicara mengenai jamur yang bisa tumbuh menjadi koloni di permukaan Bulan.

Mengapa NASA Perlu Memikirkan Hal Ini?

Penemuan tersebut penting karena manusia kembali menargetkan Bulan, khususnya kawasan kutub selatan.

Wilayah tersebut menarik perhatian karena beberapa kawah yang selalu berada dalam bayangan diperkirakan menyimpan es air. Air dapat menjadi sumber penting bagi misi manusia di masa depan, baik untuk kebutuhan hidup maupun sebagai bahan pendukung sistem eksplorasi.

Masalahnya, setiap pesawat ruang angkasa yang berangkat dari Bumi membawa kemungkinan kontaminasi biologis.

Walaupun wahana telah dibersihkan sebelum diluncurkan, mikroorganisme sangat sulit dihilangkan seluruhnya. Jika sebagian mampu bertahan lebih lama dari perkiraan, organisme tersebut berpotensi terbawa ke lingkungan Bulan yang sebelumnya relatif belum tersentuh.

Hal ini menyentuh persoalan yang dikenal sebagai planetary protection, upaya mencegah manusia membawa organisme Bumi ke benda langit lain dan sekaligus mencegah kemungkinan material luar angkasa dibawa kembali ke Bumi.

Kekhawatirannya bukan sekadar “apakah ada jamur di Bulan”. Kontaminasi dapat menyulitkan ilmuwan ketika mencoba menentukan apakah suatu materi biologis yang ditemukan di masa depan benar-benar berasal dari Bulan atau justru dibawa manusia.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa wilayah yang berpotensi menjadi lokasi pendaratan mungkin memiliki zona bertahan hidup mikroorganisme yang lebih luas dan berlangsung lebih lama daripada perkiraan awal.

Menariknya, para peneliti juga mencatat bahwa pertukaran material antara Bumi dan Bulan sebenarnya sudah terjadi secara alami melalui partikel dan meteor. Tumbukan benda langit juga terus membawa material dari berbagai tempat ke permukaan Bulan.

Karena itu, penelitian ini tidak berarti manusia akan menjadi sumber pertama kehidupan mikroskopis di Bulan.

Pesannya lebih sederhana: lingkungan Bulan ternyata tidak selalu secepat yang kita bayangkan dalam menghancurkan kehidupan dari Bumi.

Bagi program eksplorasi bulan berikutnya, temuan ini menjadi pengingat bahwa semakin banyak manusia mengunjungi Bulan, semakin penting pula menjaga kebersihan biologis pesawat dan memilih lokasi pendaratan dengan hati-hati.

Sebab sebelum manusia benar-benar membangun kehadiran jangka panjang di Bulan, kita mungkin perlu memastikan bahwa kita tidak tanpa sengaja membawa terlalu banyak “penumpang kecil” dari Bumi.