Jadi Sering Lupa saat Hamil? Yuk Kenalan sama 'Momnesia'
Jakarta -
Saat hamil, banyak perempuan merasa jadi lambat berpikirnya atau lola. Yuk, mengenal kondisi momnesia, tiba-tiba jadi pelupa saat hamil.
Kehamilan banyak mendatangkan perubahan bagi perempuan dalam berbagai hal. Selain perubahan fisik yang mencolok, perempuan selama kehamilan juga harus dihadapkan pada realitas kalau dirinya jadi pribadi yang pelupa.
Tak heran, banyak perempuan hamil yang mengeluhkan kalau mereka jadi telat mikir, pelupa akut, ketika menjalani kehamilan. Misalnya saja, bumil jadi lupa masuk ke suatu ruangan dan terlupa tujuan awalnya, kemudian tak jarang lupa menaruh kunci, atau kesulitan mengikuti percakapan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu momnesia?
Sikap pelupa yang tiba-tiba dialami saat hamil memang menjadi hal normal yang perempuan lalui dalam fase kehamilan. Mengutip dari laman Medical Express, fenomena ini sering disebut sebagai pregnancy brain atau momnesia.
Sebuah studi baru yang dilakukan para peneliti di Baylor College of Medicine dan lembaga-lembaga yang berkolaborasi di dalamnya berusaha mengidentifikasi sirkuit otak secara spesifik pada model hewan yang terganggu di bawah kadar estrogen tinggi yang berkelanjutan selama kehamilan.
Temuan ini menawarkan penjelasan biologis pertama tentang bagaimana paparan kadar estrogen yang tinggi dapat sementara mengganggu ingatan.
Sirkuit otak baru menghubungkan kadar estrogen tinggi dengan masalah memori
Dalam penelitiannya tersebut, tim bekerja dengan model tikus yang dirancang untuk meniru kadar estrogen darah tinggi yang berkelanjutan selama kehamilan.
Model-model ini menunjukkan bahwa peningkatan estrogen menyebabkan gangguan memori yang reversibel tanpa memengaruhi suasana hati atau motivasi yang menunjukkan efek kognitif spesifik daripada perubahan umum dalam kenyamanan seseorang, kata penulis senior Dr Zheng Sun, seorang profesor madya kedokteran di bidang endokrinologi, diabetes, dan metabolisme serta biologi molekuler dan seluler di Baylor.
Meneliti biologi yang mendasarinya, tim menemukan bahwa reseptor estrogen alfa, protein yang mengirimkan sinyal estrogen ke dalam sel, adalah reseptor estrogen dominan di wilayah otak yang disebut hipotalamus lateral. Lebih lanjut, wilayah ini memiliki banyak neuron GABAergik yang merupakan sel otak yang biasanya mengirimkan sinyal penenang dan penghambat ke bagian lain otak.
Menggunakan sekuensing RNA inti tunggal, para peneliti menemukan bahwa kadar estrogen yang tinggi menekan pensinyalan di neuron-neuron ini, menyebabkan mereka lebih sering aktif.
“Ketika kami secara genetik menghilangkan reseptor estrogen dari neuron hipotalamus ini, masalah memori yang disebabkan oleh estrogen dan kehamilan pada tikus dapat dipulihkan,” kata Sun, member dari Baylor dan L. Duncan Comprehensive Cancer Center.
Tim tersebut juga menemukan bahwa neuron hipotalamus yang terlalu aktif ini memproyeksikan secara langsung ke wilayah hipokampus yang merupakan pusat pembentukan memori.
Kemudian, dengan menggunakan kemogenetika, teknik yang memungkinkan peneliti untuk mengaktifkan atau menonaktifkan neuron tertentu, tim tersebut menunjukkan bahwa menonaktifkan jalur hipotalamus-ke-hipokampus ini melindungi tikus dari masalah memori yang disebabkan oleh estrogen, sedangkan mengaktifkan jalur yang sama secara artifisial sudah cukup untuk mengganggu memori dengan sendirinya, bahkan tanpa peningkatan estrogen.
Menelisik kinerja memori pada ibu hamil
Untuk menentukan apakah temuan ini berlaku pada manusia, para peneliti menilai kinerja memori pada perempuan di berbagai tahap kehamilan. Mereka menemukan gangguan memori spesifik tugas yang muncul selama kehamilan akhir dan berkorelasi dengan kadar estrogen yang beredar, bahkan setelah memperhitungkan faktor lain yang mungkin memengaruhi kognisi.
Data manusia ini mendukung gagasan bahwa sirkuit yang digerakkan hormon yang diidentifikasi pada tikus mungkin mendasari perubahan memori yang dialami banyak ibu hamil.
"Momnesia itu nyata, memiliki dasar biologis yang jelas dan bersifat sementara," kata penulis senior Dr. Xianghua Zhuang, profesor dithe Second Qilu Hospital of Shandong University.
Ditambahkannya bahwa ia masih berharap agar penelitian tersebut secara anekdot selama bertahun-tahun dan memberi peneliti target konkret untuk studi di masa mendatang.
"Perubahan memori yang diamati pada tikus dan perempuan bersifat sementara dan spesifik tugas, bukan tanda penurunan kognitif yang lebih luas," kata penulis senior Dr. Xinguo Hou.
"Meskipun demikian, pemahaman tentang sirkuit yang mendasarinya pada akhirnya dapat memberikan informasi tentang bagaimana dokter menasihati pasien tentang efek samping kognitif kehamilan atau persalinan."
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)