gop-crypto.vip

Italia sebut 23 kota "siaga merah" cuaca panas akhir pekan ini - ANTARA News Jawa Timur

Roma (ANTARA) - Kementerian Kesehatan Italia memprediksi 23 dari 27 kota besar di negara tersebut akan berada dalam status siaga penuh untuk bersiap mengalami tingkat bahaya tertinggi akibat gelombang panas pada Minggu (2/7).

Suhu udara diperkirakan terus meningkat seiring menguatnya gelombang panas keempat yang melanda Italia pada tahun ini.

Sebanyak 11 kota telah ditetapkan berstatus siaga penuh pada Jumat (31/7), yakni Bolzano, Campobasso, Civitavecchia, Firenze, Frosinone, Latina, Perugia, Rieti, Roma, Turin, dan Viterbo.

Pada hari ini, jumlah tersebut meningkat menjadi 19 kota dengan penambahan Bologna, Brescia, Cagliari, Milan, Napoli, Pescara, Venesia, dan Verona dalam daftar tersebut.

Sedangkan Catania, Genoa, Palermo, dan Trieste diproyeksikan menghadapi status siaga yang sama pada Minggu (2/7).

Status siaga penuh atau “Peringatan Tingkat 3” tersebut mengindikasikan keadaan darurat gelombang panas yang berkepanjangan dengan risiko tinggi terhadap kesehatan, bahkan bagi anak-anak muda yang berada dalam kondisi sehat sekalipun.

Gelombang panas tahun ini diduga telah menyebabkan sejumlah kasus kematian. Selain kebakaran hutan dan kekeringan, cuaca ekstrem tersebut juga menimbulkan masalah besar bagi dunia usaha, khususnya di sektor pertanian.

Musim panas yang terik ini bahkan telah memaksa para petani mempercepat masa panen anggur di kawasan Piemonte.

Sementara itu, kebakaran hutan kembali terjadi di daerah Gargano, Puglia, di mana kobaran api besar di dekat kota pesisir Peschici memaksa Pasukan Penjaga Pantai (Coast Guard) untuk mengevakuasi ratusan orang melalui jalur laut pada akhir pekan lalu.

Para ilmuwan menyatakan bahwa krisis iklim yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia akan memicu berbagai peristiwa cuaca ekstrem, seperti gelombang panas, kekeringan, badai dahsyat, dan banjir, lebih sering terjadi dan memperparah intensitasnya.

Meskipun terdapat banyak sumber gas rumah kaca yang memicu pemanasan global, faktor pendorong utamanya adalah penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak, gas, dan batu bara, yang penjualannya terus menghasilkan keuntungan besar bagi perusahaan-perusahaan energi raksasa dunia.

Sumber: ANSA

Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.