gop-crypto.vip

Iran Peringatkan Negara Teluk agar Tidak Bantu Militer AS

Liputan6.com, Teheran - Angkatan bersenjata Iran pada Rabu (19/8/2026) memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak membantu militer Amerika Serikat (AS). Peringatan itu disampaikan beberapa jam setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan penghentian seluruh hubungan ekonomi dengan Teheran menyusul serangan terbaru terhadap kapal-kapal di kawasan.

Sejumlah fasilitas militer AS berada di kawasan Teluk, termasuk di UEA. Pada Selasa (18/6), UEA mengatakan Iran telah menembakkan dua rudal balistik ke arah kapal-kapal di lepas pantainya.

Meski ketegangan militer antara AS dan Iran belakangan mereda, Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling rawan dalam konflik. Teheran masih memblokade jalur tersebut, yang harus dilalui kapal-kapal dari sebagian besar pelabuhan UEA. Serangan terhadap kapal-kapal komersial juga masih terjadi.

Rencana kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali jalur perdagangan penting itu gagal terwujud. Meski kedua pihak baru-baru ini mengatakan masih ada pertukaran pesan, Presiden AS Donald Trump pada Selasa menegaskan bahwa tidak ada perundingan.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Ali Abdollahi, menurut kantor berita Mehr pada Rabu memperingatkan, setiap bantuan atau kemudahan yang diberikan kepada militer AS sebagai pihak agresor sama dengan ikut terlibat dalam operasi militer AS.

Konflik pecah pada 28 Februari setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah wilayah di kawasan.

Sejak konflik dimulai, banyak negara Timur Tengah menyatakan tidak akan mengizinkan AS menggunakan wilayah mereka sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan. Namun, Abdollahi meragukan pernyataan tersebut.

"Sulit dipercaya pesawat militer dalam jumlah sebesar itu, terutama pesawat pengisian bahan bakar, berada di pangkalan-pangkalan di kawasan tanpa sepengetahuan negara tuan rumah," kata Abdollahi.

Ia menambahkan, negara-negara Teluk "harus tahu bahwa kami mengetahui sepenuhnya apa yang terjadi".

Sejumlah media melaporkan Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Bahrain telah menyerang sasaran di Iran sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap negara-negara Teluk. Namun, sebagian besar negara tersebut membantah laporan itu.