Inovasi kemandirian energi dari sampah dan sawah
Inovasi kemandirian energi dari sampah dan sawah
Minggu, 13 September 2026 12:55 WIB
Bobibos. (ANTARA/HO-ESDM)
Jakarta (ANTARA) - Kemandirian energi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto sepertinya mulai menemukan jawaban bukan hanya dari kebun sawit, tapi dari tumpukan sampah dan limbah sawah.
Dalam salah satu pidato Presiden pada Juli, Prabowo menyebut profesor-profesor Indonesia tengah mengembangkan bensin dari kelapa sawit serta etanol dari singkong, jagung, dan sorgum, dengan target dalam tiga hingga empat tahun ke depan bangsa ini mampu menghasilkan bahan bakar dari tanaman.
Visi itu sebenarnya sudah disampaikan oleh Presiden sejak pelantikannya pada Oktober 2024 ketika ia menyebut singkong, tebu, dan sagu sebagai sumber energi alternatif yang bisa mengurangi kebergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Di luar daftar tanaman pangan yang disebut Presiden, dua inovasi anak negeri justru sudah melangkah lebih jauh dengan bahan baku yang berasal dari limbah. Satu berasal dari jerami kering yang biasa dibakar petani setelah panen, satu lagi dari sampah plastik yang selama ini mencemari lingkungan.
Keduanya menjadi jalan menuju swasembada energi yang tidak harus dimulai dari menanam baru, tetapi bisa dimulai dari mengolah apa yang sudah terbuang.
Bobibos, akronim dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos, lahir dari riset mandiri M Ikhlas Thamrin selama lebih dari sepuluh tahun sebelum akhirnya diperkenalkan ke publik di Jonggol, Kabupaten Bogor, pada November 2025 di bawah bendera PT Inti Sinergi Formula.
Tim risetnya sempat mencoba tebu, singkong, dan mikroalga sebagai bahan baku, namun jerami padi terbukti paling efisien dari sisi biaya produksi karena ketersediaannya melimpah di seluruh sentra pertanian Indonesia.
Hasil uji Lembaga Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM pada April 2026 mencatat angka oktan riset atau RON 98,1 untuk varian bensinnya menggunakan metode ASTM D 2699-19e1. Capaian tersebut membuat Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM meminta Bobibos fokus mengembangkan lini bensin terlebih dahulu.
Karena bahan bakunya berasal dari zat organik tumbuhan, pembakaran Bobibos diklaim nyaris tidak menyisakan emisi gas buang, sehingga menjadi alternatif yang jauh lebih bersih dibanding bahan bakar berbasis fosil.
Dampak ekonominya menyentuh langsung petani padi. Satu hektare sawah yang menghasilkan sekitar sembilan ton jerami diklaim mampu diolah menjadi sekitar tiga ribu liter Bobibos, mengubah limbah pertanian yang tadinya hanya dibakar menjadi komoditas baru bernilai jual.
Skala dampaknya bahkan sudah menembus batas negara di mana PT Inti Sinergi Formula menjalin kerja sama dengan Timor Agranova SA untuk mengembangkan dan memproduksi massal Bobibos di Timor Leste. Sekaligus menjadikan Bobibos sebagai salah satu inovasi energi nabati Indonesia pertama yang diminati pasar regional.
Uji coba lapangan pun telah dilakukan pada berbagai jenis kendaraan, dari sepeda motor Honda BeAT hingga truk bermesin diesel Nissan Navara. Bahkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut mencobanya langsung pada traktor diesel di Lembur Pakuan dengan hasil tarikan mesin yang lebih ringan dan asap buang yang lebih bersih.
BBM dari sampah
Sementara Bobibos menjawab persoalan limbah pertanian menjadi BBM, inovasi dari Banjarnegara, Jawa Tengah, menjawab persoalan yang jauh lebih mendesak bagi pemerintah: krisis sampah plastik. Kementerian Lingkungan Hidup mencatat sampah plastik mencapai 5,4 juta ton per tahun, dengan sekitar seperlima di antaranya berakhir mencemari laut.
Penanganan sampah juga menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo untuk diselesaikan. Komitmen Presiden itu pun bisa bertemu dengan inovasi teknologi bernama Faspol 5.0 buatan Bank Sampah Banjarnegara (BSB) yang memberi solusi sudah teruji di lapangan, bukan sekadar wacana laboratorium.
Ditemukan oleh Budi Trisno Aji sejak 2019 dan kini memasuki generasi kelima, mesin fast pyrolysis ini mengubah sampah plastik jenis kresek, kemasan mi instan, dan styrofoam menjadi bahan bakar bernama Petasol melalui proses pemanasan tanpa oksigen yang ditambah katalis dan teknologi plasma.
Setiap lima puluh kilogram sampah plastik yang diolah menghasilkan sekitar tiga puluh liter bahan bakar setara solar, sepuluh liter setara bensin, dan lima liter minyak tanah. Mesin berkapasitas lebih besar mampu mengolah dua ratus kilogram sampah menjadi seratus tujuh puluh hingga seratus delapan puluh liter Petasol dalam sekali produksi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional turut mendampingi pengujian sejak 2022 dan hasilnya telah diverifikasi Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi Lemigas, sehingga kualitas bahan bakarnya diakui setara Pertamax untuk jenis bensin dan mendekati Pertamina Dexlite untuk jenis solar.
Petasol ini bukan proyek penelitian, tapi pemanfaatannya sudah terbukti di tingkat akar rumput. Warga Desa Kasilib, Kecamatan Wanadadi, tempat teknologi ini lahir, telah menggunakan Petasol untuk menggerakkan mesin pertanian dan kendaraan bermotor sehari-hari, dan sejumlah warga bahkan mengaku tidak lagi perlu membeli bahan bakar dari pengecer.
Replikasi teknologi ini pun meluas dengan lebih dari lima puluh dua mitra di berbagai daerah, termasuk luar Pulau Jawa, telah mengadopsi mesin serupa. Salah satunya sebuah desa di Kudus yang sejak 2022 mengoperasikan mesin pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar bagi kebutuhan warganya sendiri.
Dua inovasi bahan bakar yang berasal dari sawah dan dari tempat sampah itu menunjukkan bahwa hilirisasi energi berbasis limbah bisa berjalan beriringan dengan agenda besar Presiden Prabowo. Yaitu mengurangi impor bahan bakar minyak sekaligus menuntaskan persoalan sampah dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Pewarta: Aditya Ramadhan
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026