Inflasi Agustus 2026 Kabupaten Karo tercatat 2,40 Persen, ikan dencis dan tomat beri andil - ANTARA News Sumatera Utara
Karo (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 2,40 persen pada Agustus 2026, dengan kenaikan harga ikan dencis, emas perhiasan, tomat, dan sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang utama.
Kepala BPS Kabupaten Karo Oliver Bobby Reynold Simarmata yang ditemui ANTARA di kantor BPS Karo Kabanjahe, Rabu (2/9), mengatakan inflasi tahunan tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 110,79 pada Agustus 2025 menjadi 113,45 pada Agustus 2026.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Kabupaten Karo Nomor 11/09/1211/Th. III tanggal 1 September 2026, inflasi Kabupaten Karo secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,25 persen.
Sementara secara tahun berjalan (year-to-date/y-to-d), inflasi Kabupaten Karo sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 2,02 persen.
Oliver mengatakan tekanan inflasi tahunan terjadi karena kenaikan harga pada 10 dari 11 kelompok pengeluaran rumah tangga.
"Sepuluh kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan harga secara tahunan, yakni kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 6,08 persen; informasi, komunikasi dan jasa keuangan 4,45 persen; pakaian dan alas kaki 3,81 persen; rekreasi, olahraga dan budaya 2,45 persen; serta perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,43 persen," ujarnya.
Selanjutnya, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami kenaikan sebesar 2,39 persen, pendidikan 2,37 persen, transportasi 1,87 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 1,65 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,91 persen.
Adapun satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan harga adalah kelompok kesehatan dengan deflasi sebesar 0,99 persen.
Dari sisi komoditas, ikan dencis menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar dengan andil 0,38 persen, diikuti emas perhiasan 0,33 persen, tomat 0,29 persen, daging ayam ras 0,27 persen, cabai rawit 0,22 persen, minyak goreng 0,19 persen, tembakau 0,13 persen, dan telepon seluler 0,12 persen.
Komoditas lainnya yang turut memberikan andil inflasi tahunan yakni ikan kembung/gembung/banyar/gembolo/aso-aso sebesar 0,11 persen, udang basah 0,10 persen, ikan mas 0,09 persen, bensin dan ikan tongkol/ambu-ambu masing-masing 0,07 persen.
Kemudian apel, biaya pemeliharaan/ service, dan biaya sekolah dasar masing-masing memberikan andil 0,06 persen; sigaret putih mesin, sepatu anak, dan daging sapi masing-masing 0,05 persen; serta sigaret kretek tangan sebesar 0,04 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas turut menahan laju inflasi tahunan. Bawang merah memberikan andil deflasi terbesar, yakni 1,07 persen, diikuti kacang panjang 0,12 persen, sawi hijau 0,06 persen, telur ayam ras dan kentang masing-masing 0,04 persen.
Selanjutnya, buncis dan obat gosok masing-masing memberikan andil deflasi 0,03 persen, sedangkan beras, sawi putih/pecay/pitsai, sabun mandi, kol putih/kubis, labu siam/jipang, dan brokoli masing-masing sebesar 0,02 persen.
Untuk inflasi bulanan Agustus 2026, kenaikan harga daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,22 persen. Berikutnya cabai rawit sebesar 0,13 persen dan beras 0,07 persen.
Komoditas buncis, ikan kembung/
gembung/banyar/gembolo/aso-aso, dan bakso siap santap masing-masing memberikan andil 0,04 persen, sedangkan sigaret putih mesin dan semen masing-masing 0,03 persen.
Sementara itu, penurunan harga tomat dan bawang putih masing-masing sebesar 0,12 persen menjadi faktor yang menahan inflasi bulanan. Penurunan juga terjadi pada bawang merah dan cabai merah masing-masing 0,09 persen, kelapa 0,05 persen, sawi hijau 0,04 persen, serta labu siam/jipang dan brokoli masing-masing 0,02 persen.
"Secara umum perkembangan harga berbagai komoditas pada Agustus 2026 menunjukkan adanya kenaikan, namun masih terkendali. Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok perawatan pribadi, informasi dan komunikasi, serta bahan pangan strategis," kata Oliver.
Ia mengatakan penurunan harga pada kelompok kesehatan serta sejumlah komoditas pangan, seperti bawang merah dan berbagai jenis sayuran, turut membantu menahan laju inflasi agar tidak lebih tinggi.
Oliver menambahkan kelompok makanan, minuman dan tembakau masih menjadi penyumbang andil inflasi tahunan terbesar, yakni 1,15 persen. Kondisi itu dipengaruhi bobot kelompok tersebut yang cukup besar dalam keranjang konsumsi masyarakat Kabupaten Karo.
"Selain itu ada juga kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,32 persen, serta kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,21 persen," katanya.
Menurut mantan Kepala BPS Padang Lawas ini, keseimbangan antara kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran dan penurunan harga pada sejumlah komoditas strategis membuat laju inflasi Kabupaten Karo hingga akhir Agustus 2026 masih berada dalam kondisi terkendali. "Masih dalam kategori aman," ucapnya .
Pewarta: Ade Friadi
Editor : Juraidi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.