Indonesia-Mongolia memperkuat kemitraan di tengah 70 tahun hubungan
Ulan Bator (ANTARA) - Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun menegaskan bahwa Indonesia dan Mongolia memperkuat kemitraan dalam peringatan 70 tahun hubungan diplomatik.
"Saat kita merayakan 70 tahun hubungan diplomatik, ada banyak hal yang dapat kita nantikan di masa depan. Kerja sama yang lebih kuat antara Indonesia dan Mongolia menjadi sangat penting dan semangat ketangguhan harus diwujudkan dalam tindakan nyata," kata Dubes Djauhari dalam resepsi diplomatik di Ulan Bator, Mongolia, pada Selasa (29/9).
Resepsi diplomatik tersebut diadakan sebagai peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 RI sekaligus 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Mongolia. Mongolia dan Indonesia menjalin hubungan diplomatik sejak 21 Desember 1956.
"Mongolia adalah tempat di mana tanah menunjukkan ketangguhan, di mana angin bertiup kencang melintasi padang rumput, dan di mana embusan angin musim dingin menguji batas ketahanan kita. Oleh karena itu, membuka pintu bisa menjadi penentu," papar Djauhari.
Peringatan 70 tahun hubungan diplomatik, menurut dia, membawa semangat yang melambangkan persahabatan dan ketangguhan kedua negara.
"Ini juga merupakan kesempatan untuk memperdalam dan memperkuat kemitraan kita di masa mendatang, terutama saat kita menghadapi lanskap global yang semakin kompleks karena konflik masih terus terjadi, proteksionisme kian meningkat, rantai pasok mengalami gangguan dan ketahanan energi maupun pangan menjadi beban berat bagi banyak negara," jelasnya.
Dengan kondisi itu, kemitraan Indonesia-Mongolia, lanjut sang dubes, bukan lagi sekadar pilihan.
Saat kita merayakan 70 tahun hubungan diplomatik, Dubes Djauhari menyebut bahwa ada banyak hal yang dapat kita nantikan di masa depan.
"Kerja sama politik kita telah berkembang pesat, sebagaimana tercermin dalam pertemuan para menteri luar negeri tahun lalu dan konsultasi bilateral awal tahun ini," ucapnya.
Di sektor ekonomi, total perdagangan pada 2025 adalah sebesar 56,6 juta dolar AS, yang didominasi oleh ekspor Indonesia sebesar 49,5 juta dolar AS. Sementara itu, impor Indonesia dari Mongolia hanya sebesar 6,5 juta dolar AS.
Pertama, adalah pembelajaran kelembagaan, kedua negara dapat saling belajar dari pengalaman masing-masing dalam hal tata kelola, hilirisasi, dan keberlanjutan.
"Kedua, pendidikan. Tahun ini, program beasiswa Dharma Siswa dan KNB dari Indonesia memberikan prioritas khusus bagi Mongolia. Kami siap menyambut dan memfasilitasi partisipasi yang lebih luas dari para pelajar Mongolia," tambahnya
Ketiga, pariwisata dan hubungan budaya karena baik kepulauan Indonesia hingga wilayah Mongolia, kedua negara menawarkan pengalaman luar biasa bagi dunia.
"Selain itu, kita juga dapat memperluas kerja sama melalui ekosistem halal, pertukaran kuliner, dan program pariwisata. Mari kita biarkan para kreator digital saling menceritakan kisah satu sama lain," ujar Dubes Djauhari.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Mongolia Amartuvshin Gombosuren yang juga hadir dalam resepsi diplomatik itu mengatakan hubungan dan kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara, termasuk dengan Indonesia menempati posisi penting dalam kebijakan luar negeri Mongolia.
"Dalam hal ini, kami memandang Indonesia sebagai mitra utama di Asia Tenggara dan tetap berkomitmen untuk memperluas serta memperkuat kerja sama perdagangan dan ekonomi antara kedua negara," kata Amartuvshin.
Amartuvshin juga menegaskan komitmen Mongolia untuk memajukan tujuan kebijakan luar negerinya di Asia Tenggara dengan mendorong kerja sama yang saling menguntungkan dengan Indonesia di berbagai bidang, termasuk politik, perdagangan dan investasi, pertanian, pariwisata, serta kebudayaan.
"Saya gembira melihat hubungan Mongolia–Indonesia terus berkembang dengan stabil, ditandai oleh kunjungan tingkat tinggi secara timbal balik yang rutin, dukungan timbal balik di tingkat regional dan internasional, serta kerja sama yang semakin erat dan substantif," tambahnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih atas keterlibatan Indonesia dalam hubungan kedua negara, kerja sama erat dalam organisasi regional dan internasional, serta peran Indonesia dalam memperkuat hubungan Mongolia dengan ASEAN.
Mongolia dan Indonesia diketahui juga pernah melakukan kunjungan tingkat tinggi antar pemimpin kedua negara. Presiden Mongolia Punsalmaagiin Ochirbat pada 1997 pernah mengunjungi Indonesia disusul Presiden Natsagiin Bagabandi pada 2005. Selain itu, ada juga kunjungan Perdana Menteri Nambaryn Enkhbayar (2002) dan PM Sükhbaataryn Batbold (2011).
Tercatat tiga Presiden Indonesia juga pernah mengunjungi Mongolia yaitu Soekarno (1956), Megawati Soekarnoputri (2003) dan Susilo Bambang Yudhoyono (2012), serta masih ada juga kunjungan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 2016. Kedua negara mengadakan pertemuan Komisi Bersama di Jakarta pada 2015, konsultasi antarkementerian luar negeri pada 2019 dan secara daring pada 2022 serta konsultasi politik pada 26 Februari 2026 di Jakarta.
Pewarta : Desca Lidya Natalia
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026