gop-crypto.vip

Indonesia Cetak 1,26 Juta Sarjana per Tahun, tetapi 1,3 Juta Lulusan Perguruan Tinggi Menganggur

Selasa, 13 Oktober 2026 - 05:40 WIB

Jakarta, VIVA – Indonesia menghadapi tantangan dalam menyerap tenaga kerja terdidik. Setiap tahun, perguruan tinggi meluluskan jutaan sarjana, tetapi sebagian lulusan masih kesulitan mendapatkan pekerjaan, terutama pekerjaan formal yang sesuai dengan kualifikasi mereka.

Baca Juga

Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) mencatat perguruan tinggi menghasilkan sekitar 1,26 juta sarjana per tahun pada 2025. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 1,3 juta lulusan perguruan tinggi yang menganggur per Mei 2026. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 14,3 persen dari total pengangguran terbuka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tingginya jumlah lulusan tidak serta-merta diikuti ketersediaan lapangan kerja yang memadai. Persaingan semakin menantang ketika perusahaan turut mensyaratkan pengalaman kerja bagi pelamar, termasuk untuk posisi yang ditujukan kepada lulusan baru atau fresh graduate.

Baca Juga

Akibatnya, lulusan baru menghadapi situasi yang tidak mudah. Mereka dituntut memiliki pengalaman untuk bisa diterima bekerja, sementara kesempatan mendapatkan pengalaman tersebut juga terbatas.

Magang, menjadi salah satu cara yang digunakan untuk menjembatani kebutuhan perusahaan dan kesiapan lulusan. Namun, program ini memiliki batasan karena berlangsung dalam periode tertentu dan tidak selalu berujung pada pekerjaan tetap.

Baca Juga

Salah satu program yang berjalan yakni Magang Nasional. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, sebanyak 102.696 peserta mengikuti program tersebut pada pelaksanaan pertama sepanjang 2025, melampaui target awal 100.000 peserta. Pada tahun kedua, program ini menargetkan 150.000 peserta.

Data Kemnaker menunjukkan sekitar 30 persen peserta program sebelumnya mendapatkan tawaran pekerjaan setelah magang berakhir. Sementara itu, sekitar 34 persen belum menerima tawaran resmi, meski terdapat indikasi atau peluang untuk bekerja. Adapun 36 persen peserta lainnya belum mendapatkan tawaran kerja.

Dari peserta yang memperoleh tawaran pekerjaan, sektor keuangan menyerap 23,4 persen, diikuti perdagangan besar sebesar 17,9 persen, manufaktur 16,5 persen, dan kesehatan 10,3 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Angka tersebut menunjukkan bahwa pengalaman magang dapat membuka peluang kerja bagi sebagian peserta, tetapi belum menjamin seluruh peserta terserap ke dunia kerja setelah program selesai.

Di sisi lain, perluasan program magang juga perlu dibarengi pengawasan agar tidak menjadi pengganti tenaga kerja formal. “Pemagangan bukan untuk menggantikan pekerja dengan tenaga murah,” kata Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, beberapa waktu lalu. 

Halaman Selanjutnya

Dengan jumlah lulusan perguruan tinggi yang mencapai 1,26 juta orang per tahun dan 1,3 juta lulusan masih menganggur per Mei 2026, persaingan memasuki pasar kerja menjadi salah satu tantangan yang dihadapi para pencari kerja berpendidikan tinggi. Di tengah kondisi tersebut, program magang menjadi salah satu jalur yang dapat ditempuh lulusan baru untuk memperoleh pengalaman kerja, dan terserap industri. (Ant)